Oleh : Choirul Huda Maulidin, S.Ag.
Bagi sebagian besar orang, Ramadan sering kali dianggap sebagai garis start mendadak untuk bertransformasi menjadi pribadi yang shaleh secara instan. Ramada tidak datang tiba-tiba.
Namun, pengalaman tujuh bulan mengabdi di SMK YPM 8 Sidoarjo telah membuka mata saya pada perspektif yang jauh lebih mendalam. Saya menyadari bahwa kesalehan sejati bukanlah sebuah kejutan spiritual yang muncul setahun sekali, melainkan sebuah maraton panjang yang kekuatannya terletak pada konsistensi ibadah di setiap harinya.
Dalam menjalani ibadah, kecenderungan untuk mengejar angka-angka ini sering kali membuat kita kehilangan fokus pada apa yang sebenarnya sedang kita bangun di dalam batin.
Padahal, jika kita merenungkan QS. Al-Mulk: 2, yang berbunyi:
ࣙالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ[1]
Artinya : yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.
Allah SWT secara tegas menyampaikan bahwa tujuan kehidupan dan kematian adalah untuk menguji siapa yang “Ahsanu ‘Amala” atau yang paling baik kualitas amalnya, bukan yang “Aksaru ‘Amala” atau yang sekadar paling banyak jumlahnya.
Budaya sebagai Fondasi, Kesadaran sebagai Kemudi
Menanam Sebelum Menuai
Pengalaman tersebut memberikan pelajaran berharga bahwa mendidik bukan hanya soal mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang membentuk karakter di tengah ritme yang tenang. Mereka dibimbing untuk mencintai baca tulis Al-Qur’an, membiasakan kebersihan sebagai wujud nyata dari iman, hingga melantunkan doa-doa keseharian yang menjadi pengingat akan kehadiran Tuhan dalam setiap aktivitas mereka.
Di sini, orientasi utamanya tidak melulu tentang ketergesaan untuk mencetak tenaga kerja yang terampil secara teknis, namun lebih kepada memastikan bahwa fondasi spiritual setiap siswa terbangun dengan kokoh terlebih dahulu. Dengan memberikan ruang untuk tumbuh secara batiniah, sekolah ini sedang menyiapkan generasi yang tidak hanya kompeten secara profesional, tetapi juga memiliki kedalaman jiwa yang tangguh.
Sinkronisasi Dunia dan Akhirat
Meskipun menyandang status sebagai Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang identik dengan penguasaan keahlian teknis dan mekanis, SMK YPM 8 Sidoarjo berhasil menunjukkan sisi harmonis antara kompetensi dan spiritualitas.
Berbagai peringatan hari besar Islam, mulai dari semarak Hari Santri, tradisi lomba gunungan saat Maulid Nabi, hingga peringatan Isra’ Mi’raj, tidak hanya dirayakan sebagai seremoni formal belaka.
Lebih jauh lagi, kesalehan di sekolah ini diimplementasikan secara menyeluruh, termasuk melalui kepedulian terhadap alam melalui kegiatan tanam-menanam.
Aktivitas ini bukan sekadar penghijauan, melainkan bentuk ibadah nyata yang mengajarkan arti kesabaran yang merupakan inti dari slow living.
Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW riwayat Imam Muslim dalam kitabnya Shahih Muslim No 1552 yang berbunyi:
و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ وَابْنُ أَبِي خَلَفٍ قَالَا حَدَّثَنَا رَوْحٌ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَغْرِسُ رَجُلٌ مُسْلِمٌ غَرْسًا وَلَا زَرْعًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ سَبُعٌ أَوْ طَائِرٌ أَوْ شَيْءٌ إِلَّا كَانَ لَهُ فِيهِ أَجْرٌ و قَالَ ابْنُ أَبِي خَلَفٍ طَائِرٌ شَيْءٌ[2]
Artinya : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hatim dan Ibnu Abu Khalaf keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, telah mengabarkan kepadaku Abu Zubair bahwa dia mendengar Jabir bin Abdullah berkata, “Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah seorang muslim yang menanam sebatang pohon atau tanaman, lalu tanaman tersebut dimakan oleh binatang buas, burung atau sesuatu yang lain, kecuali hal itu bernilai pahala (sedekah) baginya.” (HR. Muslim No 1552)
Ramadan: Puncak dari Tradisi Kebaikan
Saat ini, ketika papan hitungan mundur menuju Ramadan telah menyentuh angka sepuluh hari terakhir, atmosfer kemeriahan dan kegembiraan di lingkungan sekolah semakin nyata terasa. Namun, ada satu fenomena unik yang saya amati di SMK YPM 8 Sidoarjo.
Begitu pula dengan semangat berbagi yang melampaui batas-batas ruang kelas. Kepedulian sosial, seperti penggalangan dana untuk saudara-saudara di Palestina maupun bantuan bagi korban bencana dan fakir miskin, telah menjadi budaya yang mendarah daging. Sedekah tidak lagi menjadi instruksi formal, melainkan panggilan hati yang spontan dari guru dan siswa sebagai bentuk nyata dari ajaran agama yang kami pelajari setiap hari.
Ritme kehidupan yang sudah tertata rapi sejak bulan-bulan sebelumnya membuat kami tidak merasa terengah-engah saat menyambut kehadiran bulan suci. Kami tidak perlu memaksakan diri untuk mendadak khusyuk, karena kami sudah terbiasa untuk melambat sejenak sebelum memulai pelajaran dengan doa. Kami sudah akrab dengan suasana hening saat melantunkan hafalan KPI, yang secara tidak langsung telah melatih jiwa untuk tetap tenang di tengah tuntutan akademik.
Pada akhirnya, bagi seluruh warga SMK YPM 8 Sidoarjo, Ramadan bukanlah sebuah beban perubahan yang berat, melainkan sebuah momen penguatan. Bulan suci ini menjadi wadah untuk lebih mencintai kebaikan-kebaikan yang selama tujuh bulan terakhir ini telah kami rintis bersama.
Inilah esensi sejati dari slow living di sekolah kami: mencintai proses ibadah setiap hari, sehingga saat bulan mulia itu tiba, hati kita sudah berada di tempat yang semestinya.*
*) Guru SMK YPM 8 Sidoarjo







