SIDOARJO (RadarJatim.id) Yayasan Lingkungan Ecological observation and wetlands conservation – Ecoton Foundation bersama River Warriors melakukan kegiatan penyusuran sungai/kanal Mangetan di Kecamatan Balongbendo, Rabu (30/04/2021) kemarin.
Direktur Eksekutif Ecoton Prigi Arisandi, S.Si, M.Si mengatakan bahwa dari penyusuran yang diikuti oleh beberapa mahasiswa Surabaya, siswa-siswi SMP dan SMK serta masyarakat sekitar sungai mengatakan bahwa telah ditemukan 283 timbulan sampah dibantaran sungai Mangetan.
“Penyusuran sungai Mangetan dimulai dari aliran sungai yang berada di Desa Mlirip Rowo-Kecamatan Tarik hingga Desa Bakalan-Kecamatan Balongbendo,” kata Prigi Arisandi, Kamis (01/07/2021).
Diungkapkan oleh Prigi bahwa dari 283 timbulan sampah dibantaran sungai Mangetan itu didominasi oleh sampah plastik, tas kresek, styrofoam, sachet dan botol plastik.
Masih menurut Prigi bahwa timbulan sampah itu disebabkan oleh kebiasaan buruk masyarakat yang membuang sampahnya ke sungai Mangetan, khususnya yang tinggal di sekitar bantaran.
“Kebiasaan buruk yang ada di masyarakat, khusunya masyarakat di sepanjang bantaran sungai Mangetan pastilah didasari dengan kurangnya pemahaman tentang lingkungan sehat,” ungkapnya.
Ia menilai bahwa kebiasaan buruk masyarakt itu disebabkan kurangnya sosialisasi oleh pihak terkait, baik pemerintah desa, kabupaten dan provinsi terkait dampak lingkungan yang terjadi bila kebiasaan buruk membuang sampah disungai masih dilakukan.
Dijelaskan oleh Prigi bahwa berdasarkan hasil penulusuran sungai itu telah banyak ditemukan fakta lingkungan, salah satunya adalah penanganan sampah yang menumpuk di bantaran sungai Mangetan oleh warga sekitar dibakar untuk mengurangi volume sampah.
Tong sampah yang disediakan pemerintah di sepanjang bantaran sungai Mangetan digunakan warga sebagai tempat untuk membakar sampah, bukan sebaliknya digunakan sebagi tempat pembuangan sampah.
“Kegiatan tersebut sangat beresiko terhadap kesehatan masyarakat sekitar, karena kegiatan membakar sampah. Apalagi yang dibakar adalah sampah sejenis plastik, akan menimbulkan dampak yang berbahaya bagi lingkungan,” jelasnya.
Karena sampah plastik yang dibakar akan melepaskan senyawa dioksin ke udara dan udara tersebut akan dihirup oleh manusia, dimana kandungan dioksin yang dihirup manusia secara terus-menerus akan dapat memicu senyawa penyebab kanker di dalam tubuh manusia.
“Fakta selanjutnya, yaitu Kanal Mangetan terkontaminasi mikroplastik,” ungkap pria yang pernah mendapat penghargaan Anugerah Lingkungan Goldman pada tahun 2011 itu.
Pria lulusan Universitas Airlangga Surabaya itu menerangkan bahwa dari 5 sample yang diambil di sungai Mangetan, semuanya positif mengandung mikroplastik jenis fiber, filamen, film dan fragmen.
“Tentunya miksroplastik merusak ekosisitem sungai dan sangat berbahaya jika masuk kedalam tubuh manusia melalui rantai makanan,” terangnya.
Untuk itu, ia meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo agar ada pengolahan sampah yang terpadu di setiap desa, seperti program Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R) di setiap desa.
Dimana program tersebut nantinya menerapkan pemilahan sampah-sampah di setiap rumah untuk menekan beban sampah di Tempat Pembungan Akhir (TPA).
“Selain itu, perlu peran pemerintah desa untuk menanggulangi pembuangan sampah dengan membuat peraturan desa tentang sampah. Hal tersebut dapat berguna untuk menekan prilaku buruk masyarakat yang membuang sampah sembarangan, khusunya di bantaran sungai Mangetan,” pintanya.
Ia berharap Pemkab Sidoarjo menyediakan sarana pengolahan sampah (tempat sampah dan transportasi sampah ke TPA/TPS), TPS 3R di setiap Desa, kontainer khusus sampah residu (popok, sachet, styrofoam) dan membentuk Satuan Tugas (Satgas) untuk mengantisipasi warga yang membuang sampah ke sungai.
“Serta mendorong budaya memilah sampah dari rumah,” pungkasnya. (imams)







