SURABAYA (RadarJatim.id) – Tingginya prevalensi penyakit degeneratif di Jawa Timur yang melampaui rata-rata nasional pada beberapa indikator, disoroti oleh salah seorang guru besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dalam acara pengukuhan yang berlangsung Selasa (10/2) siang.
Prof. Dr. Prima Retno Wikandari, M.Si., menyoroti, data Riskesdas yang menunjukkan bahwa sekitar 36,3 persen penduduk Jatim usia 18 tahun ke atas mengidap hipertensi, dengan estimasi jumlah penderita mencapai lebih dari 11,5 juta jiwa. Untuk penyakit stroke, prevalensi di Jatim dilaporkan sekitar 9,0 per 1.000 penduduk usia 15 tahun ke atas, sedikit lebih tinggi dibandingkan angka nasional.
“Kondisi tersebut memperkuat posisi Jawa Timur sebagai salah satu provinsi dengan beban penyakit tidak menular (noncommunicable diseases/NCD) yang cukup besar. Penyakit seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung, dan stroke kini tidak hanya menjadi persoalan medis, tetapi juga tantangan pembangunan kesehatan daerah,” kata Guru Besar bidang Pangan Fungsional Fermentasi dari Jurusan Kimia ini.
Menanggapi situasi tersebut, Prof Prima mendorong pemanfaatan pangan fungsional fermentasi berbasis bahan lokal sebagai bagian dari strategi pendukung pengendalian penyakit degeneratif. Pendekatan ini dinilai relevan dengan karakter masyarakat Jatim yang memiliki tradisi pangan fermentasi yang kuat.
“Penyakit degeneratif berkembang secara perlahan dan bersifat kronis. Oleh karena itu, penanganannya tidak cukup hanya dengan obat, tetapi memerlukan intervensi nutrisi jangka panjang yang mudah diakses dan sesuai dengan budaya lokal,” ujarnya.
Pangan fungsional fermentasi adalah makanan yang diolah melalui aktivitas mikroorganisme terpilih sehingga menghasilkan senyawa bioaktif yang memberikan manfaat kesehatan. Proses fermentasi diketahui mampu meningkatkan ketersediaan zat gizi, menghasilkan probiotik dan postbiotik, serta membentuk senyawa antioksidan yang berperan dalam perbaikan metabolisme dan pengendalian peradangan.
Sejumlah studi yang dilakukannya, utamanya pada pikel bawang putih, menunjukkan bahwa konsumsi pangan fermentasi secara rutin berpotensi membantu pengendalian kadar gula darah, menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, serta memperbaiki kesehatan saluran cerna.
“Pengembangan produk fermentasi berbasis bahan lokal, seperti pikel bawang putih, juga menunjukkan potensi dalam mendukung pengendalian gula darah dan meningkatkan daya tahan tubuh,” katanya.
Jawa Timur memiliki kekayaan pangan fermentasi yang melimpah, mulai dari tempe, tape singkong, hingga berbagai olahan fermentasi rumahan yang berkembang di tingkat UMKM. Sayangnya, potensi ini masih lebih banyak dipandang sebagai tradisi kuliner, belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai bagian dari strategi kesehatan masyarakat.
“Jika dikembangkan secara terarah dan berbasis riset, pangan fermentasi lokal Jawa Timur dapat menjadi solusi yang terjangkau, aman, dan berkelanjutan dalam mendukung pengendalian penyakit degeneratif,” tambahnya.
Ke depan Prof Prima mengatakan, integrasi antara kebijakan pangan dan kebijakan kesehatan daerah dinilai menjadi kunci. Dukungan riset, standardisasi keamanan pangan, pendampingan UMKM pangan lokal, serta edukasi masyarakat diperlukan agar pangan fungsional fermentasi dapat berperan lebih optimal dalam pembangunan kesehatan Jawa Timur. (rio)







