• Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Contact
Selasa, 20 Januari 2026
No Result
View All Result
e-paper
Radar Jatim
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
No Result
View All Result
Radar Jatim
No Result
View All Result
Home Sastra/Budaya

Puisi dan Kemerdekaan bagi Stella

by Radar Jatim
2 Februari 2022
in Sastra/Budaya
0
Puisi dan Kemerdekaan bagi Stella

Stella (depan, tengah, jilbab biru) bersama para pegiat sasta dan komunitas disabilitas di Jombang.

280
VIEWS

Oleh DEWI MUSDALIFAH

Namanya Stella Rosita Anggraini. Gadis mungil ini dipertemukan Tuhan dengan saya sekitar tahun 2018 silam. Saat itu dia datang dari Kabupaten Jombang mengikuti program “Ayo Inklusif!” yang didanai oleh USAID (United States Agency for International Development). Stella dititipkan oleh founder Sekolah Menulis Inspirasi, tempat dia magang, kepada saya untuk belajar menulis puisi. 

Stella berniat menulis puisi dan menerbitkannya menjadi sebuah buku. Namun, waktu itu ada kebutuhan lain yang saya pikirkan dari sekadar menerbitkan buku. 

Stella seorang disabel tuna daksa, yang sejak kecil tidak pernah menikmati pelukan ibu, bahkan ketika masih bayi sekalipun. Kedua orang tuanya berpisah. Ibunya tidak bisa menerima kelahiran Stella yang memiliki kekurangan. Stella pun merasa terbuang. Luka itu mengendap sangat dalam pada dirinya. Maka, menulis menjadi semacam proses terapi bagi Stella. 

Di antara dialog kami tentang puisi, saya memastikan komitmennya untuk serius menulis dengan konsekuensi akan membuka luka dan menelusuri rasa sakit yang hadir di tengah-tengah menulis. Stella bersedia. Maka perjuangan pun dimulai. Hampir setiap hari tiada absen, air mata mengalir mengiringi bait demi bait tentang pengalaman batinnya.

Dia melakukan perjumpaan dengan dirinya sendiri dalam pengalaman hidup di dalam sukma. Seperti ungkapan yang ditulisnya, yang kemudian termaktub di buku berjudul Terbuang Tetap Sayang, 2018.

Aku terlahir tanpa pelukan/ Rimbun sampah pinggir jalan/ Tangis membabi buta/ Mencari peraduan/ Terbujur kaku/ Tubuhmu tak ada di sampingku/ Meleleh mata membasahi jiwa/ Sisa luka untuk anakmu/..

Kini, Stella  tumbuh dengan pengetahuan lebih tinggi, bahkan menjadi sosok yang inspiratif bagi lingkungan sekitarnya. Suara lantangnya mewakili teman-teman disabilitas, kemudian menjadikannya founder di komunitas “Kelas Volunteer Disabel Jombang,” dan terpilih di program sekolah GRADIASI—Gerakan Advokasi Indonesia Inkusif.

Tahun ini, gadis cantik yang telah beranjak dewasa itu kembali menemui saya dengan membawa beberapa puisi yang ingin dihimpunnya dalam buku puisi kedua. Saya mulai mempelajari puisi-puisinya. Tetapi, betapa terkejut saya. Di dalam kumpulan puisi Stella tersebar puisi saya, hampir 14 baris. Rupanya Stella tidak paham, bahwa mengambil kata dari puisi orang lain –meskipun sedikit– tetaplah sebuah plagiasi. Maka, saya memutuskan untuk meminta Stella kembali mengulang menulis puisi-puisinya. 

Kejadian proses menulis puisi di tahun 2018 terulang kembali, setiap hari Stella berjibaku menuliskan kembali puisi-puisinya dengan lebih “bersih” dan jujur. Stella bekerja keras menemui dan menemukan kata untuk mengekspresikan isi pikiran dan perasaan, menciptakan momen puitiknya.

Dan, terkumpullah puisi-puisi dengan tema beragam dan bahasa lebih matang, dengan tujuan memberikan inspirasi dan sekaligus penyeimbang bagi jiwa mudanya. Buku kedua ini diberi judul Sajak Sehat, sebagai representasi dari perlawanannya terhadap stigma, bahwa kaum disabilitas adalah kaum kedua yang suaranya tidak mendapat tempat di dalam masyarakat. 

Namun, sesungguhnya sebagai sebuah karya sastra, Sajak Sehat  membebaskan diri dari pandangan apakah puisi ini ditulis oleh seseorang normal atau disabilitas. Karya sastra utamanya puisi selalu bebas dinikmati pembaca dari pilihan diksi yang berasal dari kepekaan penyairnya saat menemukan estetika (keindahan, sublimasi, pengalaman inderawi) yang tercipta dalam untaian kata. 

Tengok judul-judul puisinya: Cinta Lolipop, Merakit Mimpi, Ilmu, Selempang Bakti, Sajak Sehat, Menjeda Doa, Tak Semanis Jambu dan Seterusnya, betapa menyiratkan pertemuannya dengan pengetahuan, rasa-pirasa, bahasa tubuh, dari berbagai perjalanan hidupnya. 

Meski di beberapa puisi Stella masih terdapat bahasa konseptual dan kata yang sering digunakan dalam aktivitas pergerakan di komunitas disabilitas, namun sudah berkembang lebih estetis. Seperti puisinya yang berjudul Bergerak berikut:

Menghalau dingin/ Dari jendela kamar/ Suara samar memecah fajar/ tebak lah doa doa/ Melewati rumput hijau Sang Maha Hidup/ Cita-cita luhur musim semi. Ratapan tentang kehadirannya yang sering dipandang minoritas pun dia tulis dengan lembut : Kota padat cakap/ Prasangka sebatas pandang/ Aku minoritas dibilang/ Laku cacat/ Bias pikiran/ Lekat ruang terbatas/ Kelopak-kelopak hidup/ Redup di bahu bahasa. 

Dalam bukunya yang kedua ini, kami ingin puisi-puisi Stella bisa disebut karya sastra berbentuk puisi yang layak, maka kami meminta bantuan Timur Budi Raja, penyair yang telah menerbitkan banyak buku puisi untuk menjadi mentor bagi Stella. 

Buku ini kemudian di-launching pada 29 Januari 2022 di Rumah Merdeka Jombang. Perhelatan ini dihadiri sejumlah guru dan siswa sekolah disabilitas, pemerhati dan relawan disabilitas, dan penggerak literasi di kota Jombang. 

Saya hadir dalam kegiatan tersebut sebagai apresiator dan saksi pergulatan Stella mewujudkan mimpinya menjadi penulis. Kedatangan saya di Rumah Merdeka sekaligus belajar banyak dari rumah sederhana yang ditinggali sepasang seniman  Pinut dan Alfan yang ramah dan penuh dedikasi. Keduanya berangkat dari relawan pemerhati anak terdampak bencana dengan nama komunitas Balada Nusantara. 

Rumah Merdeka adalah hunian yang disulap menjadi ruang publik, tempat muara bagi banyak aktivitas positif. Aktivitas gerakan bermula dari kegiatan kepedulian terhadap anak yang dihelat 2 minggu sekali, dengan dongeng, pantomim dan permainan anak-anak yang memerdekakan. Sejak tahun 2019, rumah pasangan muda ini menjadi rumah singgah, ruang diskusi dan kedai yang memiliki hidangan minuman khas yaitu aneka wedang. Dan saya beruntung mendapat oleh-oleh sejumlah rudekacraft serta wedang uwuh dan teh telang. 

Di Rumah Merdeka inilah, saya tidak hanya disambut oleh komunitas volunteer disabilitas Jombang, namun juga dihantar energi yang hangat di setiap sudut yang dipenuhi berbagai aktivitas di Rumah Merdeka Jombang.

Ah, alangkah indahnya, menemukan sekumpulan orang yang perduli terhadap hidup, bukan saja hidupnya sendiri tetapi juga hidup orang lain. Di sudut kota yang semakin beranjak modern, selalu ada tempat bagi kemanusiaan yang berjalan di atas rel kebaikan.

Terima kasih, Stella. Kau telah membuka ruang bagi saya untuk bertemu dengan orang-orang baik. (*)

*) DEWI MUSDALIFAH; Pegiat literasi dan penggerak sastra/budaya, tinggal di Gresik, Jawa Timur.

Tags: dewi musdalifahJombangKemerdekaanPuisiStella Rosita Anggraini

Related Posts

Awali Tahun 2026, MTs Negeri 4 Sidoarjo Luncurkan Buku ‘Melangitkan Doa Mengapresiasi Karya’

Awali Tahun 2026, MTs Negeri 4 Sidoarjo Luncurkan Buku ‘Melangitkan Doa Mengapresiasi Karya’

by Radar Jatim
6 Januari 2026
0

SIDOARJO (RadarJatim.id) -- Bentuk komitmen...

Siswa SMP PGRI 9 Sidoarjo Juga Piawai Dalam Kompetisi Musikalisasi Puisi  

Siswa SMP PGRI 9 Sidoarjo Juga Piawai Dalam Kompetisi Musikalisasi Puisi  

by Radar Jatim
3 Desember 2025
0

SIDOARJO (RadarJatim.id) -- Siswa-siswa SMP...

Upacara 17 Agustus SMP-SMA ICM BS Sidoarjo Juga Lestarikan Budaya Nusantara

Upacara 17 Agustus SMP-SMA ICM BS Sidoarjo Juga Lestarikan Budaya Nusantara

by Radar Jatim
17 Agustus 2025
0

SIDOARJO (RadarJatim.id) -- Upacara peringatan...

Load More
Next Post
Peringati Hari Jadi Sidoarjo ke 163  Siswa SMA Islam Perlaungan Kirim Kado ke Bupati dan Wakil Bupati Sidoarjo

Peringati Hari Jadi Sidoarjo ke 163 Siswa SMA Islam Perlaungan Kirim Kado ke Bupati dan Wakil Bupati Sidoarjo

Radar Jatim Video Update

Berita Populer

  • Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Soft Launching KM Dharma Kencana V, Fasilitas Mewah Berkapasitas 1.400 Penumpang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ribuan Warga Doakan Keluarga Besar SMK Antartika 2 Sidoarjo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Analisis Semantik Puisi ‘Aku Ingin’ Karya Sapardi Djoko Damono

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kampus yang Tak Lagi Dihuni Intelek: Mengapa Dosen Mencari Eksistensi Diri di Luar Kampus?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Radar Jatim adalah media online Jatim yang memberikan informasi peristiwa dan berita Jawa Timur dan Surabaya terkini dan terbaru.

Kategori

  • Artikel dan Opini
  • Ekonomi Bisnis
  • Ekosistem Lingkungan
  • Esai/Kolom
  • Feature
  • Finance
  • HAM
  • Hukum dan Kriminal
  • Infrastruktur
  • Kamtibmas
  • Kemenkumham
  • Kesehatan
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Lain-lain
  • Layanan Publik
  • Lifestyle
  • Literasi
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Ormas
  • Otomotif
  • Pariwisata
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pertanian
  • pinggiran
  • Politik
  • Religi
  • Sastra/Budaya
  • Sosial
  • Tekno
  • TNI
  • TNI-Polri
  • video
  • Wisata

Kami Juga Hadir Disini

© 2020 radarjatim.id
Susunan Redaksi ∣ Pedoman Media Siber ∣ Karir

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum dan Kriminal
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Tekno
  • Ekonomi Bisnis
  • Artikel dan Opini

© 2020radarjatim.id

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In