SIDOARJO (RadarJatim.id) – Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida) dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta melalui Center for GEDSI bekerja sama dengan University of the West of England (UWE) Bristol menggelar seminar internasional di Auditorium Kampus 2 Unusida.
Seminar iternasional yang mengambil tema Developing Inclusive Policies and Practices for Greater Accessibility in Higher Education itu dihadiri oleh berbagai komunitas dan lembaga yang fokus pada isu disabilitas, penyandang disabilitas, pemerintah, akademisi, praktisi, aktivis serta masyarakat umum.
Ada sekitar 70 peserta yang hadir secara langsung dan 15 peserta secara online untuk berpartisipasi dalam seminar yang mengangkat isu tentang pentingnya aksesibilitas pendidikan tinggi bagi mahasiswa disabilitas.
Sejak Maret 2024 lalu, UNU Yogyakarta bekerjasama dengan UWE Bristol dan The British Council dalam program UK-Indonesia Disability Inclusion Partnership Program.
Program ini bertujuan mengembangkan rekomendasi kebijakan dan praktik terbaik agar penyandang disabilitas dapat mengakses pendidikan tinggi dengan dukungan kebijakan, sistem, sarana prasarana, serta proses pembelajaran yang inklusif. Memungkinkan mereka untuk mencapai potensi penuh dan menyelesaikan studinya.
Rektor Unusida, Dr. H. Fatkhul Anam mengatakan bahwa peningkatan akses pendidikan tinggi bagi penyandang disabilitas sangatlah penting, Selasa (17/6/2025) kemarin.
Berdasarkan data yang ada, hanya ada sekitar 7 persen penyandang disabilitas yang berhasil mengakses pendidikan tinggi. Untuk itu, diperlukan kebijakan afirmatif serta dukungan sistemik dari berbagai pihak.
“Di Unusida, setiap tahunnya menyediakan beasiswa khusus bagi mahasiswa difabel yang mencakup seluruh biaya pendidikan hingga lulus,” katanya.
Ditegaskan oleh Fatkhul Anam bahwa Unusida memiliki komitmen kuat dalam memberikan kesempatan yang sama bagi anak bangsa untuk mengenyam pendidikan hingga di perguruan tinggi, termasuk penyandang disabilitas.
“Ini adalah bagian dari komitmen kami untuk memastikan tidak ada yang tertinggal dalam mendapatkan hak atas pendidikan,” tegasnya.
Ia juga menegaskan bahwa bekerjasama dengan British Council ataupun dengan mitra internasional lainnya merupakan kunci dalam mewujudkan pendidikan tinggi yang benar-benar inklusif dan berdampak bagi masyarakat luas.
“Bersama British Council dan mitra internasional lainnya, kami percaya bahwa kolaborasi adalah kunci dalam mewujudkan pendidikan tinggi yang benar-benar inklusif dan berdampak bagi masyarakat luas,” terangnya.
Sementara itu, Summer Xia, Direktur British Council Indonesia menyampaikan bahwa pihaknya memberikan apresiasi terhadap terselenggaranya seminar inklusif bagi para penyandang disabilitas ini.
“Kami di British Council sangat senang mendukung kolaborasi antara UNU Yogyakarta, Unusida dan UWE melalui hibah Going Global Partnership,” sampainya.
Diungkapkan oleh Summer Xia bahwa kegiatan seminar ini menyoroti upaya bersama untuk menciptakan pendidikan tinggi yang inklusif dan dapat diakses oleh semua pihak.
“Serta menjadi ruang untuk berbagi wawasan, mengembangkan solusi dan mendorong pendidikan yang lebih berkeadilan bagi semua,” ungkapnya.
Pada seminar ini diluncurkan secara resmi website https://www.inclusivehighereducation.com/ yang dimaksudnkan untuk memberikan ruang bagi siapapun dalam mendapatkan informasi dan berdiskusi inklusifitas di dunia pendidikan tinggi. Tidak hanya di Indonesia dan Inggris saja, tapi juga di seluruh dunia.
Hal senada juga disampaikan oleh Tariq Umar, Ph.D dari UWE bahwa inklusi bukanlah sekedar strategi untuk membantu orang menyesuaikan diri dengan sistem dan struktur yang ada.
“Ini tentang mengubah keduanya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik bagi semua orang,” tuturnya.
Seminar ini dilanjutkan dengan sesi diskusi paralel yang bertemakan Peluang dan Tantangan Pendidikan Inklusif di Indonesia dengan pembicara terkemuka, diantaranya Dr. Ana Christanti, M.Pd. (Vice Rector 2 of Unusida), Dr. Suhadi Cholil, M.A (Vice Rector for Research, Innovation and Social Transformation UNU Yogyakarta) dan Soelistiyowati (Chairperson of the Indonesian Disabled Women’s Association, East Java) serta Kikin P. Tarigan S., S.P., M.M. (National Commission on Disabilities of the Republic of Indonesia)
Setelah acara seminar selesai, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) dengan 15 orang peserta undangan. FGD ini bertujuan untuk mempekuat rekomendasi dan roadmap pengurangan kesenjangan akses pendidikan dan pengarusutamaan praktik pendidikan inklusif di Indonesia.
Seminar dan FGD ini menjadi langkah penting dalam menciptakan sistem pendidikan tinggi yang lebih inklusif dan dapat diakses oleh penyandang disabilitas serta menjadi platform untuk mengembangkan kebijakan yang lebih baik di masa depan. (mams)







