SURABAYA (RadarJatim.id) — Prestasi membanggakan ditorehkan salah satu kader Muhammadiyah Gresik, Jawa Timur, Isa Iskandar, SSi, MPd, dalam capaian puncak akademiknya, Jumat (9/1/2026). Di hadapan tim penguji, Isa yang Sekretaris Majelis Pustaka, Informasi, Digitalisasi (MPID) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik ini berhasil mempertahankan disertasinya dan dinyatakan lulus, serta berhak menyandang gelar Doktor pada Program Studi Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Ujian Disertasi Terbuka Isa Iskandar, dengan disertasi berjudul “Pengembangan Model iSCan-MSL (Mobile Seamless Learning) untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Ilmiah dan Metakognitif dalam Pembelajaran Fisika Kelas XI di SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik” ini, dipimpin oleh Ketua Tim Penguji yang juga Dekan FIP Unesa Prof Dr Nursalim dengan promotor Prof Dr Mustaji, MPd dan Co-Promotor Dr Andi Mariono, MPd. Dengan penuh percaya diri dan meyakinkan, Isa, sapaan akrab Isa Iskandar, mampu mempresentasikan desertasinya di hadapan para pengujinya, sehingga dinyatakan lulus dengan nilai 90,22. Gelar Isa pun kini bertambah dan menjadi Dr Isa Iskandar, SSi, MPd.
“Digitalisasi pendidikan akan terus kami kembangkan, karena sesungguhnya tantangan dunia pendidikan juga akan terus dan terus berkambang sesuai tuntutan zaman. Termasuk dalam menyikapi trend dan pesatnya perkembangan AI (Artificial Intelegence/kecerdasan buatan, Red), harus disikapi dengan bijak dan jangan gegabah. AI jangan dihindari, tetapi jadikan dia sebagai sarana dan asisten kita. Bagaimana kita bisa ber-IT sehat. AI adalah pembantu yang luar biasa, dan menariknya, dia tidak perlu kita bayar,” ujar guru SMA Muhammadiyah 10 Gresik (Smamio) ini.
Melalui riset yang dilakukan terhadap siswa kelas XI Smamio, disertasi Isa Iskandar mengkaji pengembangan model pembelajaran inovatif berbasis Mobile Seamless Learning (MSL) yang mengintegrasikan pendekatan discovery learning dalam konteks sekolah berbasis nilai ke-Islaman. Penelitian bertujuan menemukan dan menguji efektivitas model iSCan-MSL dalam meningkatkan keterampilan berpikir ilmiah dan metakognitif peserta didik. Model inilah yang oleh Co-Promotor Andi Mariono dinyatakan baru satu-satunya di dunia dan itu lahir dari kampus Para Juara, Unesa.
Isa yang juga Ketua Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Jawa Timur ini menjelaskan, penelitian yang dilakukan menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan pendekatan ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, Evaluation). Subjek penelitian adalah peserta didik kelas XI SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik, dengan desain uji coba melibatkan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Validasi dilakukan oleh empat validator, mencakup aspek model pembelajaran, perangkat pembelajaran, materi ajar, dan media pembelajaran, yang seluruhnya dinyatakan layak digunakan.

Isa Iskandar (tengah) dan para pengujinya. (Suhartoko)
Hasil penelitian menunjukkan, bahwa penerapan model iSCan-MSL secara signifikan meningkatkan hasil belajar, keterampilan berpikir ilmiah, dan metakognitif peserta didik. Seluruh peserta didik pada kelompok eksperimen mencapai ketuntasan belajar, berbeda dengan kelompok kontrol yang masih menunjukkan ketidaktuntasan. Selain itu, model ini mendorong kemampuan peserta didik mengaplikasikan konsep fluida statik dalam bentuk proyek nyata, seperti pembuatan aplikasi hidraulik yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Keunggulan lain dari model iSCan-MSL adalah dukungan produk teknologi berupa aplikasi APK yang dapat diakses kapan pun dan di mana pun, tanpa bergantung pada data seluler atau jaringan Wifi. Temuan ini memperkuat kontribusi disertasi dalam pengembangan model pembelajaran digital adaptif di bidang Teknologi Pendidikan, khususnya untuk pembelajaran sains di tingkat SMA.
“Jadi model pembelajaran ini, tidak ribet di tangan siswa. Ia bisa diakses dengan mudah hanya dengan HP (handphone) berbasis Andoid, tanpa biaya, karena tidak perlu menyiapkan paket dana atau jaringan Wifi. Jadi, sesimpel itu,” tandas bapak tiga anak ini.
Dr Isa Iskandar, SSi, MPd, menjadi doktor ke-149 dari Program Studi S3 Teknologi Pendidikan, FIP Unesa yang kini terakreditasi ‘Unggul’. Dalam petuah doktor, Prof Dr Mustaji, MPd, selaku Promotor menyampaikan, bahwa disertasi ini tidak hanya menunjukkan ketekunan ilmiah, tetapi juga kepekaan terhadap tantangan nyata pendidikan abad ke-21, khususnya bagaimana teknologi mobile tidak sekadar digunakan, tetapi diorkhestrasi secara pedagogis untuk menumbuhkan cara berpikir ilmiah dan kesadaran metakognitif peserta didik.
Model iSCan–MSL yang dikembangkan merefleksikan paradigma pembelajaran modern: belajar yang lintas ruang, lintas waktu, kontekstual, dan berkesinambungan. Ini sejalan dengan tuntutan pembelajaran fisika yang tidak cukup hanya memahami konsep, tetapi juga menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan sadar proses berpikirnya sendiri. Gelar doktor bukanlah akhir dari perjalanan intelektual, melainkan awal dari tanggung jawab keilmuan yang lebih besar.
Tanggung jawab itu berupa: (1) terus menguji dan menyempurnakan model yang telah dikembangkan, (2) mengimplementasikannya secara lebih luas dan adaptif, dan (3) mengawal agar teknologi pendidikan tetap berpihak pada nilai, etika, dan kemanusiaan dalam pendidikan.
“Karena itu, terus kembangkan model ini. Jangan berhenti setelah Anda dinyatakan lulus dan meraih gelar doktor, sehingga memberikan kontribusi konkret dalam dunia pendidikan,” pesan Prof Mustaji. (har)







