SURABAYA (Radarjatim.id) – Ko Steve Konten Kreator yang handal, sarat membongkar kezaliman. Si paling rajin ungkap produk palsu, ratusan temuan, puluhan brand bereaksi. Jika ada gelar untuk kreator konten yang paling konsisten membongkar produk palsu, pantas menempati posisi teratas.
Dalam waktu singkat, ia telah mengungkap ratusan temuan produk tiruan, dari skincare, suplemen, minuman serbuk, hingga perlengkapan rumah tangga.
Istimewanya, ia melakukan semuanya sendiri, tanpa dukungan laboratorium, tanpa tim produksi besar, dan tanpa agenda tersembunyi. Ritme kerjanya nyaris seperti investigasi jurnalistik.
la membeli produk dari berbagai sumber, membandingkan isi dan efeknya, lalu mempublikasikan hasilnya ke publik, lengkap dengan visual, data perbandingan, dan analisa awam yang bisa dicerna siapa pun. Yang membedakan: ia tidak hanya membandingkan berdasarkan rasa atau aroma.
Ia benar benar menguji dari berbagai sisi: tekstur, reaksi bahan terhadap air panas, warna larutan, hingga efek fisik yang ia rasakan langsung setelah mencoba. Semua itu dilakukan tanpa settingan, tanpa gimmick, dan dengan pendekatan yang sangat konsisten.
Di setiap video, produk asli selalu ia letakkan di sebelah kanan, dan produk yang dicurigai palsu di sebelah kiri. Ia lalu mengonsumsi atau menggunakan keduanya, demi membuktikan perbedaan secara langsung.
“Biar orang tahu saya enggak cuma ngomong. Saya coba langsung,” ujar Ko Steve, dalam salah satu video, Rabu (23/07/2025)
Metode ini menempatkan Ko steve, bukan sekadar sebagai reviewer, tapi sebagai perwakilan suara konsumen. Bukan suara yang keras, tapi suara yang dipercaya. Bukan karena gelar atau jabatan, tapi karena konsistensi dan keberanian mengorbankan diri.
Hasilnya tak main main. Banyak brand besar yang mulai merespons. Beberapa menghubunginya secara langsung, bukan untuk melarang atau menggugat, tapi untuk memahami. Ada yang memperbaiki jalur distribusi setelah mengetahui, bahwa produk mereka banyak dipalsukan di marketplace.
Ada pula yang berterima kasih karena laporan konsumen yang masuk ke mereka justru meningkat setelah konten Ko Steve viral. Namun tidak semua brand bersikap positif. Ada pula yang defensif, bahkan mencoba membantah dengan menyebarkan klaim berbalik.
Tapi Ko Steve tidak pernah meladeni dengan emosi. Ia tetap konsisten pada satu hal: menyampaikan temuan berdasarkan apa yang ia lihat, rasakan, dan alami. Tanpa menyudutkan, tanpa provokasi.
Ko Steve hanya menyampaikan fakta, lalu menyerahkan kesimpulan kepada publik. Dampaknya kini terasa luas.
Di kolom komentarnya, ribuan orang membagikan pengalaman mereka yang nyaris serupa, dari anak kuliahan yang tertipu skincare palsu, hingga orang tua yang membeli vitamin untuk anak tapi ternyata produk itu tidak terregistrasi resmi.
Banyak dari mereka mengaku tidak akan tahu jika tidak menonton konten Ko Steve. Dengan ratusan produk yang telah dibongkar, dan puluhan brand yang sudah tersorot, Ko Steve menjelma menjadi semacam filter informal bagi masyarakat. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk membantu. Bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk melindungi.
Ini dilakukan tanpa pamrih, hanya dengan niat agar tidak ada lagi orang yang mengalami apa yang pernah ia dan orang-orang terdekatnya alami, menjadi korban karena tidak tahu. (R9)







