Kuratorial oleh Arik S. Wartono
Wacana rumah sebagai laboratorium kreatif anak telah banyak dibahas dalam psikologi pendidikan, terutama perkembangan anak, termasuk juga dibahas dalam dunia seni rupa anak. Namun, hal ini menjadi pameran seni rupa anak yang sesungguhnya, peristiwa open house seniman anak berkolaborasi dengan ayahnya yang seorang arsitek, nampaknya baru pertama kali terjadi di Indonesia, bahkan mungkin di seluruh dunia.
Konsep ini sebenarnya sudah dirancang tiga atau empat tahun lalu, kolaborasi ayah-anak: Andy Rahman Architect – Samurai Jalu dari Sanggar DAUN. Saat itu konsepnya, rumah kediaman mereka dibuka (open house) untuk pameran seni rupa anak. Rumah mereka sesungguhnya yang penuh coretan mulai dinding, lantai, pagar dan berbagai perabot, misalnya lemari, tas, sepeda, bahkan pohon di pekarangan rumah.
Tapi kemudian konsepnya berubah ketika Andy Rahman yang tak lain adalah ayah kandung Samurai Jalu bersama partner bisnisnya, yakni Imam Hasani Fudholi membangun rumah baru yang boleh dicoreti oleh Samurai Jalu, dijadikan tempat pameran. Bukan cuma satu rumah, tapi dua rumah sekaligus yang bersebelahan, masing-masing dua lantai. Rumah ini kemudian dinamai rumah “Ambarteja” dan “Larasrasa” yang beralamat di Grand Royal Regency K5 03A, Cluster Lavender, Wage, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia.
Samurai Jalu sudah mulai corat-coret rumah sejak rumah ini proses dibangun setahun lalu, bertahap sampai menjelang pembukaan pameran, dan terus berlanjut selama pameran berlangsung. Maka prosesnya alami, setiap main ke rumah ini dia mecoreti setiap bagian rumah. Bahkan, saat pembukaan pameran, Samurai Jalu mengajak teman-temannya dan pengunjung pameran yang berusia anak untuk berpesta, ikut mencoreti kedua rumah tempat pameran, khususnya bagian dinding.
Selain total 30 karya lukisan berbagai ukuran yang rata-rata di atas 1×1 meter terdisplay layaknya seperti di rumah, bukan di galeri seni, pameran seni rupa sekaligus arsitektur ini juga menampilkan karya instalasi dan arsip proses kreatif Samurai Jalu sejak usia balita.
Pameran “Mulai Dari Rumah” ini merupakan pameran tunggal Samurai Jalu yang kedua. Pameran tunggal pertamanya berlangsung di Yogjakarta tahun 2023.
Karya instalasi yang dipamerkan dalam pameran “Mulai Dari Rumah” berupa:
- dua rumah yang penuh coretan mulai dinding, lantai, pagar dll
- lemari Samurai Jalu yang penuh gambar, dihias botol cat bekas melukis yang sudah habis
- meja belajar sekaligus rak buku yang penuh coretan gambar
- baju dan celana Samurai Jalu yang berlepotan cat karena dipakai melukis, display pada boneka manekin
- dua tikar rotan yang biasanya digunakan Samurai Jalu sebagai alas melukis
- empat kain putih, tiga di antaranya berukuran 120×200 cm yang digambari menggunakan tinta hitam, display menggantung pada beberapa bagian rumah termasuk diikat di batang pohon depan rumah dijadikan seperti bendera dan satu lagi kain putih berukuran 160×600 cm yang juga digambari, terdisplay menggantung sekaligus menjuntai sampai menyentuh lantai di salah satu ruangan.
- sepeda Samurai Jalu yang digambari
- arsip visual berupa buku pelajaran sekolah, buku tulis, kertas ulangan dll penuh coretan gambar serta foto dan video dokumentasi proses kreatif Samurai Jalu.
Pameran “Mulai Dari Rumah” dibuka tanggal 24 Januari dan berlangsung sampai 8 Februari 2026, terbuka untuk umum setiap hari selama pameran mulai pukul 10.00 WIB hingga 14.30 WIB
Pendapat Pakar Pendidikan dan Psikologi Perkembangan Anak
Menurut berbagai pakar pendidikan dan psikologi perkembangan anak, aktivitas mencoret-coret dinding rumah bisa dilihat sebagai tanda kreativitas anak yang sedang berkembang. Elizabeth Bergner Hurlock, seorang psikolog anak menjelaskan:
“Anak-anak memiliki kecenderungan alami untuk mengeksplorasi dan menciptakan, dan kegiatan seperti mencoreti dinding dapat menjadi outlet bagi mereka untuk mengekspresikan diri” [1]
Lebih jauh Miftakhul Jinan, dalam bukunya “Alhamdulillah Anakku Nakal” [2], menjelaskan, bahwa anak-anak suka mencoret-coret dinding karena beberapa alasan, di antaranya:
- Daya fantasi dan imajinasi yang tinggi: Anak-anak memiliki kemampuan imajinasi yang luar biasa dan ingin mengekspresikannya di mana saja.
- Tahapan perkembangan motorik: Anak-anak masih dalam proses mengembangkan motorik halus dan kasar, sehingga mereka cenderung mencoret-coret di tempat yang luas seperti dinding.
- Spontanitas: Anak-anak tidak perlu perencanaan yang matang untuk mengekspresikan diri, mereka hanya ingin menuangkan ide-ide mereka.
Aktivitas kreatif anak seperti mencoreti dinding dapat menjadi tanda kreativitas dan ekspresi diri. Menurut Viktor Lowenfeld, seorang pakar pendidikan anak dari Austria: “Anak-anak menggunakan seni untuk mengekspresikan diri dan merefleksikan pengalaman mereka.” [3]
Lowenfeld menekankan pentingnya memberi anak-anak kesempatan untuk bereksperimen dan mengekspresikan diri melalui seni, termasuk mencoreti dinding sebagai bagian dari proses kreatif mereka.
Rumah Jadi Kanvas, Jiwa Menjadi Ekspresi
Dalam pameran “Mulai Dari Rumah” kita disuguhi sebuah narasi tentang bagaimana ruang rumah dapat bertransformasi menjadi kanvas hidup yang memancarkan jiwa penghuninya. Kolaborasi antara Samurai Jalu, seorang anak berusia 12 tahun dengan bakat seni luar biasa, dan ayahnya, Andy Rahman seorang arsitek, tidak hanya menghasilkan peristiwa seni yang unik, tetapi juga sebuah pernyataan tentang kekuatan kreativitas dan proses pengasuhan.
Rumah, yang sering kita anggap sebagai tempat berlindung, menjadi medium ekspresi yang nyaris tanpa batas. Dinding-dinding yang biasanya netral berubah menjadi saksi estetik atas perjalanan kreativitas Samurai Jalu. Setiap coretan, setiap warna, dan setiap goresan kuas merupakan refleksi dari jiwa anak-anak, yang tak terbebani oleh berbagai teori seni.
Lukisan “Memori Jogja” (2025), Samurai Jalu mengajak kita menjelajahi lorong-lorong kenangan di Yogyakarta. Dengan sapuan kuas-palet yang berani dan warna-warna yang cerah, Samurai Jalu menciptakan sebuah narasi visual yang menggambarkan beberapa ikon Yogyakarta yang telah cukup dikenal publik, di samping tambahan imajinasinya sendiri yang liar-naif khas anak-anak.
Kanvas berukuran 160×120 cm ini menjadi sebuah jendela yang membuka keistimewaan Yogyakarta. Di bagian tengah menyamping ke kanan, kita dapat melihat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, sebuah simbol keagungan dan kebudayaan yang berdiri tegak. Warna-warna yang digunakan Samurai Jalu untuk menggambarkan Keraton ini cukup menarik, dengan dominasi warna background kuning dan sedikit biru, struktur bangunan dari coretan spidol hitam dan goresan cat putih untuk tiang-tiang yang memberikan kesan konservatif.
Di sudut kiri bawah, kita dapat melihat lesehan gudeg Jogja, sebuah tempat yang menjadi simbol kuliner khas Yogyakarta. Samurai Jalu menggambarkan adegan menikmati kuliner gudeg dengan warna-warna yang hangat, seperti memori tentang lezatnya gudeg bagi para penikmatnya.
Tugu Jogja, sebuah ikon yang menjadi simbol Yogyakarta, juga hadir dalam karya ini. Samurai Jalu menggambarkan Tugu Jogja dengan warna yang cerah yang lugas, memberi kesan ketahanan atas waktu dan sejarah.
Di latar belakang, kita dapat melihat Gunung Merapi, sebuah gunung yang menjadi simbol kekuatan dan keindahan alam. Samurai Jalu menggambarkan Gunung Merapi dengan warna biru-hijau, bertumpuk dengan goresan spidol untuk objek pohon, sepeda dan naga, memberi kesan kenangan perjalanan sekaligus bahaya yang tersembunyi.
Karya “Memori Jogja” adalah sebuah catatan kenangan yang tersimpan di hati dan pikiran Samurai Jalu. Dengan menggunakan cat akrilik dan spidol, Samurai Jalu menciptakan sebuah karya yang personal, merekam kenangan sekaligus detail imajinasi pada setiap keberadaannya terutama liburan bersama keluarga di Yogyakarta.
Pameran ini juga mengajak kita merefleksikan peran orang tua dalam mengasuh anak. Andy Rahman, dengan kebijaksanaannya, memberi ruang bagi Samurai Jalu untuk bereksperimen dan mengekspresikan diri. Ini adalah contoh bagaimana rumah dapat menjadi sekolah kehidupan, anak-anak belajar dengan bebas dan tanpa takut salah.
Pameran “Mulai Dari Rumah” ini adalah sebuah perayaan kreativitas yang tak terbatas, sebuah pengingat bahwa seni tidak hanya tentang hasil, tetapi tentang proses, tentang hubungan, dan tentang jiwa yang berani berekspresi.

Jejak Kaki Samurai: Sebuah Refleksi tentang Pertumbuhan dan Identitas
Dalam karya “Jejak Kaki Samurai” (2025), Samurai Jalu, seakan ingin mengabadikan bagian penting lankahnya sendiri. Dengan menggunakan teknik cetak telapak kaki yang unik, Samurai Jalu menciptakan sebuah karya seni yang personal sekaligus emosional, menggambarkan jejak kaki kanannya sendiri sebagai simbol pertumbuhan dan identitas.
Kanvas yang berukuran 70×50 cm ini menjadi sebuah panggung bagi Samurai Jalu untuk mengekspresikan dirinya sendiri. Dengan menggunakan campuran paperclay dan gipsum, Samurai Jalu menciptakan sebuah cetakan telapak kaki yang apa adanya, seolah-olah kita diajak untuk turut merasakan tekstur pengalamannya.
Tulisan di bagian kiri bawah kanvas, “Ini jejak kaki kananku 29 November 2025, saat umurku 12 tahun, kelas 6 SD. Aku cetak menggunakan campuran paperclay dan gipsum“, menjadi sebuah catatan emosional, menggambarkan momen ketika Samurai Jalu menciptakan karya ini.
Dalam konteks pameran tunggal “Mulai Dari Rumah“, karya “Jejak Kaki Samurai” ini menjadi sebuah contoh bagaimana rumah dapat menjadi sumber inspirasi dan kreativitas. Samurai Jalu membuktikan bahwa dengan menggunakan bahan-bahan yang sederhana, kita dapat menciptakan karya seni yang unik dan personal.
Karya ini juga mengajak kita untuk merefleksikan tentang perjalanan hidup kita sendiri, tentang bagaimana kita tumbuh dan berkembang, dan tentang bagaimana kita meninggalkan jejak kita sendiri di dunia ini.
Epilog
Aktivitas kreatif anak yang mencoreti setiap detail bagian rumah yang mampu dijangkaunya terutama dinding, lantai, pagar, sampai berbagai perabot di dalam dan di sekitar rumah, sejauh ini dalam tinjauan seni rupa anak dan psikologi perkembangan anak telah diapresiasi sebagai hal positif. Namun, fakta yang terjadi di banyak keluarga hal ini masih dianggap sebagai pelanggaran norma atau aturan keluarga.
Terlebih jika aktivitas corat-coret ini sampai dilakukan oleh anak di ruang publik, terutama ruang publik komersial, bisa dianggap sebagai pelanggaran sosial bahkan kriminal-vandalisme. Lebih parah lagi, meskipun dunia pendidikan telah mengakui secara keilmuan, bahwa aktivitas corat-coret usia anak merupakan bagian dari proses kreatif dan menjadi bagian penting dari perkembangan mental dan kepribadian anak.
Namun, sampai saat ini praktik di lapangan justru masih meyakini, bahwa ini pelanggaran aturan sekolah yang bahkan harus dihukum. Ekspresi kreatif anak dalam norma sosial ternyata masih disejajarkan dengan tindakan suku Vandal di bawah pimpinan Raja Gaiseric yang pernah menyerbu dan menjarah Roma pada tahun 455 Masehi, yang kemudian melahirkan istilah ‘vandalisme’.
Paradoks antara pengakuan ilmu dan penerapan norma sosial ini diharapkan mulai berubah ketika pameran tunggal Samurai Jalu sekaligus open house rumah Ambarteja dan Larasrasa ini kita narasikan, kita apresiasi dan kita diskusikan lintas disiplin ilmu sebagai sumbangsih untuk membangun kehidupan sosial, peradaban yang lebih baik terutama dari sudut pandang ramah anak, juga keluarga dan dunia pendidikan, karena segala sesuatunya memang mesti “Mulai Dari Rumah“. {*}
Salam Budaya!
*) Arik S. Wartono, Kurator, pendiri dan pembina Sanggar DAUN.
Referensi:
[1]. Hurlock, E. B. 1978. Child Development. McGraw-Hill Book Company.
[2]. Jinan, Miftakhul. 2009. Alhamdulillah Anakku Nakal. Filla Press.
[3]. Lowenfeld, V. 1982. Creative and Mental Growth. Macmillan Publishing Co., Inc.







