SURABAYA (RadarJatim.id) — Banyak cara bisa dilakukan untuk memaknai Hari Kebangkitan Nasonal (Harkitnas) sehingga tidak larut dalam agenda serimonial belaka. Salah satunya, bangga dan mencintai produk dalam negeri.
“Hari Kebangkitan Nasional mengingatkan kita akan pentingnya memaknai nilai-nilai nasionalis yang sesungguhnya. Saat ini momen nasional hanya dilakukan pada saat tertentu, seperti mengikuti upacara kemerdekaan atau menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Padahal nilai nasionalis sesungguhnya bisa berupa bangga pada identitas diri mereka sebagai bangsa Indonesia,” ujar Wakil Kepala SD Al Hikmah Surabaya bidang Humas dan Kerja Sama, Mochamad Riduwan, SPd, MPd, Selasa (20/5/2025).
Hal itu disampaikan dalam merefleksi Hari Kebangkitan Nasional yang tepat jatuh pada hari ini, Selasa, 20 Mei 2025. Mencintai produk dalam negeri, katanya, merupakan sikap menghargai apa yang dimiliki oleh Indonesia. Sementara bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia adalah bentuk sesungguhnya dalam memaknai Hari Kebangkitan Nasional.
Karena itu, lanjut Riduwan, Al Hikmah sebagai institusi pendidikan mengusung pendidikan karakter, penguatan akhlak, dan pembinaan kepemimpinan sebagai dasar dari setiap proses pembelajaran. Menrut dia, Akhlak bukan sekadar mata pelajaran, tetapi menjadi atmosfer hidup yang membentuk kepribadian.
“Karakter siswa harus ditanamkan sejak dini melalui pendidikan untuk ketahan hidup mereka di masa depan,” tandasnya.
Ia menekankan, pendidikan tidak hanya menjadikan siswa cerdas secara intelektual, tetapi memiliki integritas, empati, dan nilai kebangsaan. Kepemimpinan sejati, lanjutnya, lahir dari jiwa yang tangguh, mandiri, dan berani mengambil tanggung jawab, serta mampu melayani dan menginspirasi melalui karya dan kreatifitas.
Ditambahkan, di Al Hikmah, ketangguhan dan kreativitas merupakan hal utama yang perlu ditanamkan pada siswa sejak dini. Pasalnya, kelak mereka akan menjadi generasi penerus bangsa yang tangguh untuk mengubah peradaban dan menciptakan inovasi dalam negeri.
“Kalau kita hanya menerima apa adanya, menjadi lemah dan tidak bisa menciptakan kreativitas, maka kita hanya melahirkan generasi buruh,” ujarnya.
Ia katakan, pada 1908, Hari Kebangkitan Nasional dimulai dari kaum pendidik untuk mengoordinasi teman-temannya supaya bersatu melawan penjajah dan merebut kembali Indonesia. Saat ini, juga dimotori oleh kaum pendidik untuk bersatu menanamkan karakter tangguh dan kreatif kepada generasi muda.
Dalam pandangannya, hal tersebut dapat terwujud dengan diasah melalui pengalaman nyata (life skill) dalam kurikulum pendidikan. Seperti di Al Hikmah, yang mengajak siswanya belajar tentang keragaman budaya Indonesia, membuat karya ilmiah, pelatihan kepemimpinan hingga tergabung dalam kegiatan internasional.
Nilai-nilai inilah yang menghidupkan kembali semangat kebangkitan dalam konteks masa kini, bahwa kebangkitan bangsa hanya dapat terjadi bila setiap individu memikul tanggung jawab sebagai seseorang yang berkarakter tangguh, mandiri dan siap menjadi nasionalis sesungguhnya.
“Mari kita jadikan Hari Kebangkitan Nasional sebagai ajang perenungan dan tekad dalam membangun akhlak, menumbuhkan kepemimpinan, dan menggerakkan perubahan dari sekolah, dari keluarga, dari diri kita sendiri,” pungkasnya. (rj2)







