SIDOARJO (RadarJatim.id) Dewan Pimpinan Wilayah Partai Amanat Nasional Jawa Timur (DPW PAN Jatim) melakukan kunjungan silaturahim ke kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Sidoarjo, Selasa (13/06/2023).
Rizki Sadiq, Ketua DPW PAN Jatim mengatakan bahwa kehadiran mereka ke PC NU Sidoarjo semata-semata-mata melakukan silaturahim, bertabayun dan berta’aruf untuk kepentingan yang lebih besar, yaitu bangsa Indonesia.
“Soal pilihan-pilihan itu adalah hak politik dari masing-masing anak bangsa,” kata Rizki Sadiq usai pertemuan dengan jajaran pengurus PC NU Sidoarjo.
Menururt Rizki Sadiq bahwa mayoritas masyarakat Sidoarjo atau 62 persennya adalah warga nahdliyin dan dari 1,4 juta warga Sidoarjo yang memiliki hak pilih, hanya sekitar 1 juta yang menggunakan hak pilihnya pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 lalu.
Itu artinya ada sekitar 600 ribu orang lebih warga nahdliyin yang menggunakan hak pilihnya pada Pemilu 2019 lalu dan tersebar ke beberapa partai politik, seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan lain-lainnya.
“Saya tadi sudah jelaskan DPT (Daftar Pemilih Tetap, red) se Kabupaten Sidoarjo itu sebesar 1,4 juta, yang menjalankan hak pilihnya pada (Pemilu, red) tahun 2019 cuma 1 juta. Perolehan PKB sekitar 300 ribu suara, PPP sekitar 20 ribu suara. Jadi masih ada suara-suara yang tidak terayomi,” terangnya.
Untuk itu, ia berharap suara-suara warga nahdliyin di Kabupaten Sidoarjo bisa masuk ke partainya dengan mengajak kader-kader NU menjadi Calon Legislatif (Caleg) PAN pada Pemilu 2024 nanti.
Karena dengan begitu warga nahdliyin akan mempunyai wakil-wakilnya di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kabupaten/kota, DPRD propinsi dan DPR RI dari PAN sehingga tidak hanya menumpuk di satu partai saja.
“Jangan cuma menitipkan suara kepada kader PAN, karena belum tentu kader PAN itu tumbuh kembang dari kalangan pesantren. Maka kami meminta kader-kader terbaik dari kalangan nahdliyin, kalangan pondok pesantrem, santri-santri, muslimat, ansor, banser dan semuanya. Monggo lewatkan kepada PAN, daripada suaranya tidak berbuah kursi (dewan, red) karena pembagian kursi dari sistem Pemilu kita itu sangat berat,” terangnya.
Menurut Rizki, kader-kader NU yang berangkat dari PAN mempunyai peluang lebih besar untuk terpilih sebagai wakil rakyat pada Pemilu Legislatif (Pileg) 2024 nanti, karena PAN menganut sistem proporsional terbuka atau suara terbanyak.
“PAN tidak mengenal sistem (proporsional, red) terbuka ataupun tertutup, karena AD/ART (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga, red) PAN itu sistem terbuka. Jadi yang terpilih sebagai anggota dewan adalah Caleg peraih suara terbanyak,” pungkasnya. (mams)







