Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengukuhkan sembilan guru besar dari tujuh fakultas dalam rapat terbuka senat akademik universitas di Graha Sawunggaling, Kampus II Lidah Wetan, Selasa (10/2) siang. Dengan pengukuhan profesor periode 1 tahun 2026 ini, jumlah guru besar yang dikukuhkan Unesa mencapai 223 orang.
Mereka adalah Prof. Dr. Martadi, M.Sn., (bidang ilmu teknologi pembelajaran seni budaya), Prof. Dr. Prima Retno Wikandari, M.Si., (bidang ilmu pangan fungisonal fermentasi), Prof. Dr. Noortje Anita Kumaat, M.Kes., (bidang ilmu analisis performa senam), Prof. Dr. Erny Roesminingsih, M.Si., (bidang kepemimpinan pendidikan dasar dan menengah), Prof. Dr. Yunus, M.Pd., (bidang inovasi pembelajaran teknik pengelasan), Prof. Dr. Oce Wiriawan, M.Kes., (bidang evaluasi recovery kepelatihan olahraga), Prof. Puput Wanarti Rusimamto, S.T., M.T., (bidang pembelajaran otomasi sistem teknik elektro), Prof. Dr. Rini Setianingsih, M. Kes., (bidang inovasi pembelajaran berbasis kognisi matematis), dan Prof. Dr. Heny Subandiyah, M.Hum., (bidang ilmu metode pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia).
Rektor Unesa, Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes., dalam sambutannya mengatakan bahwa menjadi profesor bukanlah proses yang instan. Ia adalah akumulasi dari kerja sunyi yang panjang, pendidikan yang berlanjutan, serta komitmen kuat terhadap etika dan integritas akademik.
“Oleh karena itu, pengukuhan hari ini tidak hanya menjadi capaian profesional, tetapi juga merupakan capaian institusional yang membanggakan Universitas Negeri Surabaya,” ujar Rektor yang akrab dipanggil Cak Hasan ini.
Ditambahkan, dirinya meyakini sepenuhnya bahwa keberhasilan para profesor tidak pernah berdiri sendiri. Di balik capaian akademik yang tinggi, terdapat doa yang tak putus, kesabaran yang panjang, serta dukungan yang tulus dari keluarga, teman, hingga mitra kerja.
Berbagai bidang ilmu yang menjadi keahlian guru besar yang dikukuhkan hari ini, tetapi sebagian besar berada di ranah pendidikan dan pembelajaran. Unesa memiliki basis bidang pendidikan yang kuat karena dulu merupakan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Negeri Surabaya.
Misalnya Prof. Dr. Martadi, M.Sn. yang menekuni bidang ilmu teknologi pembelajaran seni budaya. Dalam orasi ilmiah berjudul Merawat Tradisi dii Era Digital: Integrasi Kearifan Lokal Seni Budaya Melalui Deep Learning, antara lain dikatakan hadirnya teknologi komunikasi dan informasi (ICT) telah melahirkan Gen Alpha. Generasi yang akrab dengan teknologi, bahkan tidak bisa hidup tanpa teknologi.
“Yang cukup mengkhawatirkan adalah, ICT ternyata juga memicu timbulnya bazaar global culture, yaitu banjir informasi budaya antarnegara. Kondisi ini memunculkan fenomena floating generation, yaitu generasi mengambang. Indikasinya antara lain, mereka lebih mengenal budaya asing daripada budaya sendiri,” ujarnya.
Untuk itu, terkait dengan pembelajaran seni dan budaya, serta pewarisan kearifan lokal kepada generasi muda, perlu dilakukan dengan pendekatan yang sesuai dengan karakter generasi masa kini. Antara lain dengan memanfaatkan artificial intelligence (AI) untuk menarik minat siswa.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Martadi menayangkan video simulasi pembelajaran sejarah Majapahit dengan memanfaatkan kecanggihan AI Geminiveo. Dirinya pun menembus “lorong waktu,” dapat berjalan kaki memasuki istana Majapahit dan bertemu dengan Patih Gajahmada. Dengan kemasan seperti itu, proses belajar menjadi menarik dan mendalam. (rio)





