LUMAJANG (Radarjatim.id) – Korban letusan Gunung Semeru Desember lalu, bukan hanya para pengungsi yang rumah dan lahannya hancur dilanda lahar. Masih banyak pihak lain yang turut terdampak secara tidak langsung. Dan agaknya mereka kurang terperhatikan. Maka ada baiknya sumbangan dari relawan juga menjangkau mereka, demi untuk turut mengurangi beban kesulitannya.
DPP Inkindo Jawa Timur bekerja sama dengan DPP Intakindo Jawa Timur dan jemaah Masjid Al Maghfirah Rungkut Asri Surabaya, Minggu (10/4) kemarin mengadakan bakti sosial Ramadan ke Lumajang. Kali ini menyasar kelompok korban di luar “mainstream” yang perlu disantuni tersebut.
Sebanyak 500 paket sembako dikirim ke lokasi. Setiap paket berisi beras, minyak goreng, gula, kopi, biskuit kaleng, dan mie instansi. Tiga titik sasarannya adalah Desa Sumbermujur, Desa Sumberwuluh, dan Desa Sumberlangsep, Kecamatan Candipuro, Lumajang.
Menurut Dra. Mimik Lestari, Koordinator Posko Peduli Semeru Ikatan Alumni FISIP Universitas Airlangga, tercatat ada 275 orang petani penggarap yang kehilangan pekerjaan. Pasalnya, hamparan lahan milik perhutani di Sumbermujur, yang selama puluhan tahun digarap warga, kini dialihfungsikan untuk lahan relokasi atau rumah hunian para korban letusan Semeru.
“Orang sini menyebut petani penggarap itu dengan istilah pengomplang. Bukan pengemplang, lho. Sedang tanah yang digarap namanya komplangan. Sedikitnya ada 275 pengomplang yang terdampak. Kita perlu membantunya, sebab mereka kehilangan pekerjaan. Apalagi sekarang, setidaknya selama dua tahun ke depan, pengambilan pasir juga dilarang. Jadi kalau ada kiriman bantuan, kami sarankan sebagian paketnya diberikan kepada mereka,” kata Ketua Departemen Kebencanaan PP IKA Unair itu memberi masukan.
Tukimin, seorang pengomplang, mengatakan bahwa dulu dirinya beserta ratusan warga desanya sehari-hari bekerja membudayakan tanaman kopi, menanam kubis, jagung dan lainnya. Mereka mengerjakan lahan tersebut dengan kompensasi bersedia menjaga kelestarian tanaman hutan dan pohon cengkih.
“Orang tua saja kerja di komplangan sudah 25 tahun. Lalu saya melanjutkan garapannya ibu saya. Sekarang tidak tahu mau kerja apa nanti,” katanya kepada Radarjatim.id.
Bantuan INKINDO-INTAKINDO dan Masjid Al-Maghfirah juga diberikan kepada pengungsi yang tinggal di rumah hunian sementara (huntara) mandiri di Dusun Ponco Sumo, Desa Sumberwuluh. Di tempat ini ada 22 huntara yang dihuni 24 KK.
Satu lagi yang perlu mendapat perhatian adalah warga Desa Sumberlangsep. Daerah ini sebenarnya aman dari terjangan erupsi, tetapi menjadi desa terisolasi gara-gara jembatan yang menghubungkan desa mereka dengan daerah luar terputus.
“Mereka sangat membutuhkan uluran tangan. Beberapa waktu lalu kami mengirim bantuan selimut. Kami sempat berjanji kepada mereka, kalau ada rezeki lagi akan dibawa kemari. Mereka tampak senang dan sangat berharap. Syukurlah hari ini benar-benar datang rezeki. Jadi, saya sarankan 125 paket untuk didrop ke Sumberlangsep,” kata Mimik.
Sedianya bantuan akan dikirim sendiri oleh rombongan ke rumah sasaran. Tetapi mengingat cuaca kurang mendukung. Ada info dari Sekdes Sumberwuluh, Samsul Arif, bahwa di hulu terjadi hujan dan sempat turun awan panas guguran, maka diputuskan seluruh paket bantuan yang tersisa, diturunkan di rumah Sekdes Arif. Selanjutnya Selasa lusa akan didistribusikan ke kelompok sasaran oleh tim relawan dari IKA Unair yang selalu siaga di posko Sumbermujur.
Penyampaian bantuan ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan Inkindo dan Intakindo Jatim sebelumnya berupa bantuan teknis pengukuran siteplan untuk lokasi tapak hunian relokasi korban letusan Semeru. (rio)







