Oleh : Fathur Rohman, S.Pd.I
Kita hari ini hidup di zaman keterbukaan informasi. Akan tetapi, kebebasan sering disalah artikan sebagai kebebasan mutlak tanpa tanggung jawab. Sehingga Fenomena yang terjadi disekitar kita saat ini adalah banyaknya kasus penyebaran ujaran kebencian, budaya saling mengolok-olok dan meredakan di media social, banyaknya kasus perundungan diinstitusi pendidikan, berkurangnya empati terhadap dhuafa serta budaya hedonisme yang meningkat. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang muslim adalah yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Momen Ramadan ini mengajarkan kepada kita untuk bijak dalama penggunaan media digital. Jika masyarakat merasa tidak aman dari lisan dan tangan kita, termasuk jari-jari kita di media social, maka adab sedang mengalami krisis. Ramadan hadir sebagai terapi sosial. Ia melatih pengendalian diri, empati, dan tanggung jawab moral.
Pendidikan Karakter di Sekolah melalui Ramadan
Sekolah adalah institusi Pendidikan yang memiliki peran strategis untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum perubahan karakter dan sosial. Ada beberapa program yang bisa diaplikasikan pada momen Ramadhan disekolah ;
1. Gerakan Literasi al Qur’an (GeliQu)
Meningkatkan budaya membaca dan memahami Al-Qur’an, tidak hanya hanya tilawah tetapi juga mempelajari ilmu-ilmu alquran.
2. Program Sedekah Kolektif
Melibatkan siswa dalam gerakan infaq dan sedekah secara kolektif untuk menubuhkan empati dan peduli siswa terhadap dhuafa
3. Kampanye Etika Digital
Mengajarkan kepada siswa untuk bijak dalam menggunakan media social karena dengan tidak adanya etika dalam penggunaan media social maka akan berdampak dengan hukum pidana
4. Damai dan Saling Memaafkan
Menjadikan Ramadan sebagai waktu memperbaiki hubungan antar siswa dan guru. Karena generasi yang beradab tidak lahir secara instan, tetapi dibentuk melalui pembiasaan saling maaf dan memaafkan.
Mari kita jadikan Ramadan kali ini menjadi bulan taubat secara serius, sehingaa akan terasa dampaknya, ayakni:
- Kejujuran Meningkat
Orang takut berbuat curang, tidak membully, tidak menggibah dan tidak merendakan orang lain karena sadar Allah selalu mengawasi.
- Solidaritas Sosial Menguat
Melalui Ramadhan terbentuknya bangunan solidaritas, rasa kebersamaan, kepedulian, dan persaudaraan yang tumbuh dari iman dan diwujudkan melalui amal. Sehingga ada infaq, sedekah dan zakat
- Budaya Saling Menghormati
Puasa, sebagai ibadah yang dilakukan oleh umat Muslim, dapat menjadi momen untuk memperkuat toleransi antarumat beragama. Sikap saling menghormati dan memahami perbedaan keyakinan menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan yang damai dan kondusif.
- Kepemimpinan yang beradab
Pemimpin yang bertakwa akan memprioritaskan kesejahteraan dan keadilan. Sejarah membuktikan, peradaban Islam mencapai puncaknya ketika moralitas menjadi fondasi utamanya.*
*) Kepala SMP Islam Terpadi Insan Kamil Sidoarjo






