Oleh : Moh. Ibnu Athoillah
Tidak terasa, aroma suci Ramadan 1447 H sudah mulai menyapa jiwa. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang seringkali melelahkan, kedatangan bulan ini layaknya oase di tengah gurun-sebuah anugerah besar dari Allah SWT yang diberikan khusus untuk hamba-Nya yang merindu dan senang akan kedatanganya.
Mengapa kita harus merasa senang? Kegembiraan menyambut Ramadan bukanlah sekadar tradisi tanpa makna. Rasa senang ini adalah indikator iman. Ia adalah bentuk apresiasi spiritual karena kita menyadari bahwa Ramadan adalah “karpet merah” yang dihamparkan Sang Pencipta agar kita bisa pulang kembali ke fitrah.
Dalam sebuah riwayat yang masyhur, kegembiraan ini memiliki balasan yang luar biasa, sebagaimana hadis riwayat Bukhori – Muslim.
ﻣَﻦْ ﻓَﺮِﺡَ ﺑِﺪُﺧُﻮﻝِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺟَﺴَﺪَﻩُ ﻋَﻠﻰَ ﺍﻟﻨِّﻴْﺮَﺍﻥِ
”Barangsiapa yang bergembira dengan datangnya bulan Ramadan, maka Allah mengharamkan jasadnya masuk neraka.”
Janji ini bukan sekadar kalimat penyejuk hati, melainkan jaminan bahwa niat yang tulus dan antusiasme dalam menyambut ketaatan adalah kunci keselamatan abadi.
Ketika hati sudah terpaut pada kebaikan bahkan sebelum ibadah dimulai, maka raga akan lebih ringan dalam menjalankan perintah-Nya.
Sebagaimana motivasi hadis diatas, untuk menyambut bulan suci dengan gembira. Kegembiraan ini harus diwujudkan dengan peningkatan ibadah, seperti sedekah, dan puasa sunah sejak bulan Rajab, bukan sekadar ekspresi belaka.
Ramadan sebagai anugerah terindah, Ramadan bukan datang untuk membatasi ruang gerak kita dengan lapar dan dahaga. Sebaliknya, ia adalah anugerah. Ini adalah waktu di mana pintu langit dibuka lebar untuk setiap doa yang melangit. Setiap amal dilipatgandakan tanpa batas. Dosa-dosa yang menggunung diberikan kesempatan untuk luruh melalui ampunan-Nya. Allah tidak butuh puasa kita, namun kitalah yang sangat butuh Ramadan untuk mencuci kerak-kerak dosa di hati.
Akhir Perjalanan ibadah puasa agar menjadi hamba yang Bertaqwa. Seluruh rangkaian ibadah,mulai dari kegembiraan menyambutnya, sedekah, tarawih yang khusyuk, hingga tadarus di keheningan malam, bermuara pada satu titik tujuan: Lallakum Tattaqun (agar kalian bertaqwa).
Taqwa bukan sekadar label, melainkan perubahan karakter. Menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih peduli pada sesama, dan lebih terjaga dari kemaksiatan. Jika Ramadan 1447 H ini kita jalani dengan penuh suka cita, insya Allah kita akan keluar sebagai pemenang—hamba yang tidak hanya selamat dari api neraka, tapi juga dicintai oleh penduduk langit.
Selamat datang, Ramadan 1447 H. Kami menyambutmu dengan suka cita dan hati yang penuh cinta.*
*) Penulis adalah Pengasuh Majelis Taman Surga Sidoarjo, Waka Bidang Humas SMP YPM 1 Taman







