Oleh : Muhamad Roji’i, M.Pd
Saudaraku RahimakumullAh
Agar kita semua menjadi hambanya Allah yang selamat setidaknya ada 2 syarat,
Yaitu menjadi hambanya Allah yang Baik dan menjadi hambanya Allah yang benar
Ada sebagian orang yang punya kerangka berfikir yang salah, bahwa menjadi seorang muslim cukup menjadi orang baik, dan mengira kebaikannya tersebut sudah cukup menyelamatkan dia dari kehidupan di dunia dan di akhiratnya.
Mereka biasa mengatakan, meskipun saya tidak sholat dan saya tidak berhijab yang penting saya tidak mengganggu orang saya tidak menipu saya tidak mencuri.
Dan sebagian yang lain berfikir bahwa menjadi muslim yang penting benar, meskipun kebenarannya terkadang menciptakan sikap keras dan sering melukai orang lain, mereka terlalu fokus untuk memoles tampilan agamisnya namun tersilap dari menjaga akhlak baiknya.
Kita telah dikenalkan dengan sosok Abu Tholib dengan sejuta kebaikan dan jasanya terhadap Islam, namun dia menolak kebenaran yang pada akhirnya mengantarkannya pada siksa Neraka.
Kita juga telah dikenalkan dengan sosok wanita ahli ibadah yang terjerumus ke dalam neraka karena lalai dari menjaga akhlak baiknya.
Hal ini terekam dalam sebuah Hadits
Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Dikatakan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya fulanah (seorang wanita) rajin mendirikan shalat malam, gemar puasa di siang hari, mengerjakan (kebaikan) dan bersedekah, tapi sering menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka.”
(Hadits Riwayat Bukhari, al-Adab al-Mufrad, Beirut: Darul Basya’ir al-Islamiyyah, 1989, h. 54-55)
Sadaraku RahimakumullAh
Ramadan datang dengan membawa tuntunan Kebenaran dan kebaikan. Ramadan mewajibkan kita sebagai muslim yang benar untuk menjalankan puasa ramadan, menganjurkan kita untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an dan melaksanakan Qiyam ramadan, Dan Allah menjanjikan ampunan bagi siapapun yang melaksanakannya.
Di sisi yang lain ramadan juga mewajibkan kita untuk menghadirkan banyak kebaikan di bulan yang mulia ini dan mengancam dengan penolakan terhadap puasanya seorang hamba tatkala meninggalkan kebaikan tersebut.
Nabi Muhammad Bersabda dalam sebuah hadits
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
”Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan yang haram, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minuman.” (HR. Bukhari no. 1903)
Dalam hadits yang lain RasulullAh juga bersabda
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ، إِنِّي صَائِمٌ
“Tidaklah puasa itu hanya sekedar menahan dari makan dan minum. Akan tetapi, hakikat puasa adalah menahan diri dari ucapan kotor dan sia-sia. Jika ada seseorang yang mencacimu dan berbuat usil kepadamu, maka ucapkanlah, ‘Saya sedang berpuasa, saya sedang berpuasa.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya no. 1996)
Selain menjaga sikap yang baik, ramadan juga memerintahkan kita untuk menghadirkan kebaikan sosial
Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائمًا، كانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أجْر الصَّائمِ شيءٍ (رواه الترمذي)
“Barangsiapa yang memberi buka orang puasa, maka baginya pahala semisalnya tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun.” (HR. Tirmizi, 807).
Dari bahasan di atas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa, baik kebenaran tanpa kebaikan maupun kebaikan tanpa kebenaran adalah hal yang sia-sia, jika kita menggunakan istilah Jawa “muspro” yang berarti “sia-sia” atau “tidak berguna.” *
*) Kepala SD Khazanah Ilmu Desa Wage Taman Sidoarjo







