GRESIK (RadarJatim.id) — Hari-hari ini, begitu memasuki bulan Agustus, seakan menjadi momentum pesta rakyat bagi sebagian besar masyarakat di berbagai penjuru tanah air di negeri ini, tak peduli di kawasan perkotaan maupun pedesaan. Begitu pula yang mewarnai warga Perumahan Gresik Kota Baru (GKB), khususnya di Jl. Bangka, RT 02 – RW 08 Kelurahan Yosowilangun, Manyar, Gresik.
Menariknya, mereka mengadopsi istilah Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang selama ini lazim berlaku di perusahaan. Sekelompok anak muda yang terhimpun dalam Karang Taruna, ternyata terinspirasi, lalu memodifikasi menjadi Keselamatan dan Kesehatan Lomba (K2L).
K2L diterapkan dalam kegiatan lomba menyambut Hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia, mengingat perserta lomba sebagiaan telah berusia senja. Setelah melalui rapat yang dihadiri para pemuda Karang Taruna, di antaranya Mas Randi, Jagad, dan Finza, mereka menggagas sebuah lomba yang diberi nama Gol Tempeh.
Masih dengan pola lama, tidak meninggalkan tempeh (tampah) yang biasa dipergunakan untuk nginteri (memilah) gabah atau beras, sebagai media lomba. Bedanya, kali ini lomba tidak lagi meletakkan tempeh di kepala, lalu adu cepat menuju garis finish, yang menurut mereka berisiko jatuh. Apalagi, memperhatikan para pesertanya sebagian besar para lansia. Kali ini, tempeh diberi lubang di bagian tengahnya untuk mengegolkan bola.
Para peserta lomba bermain secara kelompok. Lima emak-emak dalam satu kelompok duduk berselonjor, saling mendekatkan kaki mereka yang di atasnya diletekkan tempeh (tampah) berisi 15 bola. Aturan mainnya, mereka harus bekerja sama untuk dapat memasukkan bola ke lubang yang ada di tengah tempeh.
Ibu Hindun, misalnya, dengan gembira mencoba peruntungan bersama dengan 4 ibu lain satu tim dengannya. Hasilnya, kali ini kelompok Ibu Hindun dikalahkan oleh kelompok Pak Syafiq. Ibu Atik sudah lama selalu tidak aktif, saat ada lomba yang fokus kerja sama tim ini, kali ini sangat senang dalam berpartisipasi.
“Dulu saya sempat jauh dan luar biasa sakirnya saat lomba bakiak di beberapa perayaan 17-an, sehingga trauma dan tak pernah ikut lomba lagi. Tapi kali ini, saya ikut lagi karena lombanya tidak berisiko jatuh, tapi harus konsentrasi kerja sama,” ungkap Bu Atik.
Selain menghias kampung dan aneka perayaan puncak Agustusan, ternyata pilihan lomba dengan prinsip K2L (Keselamatan dan Kesehatan Lomba) banyak menarik minat warga, baik yang sudah memasuki usia lanjut, maupun yang masih muda. Bagi mereka, yang penting senang gembira, sehat, dan aman. (*)
Kontributor: Nung Muawanah







