• Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Contact
Rabu, 21 Januari 2026
No Result
View All Result
e-paper
Radar Jatim
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
No Result
View All Result
Radar Jatim
No Result
View All Result
Home Artikel dan Opini

5K Guru Profesional; Ujung Tombak Pembelajaran yang Memerdekakan

by Radar Jatim
25 November 2021
in Artikel dan Opini
0
5K Guru Profesional; Ujung Tombak Pembelajaran yang Memerdekakan
599
VIEWS

Oleh Dr SHOBIKHUL QISOM, MPd

Kebijakan-kebijakan peningkatan kualitas guru (quality of teacher improvement policies/QTIP) di negara-negara HPES (High Performing Education System) secara umum dapat sarikan menjadi lima hal yang penulis sebut dengan 5K Guru, yakni Ketersediaan, Komitmen, Kompetensi, Kemuliaan, dan Kesejahteraan. Berikut uraiannya.

Pertama, Ketersediaan Guru

Ketersedian guru dipengaruhi oleh faktor utama, yaitu raw input guru. Kebijakan pemerintah yang didukung masyarakat harus mengarahkan bagaimana siswa lulusan tebaik dari SMA/MA mau masuk ke perguruan tinggi atau universitas di bidang keguruan. Hal ini sudah dicontohkan Korea Selatan dan Finlandia.

Universitas yang menjadi pabrik guru harus diajar oleh guru besar, yakni guru besar yang memahami filosofi pendidikan, perancang kurikulum, dan bahan ajar yang aplikatif, serta pembentuk karakter yang kokoh bagi calon guru. Hal ini sudah dicontohkan oleh Singapura.

Selain itu kebijakan pemerintah harus memperhitungkan ketersedian guru, mengingat negara Indonesia sangat luas dan terdiri atas belasan ribu pulau, ketersedian guru sesuai jumlah yang dibutuh baik di sekolah negeri maupun sekolah swasta. Penyebaran guru berkualitas pun harus merata dan ada di setiap sekolah, baik di perkotaan maupun pedesaan. Hal ini belum ada di negara-negara HPES.

Untuk menajamkan pentingnya ketersedian calon guru dengan kualifikasi yang tinggi, penulis sajikan pemikiran Dr (HC) Ir Abdul Kadir Baraja, pendiri STKIP Al Hikmah fullschollarship sebagai berikut. Sekolah memiliki banyak elemen yang berperan. Ada penyelenggara, guru, siswa, dan karyawan. Dalam lembaga pendidikan, karena fungsi utamanya mendidik siswa, maka yang memiliki peran besar adalah guru. Baik buruknya sekolah sangat bergantung pada guru di sekolah itu.

Guru seperti jembatan antara dua jalan besar. Tampa adanya jembatan, sebanyak apa pun orang yang melintas di jalan itu, tetap tidak akan bisa terhubung. Dua jalan itu adalah siswa dan penyelenggara pendidikan di sekolah. Guru merupakan operator dari mekanisme yang telah digariskan dan ditetapkan oleh penyelenggara. Guru harus menjadi elemen yang paling fasih dalam menerjemahkannya.

Langkah pertama dari keberhasilan lembaga pendidikan sangat ditentukan bagaimana guru di dalamnya. Penyeleksian guru menjadi faktor mendasar, menjadi kunci langkah-langkah selanjutnya. Memasukkan guru dengan kualitas biasa-biasa saja, sama artinya menjadikan lembaga pendidikan hanya menjadi tampungan siswa-siswa yang terlempar dari sekolah lain. Guru demikian bukan pengubah, tapi hanya penyampai pesan dari buku kepada siswa.

Paling tidak, setiap guru harus memiliki tiga syarat utama. Pertama, kecerdasan. Faktor ini menjadi mutlak bagi setiap guru. Guru yang cerdas akan mampu mencerdaskan dirinya, dan mencerdaskan siswanya. Guru cerdas berarti mengetahui cara terbaik untuk mendekati setiap siswa dengan karakter berbeda. Guru cerdas juga berarti membuat pelajaran yang susah menjadi lebih mudah. Guru cerdas juga berarti membuat dirinya mampu dicintai siswanya.

Perlu diingat, kecerdasan adalah anugerah yang berbeda bagi setiap manusia, sehingga memilih guru yang cerdas sudah menjadi wajib hukumnya. Jika Anda memiliki anak kemudian diberikan kepada guru yang tidak cerdas, bagaimana perasaan Anda? Anda pasti khawatir anak Anda tidak menjadi cerdas, tapi justru sebaliknya. Rata-rata harapan semua orang tua adalah agar anaknya bisa dididik oleh guru yang cerdas.

Cerdas juga berarti upgradable, dalam arti memiliki kemampuan untuk bisa ditingkatkan ke jenjang yang lebih tinggi. Ilustrasinya seperti gelas besar berisi sedikit air, namun kemudian mampu terus diisi air. Sebaliknya, bila tidak upgradable, berarti gelasnya kecil. Kemampuannya hanya seukuran gelas. Ditambah air seberapa pun bakal tumpah.

Syarat kedua adalah amanah. Amanah berarti mampu menerima dan melaksanakan tugas sebagai guru dengan tanggung jawab mendidik murid-murid di kelasnya. Guru memahami, bahwa ia dititipi siswa oleh orang tua. Amanah juga terkait dengan stabilitas rohani, dan tidak berkeluh kesah ketika mendapatkan siswa yang tidak sesuai dengan harapannya.

Nabi SAW bersabda, ”Serahkan amanah kepada orang yang telah mengamanahi kamu dan jangan kamu mengkhianati orang yang mengkhianati kamu.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Syarat ketiga, adaptif terhadap perubahan. Guru seperti ini perlu dimiliki setiap lembaga pendidikan. Perubahan kurikulum, perubahan bahan materi ajar, hingga perkembangan media membuat guru harus mudah beradaptasi dengan perubahan. Jangan sampai guru tertinggal perubahan zaman dan kalah dengan kecepatan siswa dalam menyesuaikan perubahan. Zaman sekarang sangat memungkinkan siswa lebih berpengetahuan atau lebih cepat dalam menggali pengetahuan ketimbang gurunya, karena tersedianya media internet.

Tiga syarat ini mutlak dimiliki oleh guru-guru di semua lembaga pendidikan. Meskipun ada kepala sekolah, hingga semua bagian yang melengkapi, semua itu berasal dari guru. Ketika menjadikan kepala sekolah bukan dari guru, maka pemahaman akan kegiatan belajar mengajar, sampai detil psikologi siswa dalam belajar, tidak mudah dirasakan. Guru diperlukan di semua elemen sekolah, karena meskipun ia menjadi sekretaris, tapi semua berfungsi sebagai pendidik.

Kedua, Komitmen Guru

Menjadi guru adalah panggilan Ilahi, desakkan jiwa yang sadar akan pentingnya pendidikan bagi kemajuan sebuah bangsa. Maka, setiap orang yang menjadi guru harus didasari niat yang benar dan kehendak nuraninya sendiri yang didukung oleh passion pendidik yang ada pada dirinya.

Setiap orang yang akan menjadi guru harus bersumpah untuk memajukan pendidikan. Contohnya, para guru di Singapura. Mereka yakin, bahwa setiap siswa mampu belajar dan berprestasi sesuai dengan potensinya masing-masing. Mereka penuh semangat menjalankan amanah sebagai guru dan menumbuhan spirit berprestasi pada semua orang.

Kebijakan pemerintah dalam seleksi penerimaan guru harus lebih dominan memperhatikan aspek komitmen ini. Pemilihannya sejak seseorang itu menjalani pendidikan calon guru.

Komitmen guru ini dijelaskan oleh Dr (HC) Ir Abdul Kadir sebagai berikut. Guru bukanlah pribadi yang hanya mengajar di kelas. Ia bukan hanya mengajarkan pelajaran, tetapi kehidupan. Kegagalan guru justru ketika mengedepankan pribadi sebagai guru di sekolah, tapi melepas baju guru di luar sekolah. Filosofi guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru berarti menuntut guru memiliki kepribadian yang patut dicontoh kepribadiannya, baik ketika berada di sekolah, maupun di luar sekolah.

Terkadang guru memiliki kepribadian ganda. Sosoknya di sekolah adalah pribadi yang sempurna. Ia memiliki wibawa, bisa dicontoh, bahkan menjadi orang tua bagi siswa. Tapi sebaliknya, kalau sudah pulang sekolah, kepribadiannya berubah. Di sekolah ada imbauan tidak merokok, di rumah justru merokok. Siswa kemudian mencontoh, yang penting tidak merokok di sekolah. Di sekolah terlihat berwibawa karena kesalihannya, di luar sekolah bermain perempuan. Guru demikian hanya akan menghasilkan siswa yang juga berkepribadian ganda. Bermuka dua!

Siswa menjadi cinta kepada gurunya karena keteladannya di kelas maupun di luar kelas. Di kelas bersikap A, di luar kelas sikapnya juga A. Di sekolah selalu salat tepat waktu di masjid. Di luar sekolah juga demikian. Lalu timbullah rasa hormat yang tinggi. Kalau sudah demikian, terkadang tidak hanya sikap yang dicontoh. Bahkan apa pun yang menjadi milik guru, menginspirasi siswa. Sampai pada barang yang dipakai guru, siswa akan berusaha membelinya.

Prinsip yang perlu ditanamkan pada guru adalah kesadaran, bahwa dirinya dicontoh oleh siswa, tidak hanya di sekolah, tapi juga di luar sekolah. Karena itu, ia mesti terus menjadi teladan. Baik di masyarakat maupun di sekolah, guru harus memiliki posisi yang sama. Guru adalah contoh kehidupan.

Oleh sebab itu, guru harus tahu benar siapa dirinya. Dirinya adalah guru. Maka perlu dipahami betul esensi seorang guru. Jika belum memahami apa itu guru, sudah dapat dipastikan tidak menjiwai profesi mulia itu. Oleh sebab itu, pembekalan keguruan tidak boleh berhenti. Bagaimana cara menghadapi siswa, cara berkomunikasi dengan orang tua harus terus diajarkan.

Ketika sudah mengetahui benar siapa dirinya, maka ia akan tahu apa yang harus dikerjakan. Guru bukanlah pribadi yang menunggu perintah. Guru memiliki sifat responsif terhadap keadaan, bukan reaktif. Yang dia hadapi adalah manusia-manusia yang beraksi setiap saat. Ketika memahami benar sebagai guru kehidupan, maka dia bersikap sebagai tauladan kepada semua orang. Jika anak didik menangis, kemudian guru tidak bertindak karena menunggu perintah kepala sekolah, bisa dipastikan guru itu hanya akan menjadi cemoohan.

Oleh sebab itu, guru harus memiliki antusiasme untuk belajar sepanjang hidup. Apa yang dia lihat, apa yang dia rasakan, apa yang dia dengar, harus menjelma sebagai buah pelajaran. Tidak sebatas apa yang dia dapatkan di bangku sekolah. Apa yang ada di sekitar dirinya adalah pelajaran. Laboratorium guru adalah kelas, sedangkan ujian guru adalah  masyarakat.

Guru memiliki posisi spesial di mata siswa. Jika dihitung durasi, interaksi siswa dengan guru di sekolah lebih lama dibanding interaksi siswa dengan orang tua di rumah. Artinya, guru sudah seperti orang tua siswa, memperhatikan, mengajarkan, bahkan menangani kekurangan siswa dengan pendekatan khusus, setiap hari.

Karena itu, salah satu kewajiban guru adalah mendoakan murid-muridnya. Guru sudah memberikan banyak kepada siswa. Dia selalu memberi dan memberi tanpa perlu diminta. Ketulusannya terlihat dalam kesungguhan mengajarkan ilmu kepada siswa. Allah melihat keikhlasan dan ketulusan. Akumulasi ini pada akhirnya menjadi sebuah amal salih yang tercatat. Maka, doa guru yang salih disampaikan dengan sungguh-sungguh, begitu dekat dengan Allah untuk dikabulkan. Khususnya doa untuk murid-muridnya.

Doa dari guru juga dapat mempercepat capaian dan tujuan pendidikan dan pengajaran karena pertolongan Allah SWT. Sudah menjadi rahasia umum kalau di sekolah ada varian siswa, berasal dari budaya berbeda dan memiliki kadar kecerdasan yang berbeda pula. Untuk meningkatkan kualitas butuh akselerasi. Mencerdaskan anak cerdas itu soal biasa. Tapi, mencerdaskan anak yang biasa-biasa saja butuh doa. Doa menyadarkan, bahwa kita sedang membutuhkan pertolongan Allah SWT. Dan, Allah Maha Pemberi dan Maha Penolong.

Apalagi ilmu yang dimiliki manusia hadirnya dari Allah. Tentu saja sebanyak-banyaknya ilmu yang dimiliki manusia, sebenarnya sangat sedikit dibanding ilmu Allah. Kalau air laut menjadi tinta untuk menuliskannya, ditambah lagi sebanyak itu, maka habislah tinta sebelum kalimat-kalimat Allah tuntas dituliskan (Al Quran, 18:109). Pesannya, manusia harus memohon kepada pemilik ilmu untuk mengalirkan kepada hamba-Nya.

Dari sini mudah dipahami, yang dibutuhkan pertama kali untuk mendoakan siswa adalah kesadaran bahwa penguasa ilmu adalah Allah SWT. Guru hanya menjadi perantara dari ditanamkannya ilmu kepada siswa. Kalau Allah menghendaki cepat, maka cepat pula ilmu itu tersampaikan. Kalau Allah menghendaki sebaliknya, maka lambat pula tersampaikan.

Hal yang sering hadir dari terkabulnya doa adalah hadirnya keajaiban. Menjangkau yang tidak mampu guru jangkau. Bagaimana menangani siswa yang kompleks? Selain berusaha, maka doa menjadi jawabannya. Bagaimana membangkitkan semangat, selain motivasi, doa adalah jawabannya. Doa adalah senjata guru.

Dalam mendidik, doa memiliki fungsi sebagai salah satu sarana pendidikan. Kesepakatan antara guru dengan orantua tidak sebatas pada arah pendidikan, namun pada arah doa yang dipanjatkan bersama untuk siswa. Jika orangtua dikabulkan dengan wasilah amal salih keikhlasannya dalam mendidik dan mencari nafkah tanpa balasan, maka doa guru dikabulkan dengan wasilah amal shalih dalam mengajar. Kesatuan doa guru dan doa orangtua menjadikan pikiran dan hati anak dilimpahi rahmat agar dimudahkan dalam belajar.

Kesadaran akan pentingnya berdoa adalah terhindarnya guru dari sifat takabbur. Sombong akan kesuksesan siswa. Merasa menjadi satu-satunya faktor yang berjasa atas keberhasilan siswa. Sikap ini bermula dari menafikan pertolongan orang lain dalam setiap usahanya. Kalau guru selalu berdoa, maka menyadarkan bahwa ada unsur lain yang selalu hadir dan membantu mewujudkan harapan dan keinginan. Dengan doa, guru tidak hanya mampu berbuat lebih. tapi juga akan menghilangkan sifat sombong.

Ketiga, Kompetensi Guru

Setiap guru harus tesertifikasi kompetensinya sebagai guru profesional. Mereka mendapatkan pendidikan guru, sertifikasi prajabatan, sertifikasi masa jabatan, jenjang karier berdasarkan kompetensi dan pendidikan master, serta benchmarking ke luar negeri.

Kompetensi yang dikembangkan pada diri guru harus selaras dengan kompetensi abad 21, seperti yang telah dikembangkan Singapura dan finlandia. Guru harus futurolog sebagaimana dijelaskan oleh Dr (HC) Ir Abdul Kadir berikut. Hampir semua orang tua ketika memilih sekolah untuk anaknya memiliki salah satu kriteria yang wajib dipenuhi: sekolah bisa mengantarkan anaknya untuk meraih hidup lebih baik di masa depan. Karena itu wajar bila sekolah dengan alumni berprestasi di beragam bidang kerja, menjadi pusat tujuan orang tua untuk menyerahkan putra putrinya.

Dalam kacamata sekolah, untuk memenuhi harapan dan kebutuhan orang tua seperti itu, tidaklah mudah. Kebutuhan saat ini dan saat yang akan datang berubah-ubah. Seperti zaman dahulu yang tidak menggunakan surat elektronik, dan sekarang justru membutuhkan. Maka, keterampilan yang dibutuhkan siswa pun berbeda.

Guru sebagai aspek terpenting di sekolah, mau tidak mau harus menjadi futurolog. Dia tidak mengajarkan apa yang dibutuhkan oleh siswa untuk saat sekarang saja, tapi justru apa yang dibutuhkan oleh siswa di masa mendatang. Guru harus mampu memprediksi apa dan bagaimana masa depan siswanya. Guru harus tahu itu!

Inilah yang membedakan sekolah dengan museum. Museum hanya memberikan masa lalu untuk dijadikan pengetahuan masa sekarang. Sekolah justru memberikan masa kini untuk dijadikan bekal di masa yang akan datang. Menjadi kewajiban guru untuk mengolah masa lalu di museum menjadi bekal masa depan siswanya.

Sebuah kesalahan besar ketika sekolah hanya membanggakan masa lalu yang sudah dicapai para siswanya. Pada kondisi seperti ini sekolah cenderung berada pada zona nyaman. Tak mengenal kata improvisasi untuk masa depan. Akibatnya pondasi masa lalunya justru tergeser oleh perubahan kebutuhan zaman.

Pahamilah kebutuhan pokok siswa. Sekiranya seriap waktu kebutuhan manusia terus berganti, maka kemampuan siswa yang paling dibutuhlan adalah kemampuan untuk mempelajari perubahan kebutuhan-kebutuhan. Menyiapkan siswa pembelajar yang mampu dan tahap menghadapi perubahan zaman.

Setiap siswa membutuhkan dua hal. Pertama, akhlak. Sesuatu yang tetap dan terus dibutuhkan hingga kapan pun. Ia tidak pernah berubah. Setiap orang ~di masa apa pun yang berbeda~ tetap akan menaruh hormat pada orang yang memiliki akhlak baik. Dalam aspek ini tidak ada pembelajaran paling bagus selain contoh dari guru.

Kedua, kemampuan dan kemauan belajar. Guru sebisa-bisanya menanamkan kepada muridnya kemampuan untuk belajar. Mampu mandiri memelajari kompetensi dirinya. Kemampuan inilah yang seringkali absen dan menghasilkan siswa yang seolah tidak mampu mengikuti perubahan zaman.

Kita bisa mencontoh pohon mangga. Bijinya ditanam sepuluh tahun yang lalu, kemudian tumbuh, berbuah dan dibutuhkan di masa sekarang. Bahkan jika kemudian tumbuh hingga lima puluh tahun kemudian, buahnya tetap dinanti. Pohon mangga tahan perubahan cuaca di setiap pergantian waktu.

Siswa juga harus demikian. Sekolah dan keluarga menjadi tanah, pijakan awal untuk terus tumbuh. Sekolah dan keluarga harus bekerja sama untuk menghadirkan pohon mangga yang benar-benar tangguh dan enak buahnya. Jika sekolah dan keluarga tidak bekerja sama, siswa sudah dapat dipastikan tidak bisa tumbuh dengan baik.

Dengan kebutuhan demikian, guru tidak bisa hanya sebatas memikirkan masa lalu atau saat ini bagi siswanya. Tapi guru juga harus berperan sebagai pembaca masa depan dan memiliki kemampuan untuk memahami kebutuhan yang akan datang bagi para siswanya. Siapa yang mampu membaca kebutuhan anak di masa depan, maka akan menjadi guru dan sekolah terbaik.

Antusiasme dalam belajar juga tuntutan untuk bisa meningkatkan kualitas keilmuan seorang guru. Zaman akan terus berubah, pelajaran tidak akan pemah tetap. Apa yang dulu dipelajari, belum tentu Sekarang berguna. Sampai di sini makin gamblang bagaimana posisi seorang guru seperti sudah dijelaskan-ibarat futurolog yang harus memprediksi apa kebutuhan siswa di masa yang akan datang. Guru yang tidak mau meningkatkan kualitas keilmuanya sama artinya memperosokkan masa depan Siswanya. Wahai guru! Janganlah menggiring siswa menjadi orang asing di suatu masa.

Ada orang pintar yang kepintarannya hanya untuk dirinya sendiri. Ada pula orang orang pintar yang bisa membuat pintar orang lain. Itulah sejatinya guru. Guru tidak hanya butuh kecerdasan, tapi guru adalah sebuah flashdisk yang setiap kali dicolok ke komputer, akan siap mentransfer semua data dengan begitu mudah. Dibutuhkan seni untuk mentransfer ilmu kepada siswa.

Maka, guru bukan hanya orang cerdas, tapi tingkatannya melebihi orang cerdas. Dia tidak hanya berpikir bagaimana belajar, tapi bagaimana membuat yang dipelajari mampu dengan mudah dipahami oleh siswa. Guru harus memutar otak cara mengajar, media apa yang cocok, bahkan pengondisian kelas, atau tempat belajar yang cocok. Target utamanya adalah membuat siswa lebih mudah memahami.

Bagi guru, materi pembelajaran nomor dua. Bagaimana cara menyampaikannya, itu yang panting. Orang cerdas tapi tidak memiliki keahlian mengajar, akan kesulitan mentransfer pelajaran yang mudah sekalipun. Guru sebaliknya harus mampu mentransfer pelajaran yang susah menjadi mudah di mata Siswa. Oleh sebab itu kompetensi paling utama dari guru adalah kemampuan dalam mentransfer ilmu. Berapa besar kapasitasnya, dan seberapa cepat proses mentransfer data, menjadi ukuran seni mengajar seorang guru.

Untuk mengajarkan satu kosa kata saja, guru harus berpikir bagaimana kosa kata itu bisa dimengerti dan dihafalkan, sampai bagaimana kosa kata itu bisa benar-benar membekas di kepala siswa. Maka, ketika mengajarkan buah kelapa dalam bahasa Inggris, guru dianjurkan membawa buah kelapa yang nyata. Bukan hanya gambar. Siswa tidak bisa menyentuh gambar, hanya melihat. Sedangkan buah kelapa nyata benarbenar terabstraksi dalam otak. Dengan demikian tidak hanya dihapal, tapi juga benar-benar diingat.

Ketika mengajarkan berhitung, guru harus berpikir bagaimana agar Siswa dengan kecerdasan rendah bisa cepat mengerti. Hanya menulis 7 x 7 berarti 49, berarti membuat siswa itu berpikir dari mana asal 49. Lain halnya kalau diajarkan alur berpikirnya terlebih dahulu, kemudian diajarkan cara perkalian percepatan menggunakan jari jemari dengan menyenangkan, seperti bermain. Keberhasilan seni mengajar seorang guru, bila ia sukses membuat siswa merasa senang dalam belajar.

Syarat utama sebagai guru adalah mampu berbahasa dengan baik dan benar. Bahasa adalah syarat utama dalam menyampaikan maksud guru kepada siswa. Contoh sederhananya, ketika seorang guru yang hanya mampu berbahasa Indonesia, diserahi siswa dari luar negeri yang hanya mampu berbahasa Inggris. Apa yang dibicarakan guru tidak dipahami siswa. Apa yang diinginkan siswa tidak dipahami guru. Di sini tidak terjadi interaksi, apalagi transfer ilmu. Karena itu, kemampuan berbahasa guru harus sempurna.

Tuntutan guru dalam berbahasa sekarang tentu saja berbeda dengan dulu. Dulu cukup mampu berbahasa Indonesia lisan dan tulisan, karena kebutuhan penggalian keilmuan tidak seperti sekarang. Dengan berkembangnya ilmu begitu cepat, kini dibutuhkan kemampuan guru dalam menguasai bahasa internasional, yaitu bahasa Inggris. Penguasaan bahasa ini akan memberikan guru keleluasaan dalam mencari bahan dan metode pengajaran.

Rangkuman dari kemampuan berbahasa dengan baik dan seni dalam mentransfer ilmu akan menghasilkan guru yang ideal. Guru dengan dua kemampuan ini mampu menjadi guru yang diharapkan oleh banyak sekolah. Sebaliknya, guru yang tidak baik biasanya memiliki kekurangan dalam dua hal ini. Seni yang kurang baik akan membuat pelajaran sulit tetap sulit, dan bahasa yang tidak sempurna akan membuat penjelasan guru tidak dapat dimengerti.

Keempat, Kemuliaan guru

Setiap guru harus menjadi teladan, menjaga martabatnya dan meyakini, bahwa identitas guru adalah mulia di mata manusia dan Tuhan Yang Maha Esa. Masyarakat dan Pemerintah memuliakan guru karena dedikasi guru kepada bangsa dan Negara yang tinggi.

Gagasan Dr (HC) Ir Abdul Kadir Baraja yang berkaitan dengan kemuliaan guru adalah sebagai berikut. Guru pada dasarnya memiliki kedudukan lebih tinggi dibanding profesi lain. Orang yang sukses hidupnya, bagus kariernya, dilengkapi harta kekayaan melimpah, dia tidak akan lupa bahwa ada guru yang mengajarinya. Artinya, yang meninggikan martabat guru bukanlah hartanya, tapi ilmu yang dimilikinya. Secara alamiah guru akan dihormati karena kelebihan ilmu dan kemampuan mentransfer moral dan ilmunya kepada siswa-siswanya.

Tentu saja menjadi guru butuh pengorbanan besar. Contoh sederhana, bandingkan menjadi dokter spesialis dengan dosen kedokteran. Pilihan secara materi tentu saja menjadi dokter spesialis. Namun, karena panggilan jiwa dan kecintaan terhadap pendidikan, menjadikan mengajar sebagai pilihan. Guru adalah manusia yang dipilih oleh Allah.

Dalam al Quran dijelaskan ”… Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (Al Mujadalah: 11). Kedudukannya sudah jelas lebih tinggi dibanding yang lain. Ketinggiannya tidak hanya satu derajat, tapi tertulis jelas beberapa derajat. Derajat keikhlasan, derajat ketekunan, derajat sebagai pendidik tersemat semuanya kepada guru.

Namun demikian ayat ini didahului dengan seruan: ”Hai orang-orang yang beriman”. Artinya derajat yang diberikan hanya kepada guru yang menghiasi dirinya dengan iman, melengkapinya dengan bekal pengetahuan. Tanpa iman akan minus akhlak. Tanpa akhlak guru tidak pantas digugu dan ditiru. Dengan demikian urutannya menjadi guru yang beriman dan berakhlak akan ditinggikan derajatnya oleh Allah dibanding yang lain.

Secara tidak langsung bisa dikatakan, kelebihan martabat guru secara khusus diberikan oleh Allah. Martabat inilah yang selanjutnya mampu menentukan kualitas pendidikan. Guru bermartabat berarti guru beriman dan berakhlak mulia. Kualitas guru demikian berimplikasi langsung kepada kualitas siswanya. Guru bisa menentukan peradaban manusia, bahkan profesi manusia, dan ujungnya martabat sebuah bangsa.

Bahkan tentang tingginya martabat orang-orang berilmu Allah menekankan dalam Al Quran, bahwa mereka ditempatkan kedudukannya setelah malaikat dalam persoalan persaksian akan Allah. “Allah menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia, para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyaksikan yang demikian).” (Al Imran: 18).

Dalam tafsir al Misbah dijelaskan, orang-orang berilmu dengan keilmuannya akan semakin mengantarkan kepada kesadaran adanya pencipta alam semesta. Orang berilmu lebih mudah menyaksikan, bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT. Guru dengan keilmuannya dengan kata lain mampu lebih dekat kepada Allah SWT.

 Oleh karena itu, guru bukanlah profesi yang hanya dipandang sebelah mata. Ada unsur ilahiah di dalamnya. Sudah sepantasnya sebelum mengajar guru berwudlu dan berdoa. Kalaupun perempuan dan sedang berhalangan, tetap dianjurkan untuk berwudlu sebagai bentuk penghormatan atas martabat yang sudah diberikan Allah kepada mereka. Dengan begitu ilmu pengetahuan yang diajarkan akan tembus ke dalam sanubari siswa. Guru harus menghadirkan Allah dalam dadanya.

Guru menjadi salah satu profesi yang memiliki alasan panggilan jiwa. Rasanya jika tidak mengajar ada yang kurang dalam hidup. Bahasa guru lebih sering ”mengabdi” bukan bekerja. Terlepas dari persoalan tunjangan, panggilan hati untuk menjadi guru lebih dikarenakan kemuliaan seorang guru, baik di mata manusia atau di mata Sang Pencipta.

Tanpa guru manusia akan menjadi bodoh. Dalam al Qur’an selalu tersebut kata-kata ’Allama’, mengajarkan. Seperti di surat Ar Rahman ayat 2. Atau di surat al Alaq. Allah memberi tahu kita bahwa ‘Dia mengajarkan manusia yang tidak diketahuinya’, dari tidak tahu menjadi tahu. Ketika ada proses transfer ilmu, berarti ada guru yang mengajarkannya. Guru pada akhimya tidak hanya mengajarkan, tapi iuga memberikan pendidikan.

Profesi guru merupakan profesi yang mulia dan agung. Dengan profesi itu guru menjadi perantara antara manusia dan penciptanya, Allah SWT. Kalau kita renungkan, tugas guru itu seperti halnya tugas para utusan Allah. Kesakralan seorang guru, bukan karena ilmu dan tingkah lakunya, tetapi kedudukan dan posisi yang tinggi itu karena guru menjadi perantara turunnya keberkahan dan ilmu dari Allah SWT.

Imam al Ghazali bahkan menyampaikan, ”Seorang yang berilmu kemudian bekerja dengan ilmunya. Dia dinamakan orang besar di bawah kolong langit ini. Ia bagai matahari yang memberi cahaya orang lain sedang ia sendiri pun bercahaya. Ibarat minyak kasturi yang baunya dinikmati orang lain, ia sendiri pun harum.” (Imam Ghazali).

Guru secara sederhana bisa diibaratkan seperti senter bagi orang yang mau jalan di kegelapan. Bentuknya kecil, seperti tidak ada harganya. Tapi, cahayanya terang, menjangkau jarak yang jauh. Tanpanya orang tidak bisa leluasa berjalan di kegelapan. bahkan ketakutan tersesat di gelapnya jalanan.

Artinya secara bentuk, guru mungkin hanya bagian kecil saja. Namun secara peran justru sangat tidak bisa dilupakan, apalagi disepelekan. Begitu pentingnya peran senter dalam setiap perjalanan, sehingga setiap siswa mengingat betul siapa yang sudah memberikannya, dan tidak akan melupakannya. Murid tidak pernah lupa gurunya. Sebaliknya, karena begitu banyak senter sudah dibagikan ke semua orang, guru terkadang sampai lupa satu persatu siswanya.

Namun demikian, kemuliaan guru juga tidak timbul begitu saja. Kemuliaan guru lahir tidak hanya sebatas karena mengajar. Akan tetapi kemuliaan guru juga akibat dari penjagaan pribadinya dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan. Rasanya naif kalau ada guru justru mabuk. Murid tidak percaya karena yang mengajar saja mabuk.

Hal yang perlu diingat adalah sifat murid yang cenderung mudah meniru gurunya. Bagi mereka guru bukan hanya pengajar, tapi juga sebuah model yang diidolakan. Segala tindak-tanduknya ditiru. Mereka mungkin tidak tahu yang dilakukan buruk. Alasan mereka hanya ‘meniru guru’. Oleh sebab itulah guru lahir dari singkatan digugu dan ditiru. Tidak hanya dipatuhi, tapi juga ditauladani.

Imbalan dari guru tentu saja bukan hanya ganjaran di dunia. Akhirat juga didapatkan oleh guru. Seperti yang termaktub dalam al Quran, ”Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (OS, 52: 21)

Kelima, Kesejahteraan Guru

Kesejahteraan guru harus lahir dan batin. Sejahtera batin ditandai dengan kebahagiaan (happiness) dan loyalitas serta dedikasi yang tinggi terhadap profesi guru. Sejahtera lahir ditandai dengan kecukupan hidup yang layak untuk keluarga guru.

Guru sebagai elemen sentral mengartikan, bahwa kehilangan guru berarti kerugian cukup besar. Apalagi jika guru itu memiliki posisi penting di sekolah. Harus menyisihkan banyak tenaga dan waktu untuk mencari penggantinya. Sayangnya jika kualitas penggantinya tidak sama bahkan di bawahnya. Tugas besarnya tentu saja bagaimana mengupayakan cara mempertahankan guru agar tidak berpindah rumah dan kerasan menetap dalam jangka panjang.

Penyelenggara sekolah mesti menciptakan dan menjaga rasa nyaman bagi sang guru dalam bekerja. Nyaman bukan berarti tanpa masalah. Karena di setiap lembaga pasti ada saja masalah atau kendala yang terjadi dalam perjalanan pekerjaan. Nyaman juga bukan berarti tanpa disiplin sehingga tidak pernah mendapatkan teguran. Boleh bertindak semaunya. Rasa nyaman justru lahir dari keadaan manajemen yang tertata dengan baik dan dijalankan dengan kedisiplinan tinggi.

Maksud utamanya adalah adanya rasa berkeadilan yang diciptakan oleh penyelenggara. Disiplin ditetapkan untuk semua pihak tanpa pengecualian. Itu juga usaha untuk menciptakan rasa berkeadilan. Kepentingan pribadi disingkirkan, utamakan kepentingan bersama. Rasa nyaman juga berarti memberikan sesuatu kepada yang tepat dan dengan porsi yang tepat, meski tidak seimbang. Ketika penyelenggara memberikan amanat kepada guru Fulan, itu bukan karena hubungan keluarga atau faktor kedekatan, tapi semata karena kemampuannya.

Selanjutnya adalah merasa senang dalam bekerja. Menempatkan seseorang pada posisi yang tepat sesuai dengan kecondongan kemampuan yang dimiliki akan menjadikan sang guru seperti menemukan dunianya. Ketika sudah berada pada dunia yang dicintainya, maka setiap hari akan merasa seperti tidak bekerja. Senang atas apa yang dilakukan. Tandanya adalah melakukan sepenuh hati tugasnya tanpa merasa kelelahan atau stres. Ia punya dorongan kuat mengembangkan diri dan kompetensinya.

Tidak lupa apresiasi atas pekerjaan yang telah dilakukannya. Apresiasi bisa atas prestasi yang sudah dicapai selama berada dalam lembaga pendidikan. Atau atas kesetiaan yang sudah dijalani selama bertahun-tahun mengabdi. Masing-masing memiliki daya tarik tersendiri. Apresiasi ini memberikan efek rasa bahwa dirinya dihargai atas kerja keras yang sudah dilakukannya.

Setelah senang dalam bekerja, kemampuan terbaiknya sudah dikerahkan, hal yang tidak kalah penting adalah meningkatkan pengetahuan atau keterampilannya. Bagi penyelenggara, ini adalah kewajiban. Namun bagi yang menerima, ini merupakan penghargaan. Ia merasa mendapatkan perhatian tinggi dari penyelenggara pendidikan.

Bahkan jika ada guru atau personal lain yang tidak berprestasi lalu mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan dirinya berupa pengetahuan dan keterampilan, maka ini akan dibaca sebagai bentuk perhatian sangat tinggi. Dia tidak merasa disisihkan, apalagi terbuang meski kemampuannya pas-pasan. Filosofinya ketika seseorang diberi perhatian terus-menerus, maka timbal baliknya tidak hanya ucapan terimakasih, tapi juga pengabdian yang lebih tinggi.

Yang terakhir adalah merasakan kecukupan dalam penghasilan. Meskipun berada di urutan akhir. namun terkadang persoalan ini yang menjadikan guru merasa nyaman dalam berkerja. Berkecukupan bukan berarti berlebihan. Cukup berarti mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Ketika kebutuhan hidupnya terpenuhi, guru tidak akan memikirkan hal lain di luar sekolah.

Penyelenggara terkadang tidak memberi perhatian karena guru-guru yang ada di sekolah itu belum memerlukan. Mungkin karena masih hidup membujang, sendirian. Tapi kalau sudah berkeluarga, secara alamiah guru akan mempertimbangkan bagaimana agar kebutuhan hidupnya terpenuhi. Ketika tidak terpenuhi, sudah bisa dipastikan cepat atau lambat akan meninggalkan sekolah. Oleh sebab itu bagaimana memenuhi kesejahteraan guru harus menjadi pertimbangan utama agar guru berkualitai bisa menetap untuk bersama-sama meningkatkan kualitas sekolah.

Guru yang sudah bertahun-tahun di sekolah berarti guru yang terlatih dan berpengalaman. jika kecewa terhadap penyelenggara, mereka akan mencari ladang baru yang mampu mewadahi segala kebutuhannya demi menafkahi keluarga.

Fatalnya ketika penyelenggara menganggap hal ini tidaklah penting. Terutama ketika guru masih muda dan kebutuhannya masih belum banyak. Namun hal yang pasti adalah, guru itu akan menikah, kemudian memiliki anak, sehingga kebutuhannya pun berkembang.

Ketika pendapatannya tidak bertambah, ada dua kemungkinan besar yang selanjutnya terjadi. Pertama, mencari penghasilan tambahan. Kedua, memilih keluar. Keduanya merugikan penyelenggara pendidikan. Yang pertama menjadikan fokus pekerjaan di sekolah berkurang. Yang kedua, membuat penyelenggara pendidikan harus mencari pengganti yang masih harus diuji kemampuan dan kesetiaannya.

Yang wajib dilihat adalah kepekaan penyelenggara terhadap semua hal ini. Kepekaan untuk mendeteksi munculnya persoalan lebih dini sebelum persoalan menjadi lebih rumit. Bahkan menjelma menjadi bom waktu yang memicu semua elemen bereaksi negatif.

Kepekaan yang tinggi akan menjadikan semua persoalan bisa cepat diatasi. Hasilnya, guru nyaman dan merasa seperti di rumah sendiri. Begitulah yang disampaikan Dr (HC) Ir Abdul Kadir Baraja dalam bukunya “Kaderisasi Sejak Dini” (2017).

*) Dr SHOBIKHUL QISOM, MPd, Direktur Kualita Pendidikan Indonesia

Tags: Guru ProfesionalMemerdekakanPembelajaranShobikhul Qisom

Related Posts

Meriahkan Kegiatan PAUD Sakinah Panjalinan, Rizqia Juara 1 Lomba Lari Bendera

Meriahkan Kegiatan PAUD Sakinah Panjalinan, Rizqia Juara 1 Lomba Lari Bendera

by Radar Jatim
29 Agustus 2025
0

BANGKALAN (RadarJatim.id) -- Suasana meriah...

SMA Negeri 1 Taman Launching Deep Learning, Pembelajaran Kokurikuler

SMA Negeri 1 Taman Launching Deep Learning, Pembelajaran Kokurikuler

by Radar Jatim
12 Agustus 2025
0

SIDOARJO (RadarJatim.id) – Deep Learning,...

Kolaborasi Dengan Pakar Pendidikan Unesa, SMAN 1 Wonoayu Bekali Guru Deep Learning

Kolaborasi Dengan Pakar Pendidikan Unesa, SMAN 1 Wonoayu Bekali Guru Deep Learning

by Radar Jatim
31 Juli 2025
0

SIDOARJO (RadarJatim.id) – Setelah dilakukan...

Load More
Next Post
‘Teaching Challenge for Parents’ Semarakkan Hari Guru Nasional 2021 KB-TK Al Muslim

'Teaching Challenge for Parents' Semarakkan Hari Guru Nasional 2021 KB-TK Al Muslim

Radar Jatim Video Update

Berita Populer

  • Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Soft Launching KM Dharma Kencana V, Fasilitas Mewah Berkapasitas 1.400 Penumpang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ribuan Warga Doakan Keluarga Besar SMK Antartika 2 Sidoarjo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Analisis Semantik Puisi ‘Aku Ingin’ Karya Sapardi Djoko Damono

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kampus yang Tak Lagi Dihuni Intelek: Mengapa Dosen Mencari Eksistensi Diri di Luar Kampus?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Radar Jatim adalah media online Jatim yang memberikan informasi peristiwa dan berita Jawa Timur dan Surabaya terkini dan terbaru.

Kategori

  • Artikel dan Opini
  • Ekonomi Bisnis
  • Ekosistem Lingkungan
  • Esai/Kolom
  • Feature
  • Finance
  • HAM
  • Hukum dan Kriminal
  • Infrastruktur
  • Kamtibmas
  • Kemenkumham
  • Kesehatan
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Lain-lain
  • Layanan Publik
  • Lifestyle
  • Literasi
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Ormas
  • Otomotif
  • Pariwisata
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pertanian
  • pinggiran
  • Politik
  • Religi
  • Sastra/Budaya
  • Sosial
  • Tekno
  • TNI
  • TNI-Polri
  • video
  • Wisata

Kami Juga Hadir Disini

© 2020 radarjatim.id
Susunan Redaksi ∣ Pedoman Media Siber ∣ Karir

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum dan Kriminal
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Tekno
  • Ekonomi Bisnis
  • Artikel dan Opini

© 2020radarjatim.id

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In