Oleh Much. Khoiri
Saya menerima kiriman buku pesanan saya dari Himpunan Sarjana Kesusasteraan Indonesia (HISKI), berjudul 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer: Sastra, Politik Narasi, dan Kemanusiaan (2025)—selanjutnya saya sebut “Buku PAT” dalam tulisan ini.
Saya timang-timang buku PAT itu, dan saya menjelajahinya secara cepat. Saya berdecak kagum: Masyaa Allah. Seperti yang saya bayangkan sebelumnya, buku PAT sangat tebal, yakni 1.168 halaman, berisi 46 artikel serius dari pakar-pakar Hiski dan penulis undangan. Saya berharap, ia tebal bukan hanya wujud fisiknya, melainkan juga bobot isinya.
Sejenak kemudian, saya meminta anak untuk menjepret saya sedang memanggul buku PAT di pundak. Memandangi hasil jepretan foto, saya spontan teringat Sisyphus—atau dalam versi Indonesia ditulis Sisifus. Mengapa ingatan saya langsung melesat pada sosok Sisyphus?
Dalam esai terakhir buku The Myth of Sisyphus, Albert Camus—sastrawan dan filsuf Prancis berdarah Aljazair—membandingkan absurditas kehidupan manusia dengan situasi yang dialami Sisyphus, tokoh dalam mitologi Yunani yang dikutuk untuk selama-lamanya mengulangi tugas yang sia-sia mendorong batu karang ke puncak bukit, tetapi batu itu bergulir jatuh kembali.
Setiba di lembah, Sisyphus mendorongnya ke atas, dan membiarkannya jatuh ke lembah, dan begitu seterusnya, tanpa henti. Apa yang dilakukannya seolah tanpa makna (meaningless). Namun, esai ini menyimpulkan, “Perjuangan itu sendiri…sudah cukup untuk mengisi hati manusia. Kita harus membayangkan bahwa Sisyphus berbahagia.”
Maka, saya tulis di dalam batin, “Sisyphus yang berjuang mendorong dan menggelindingkan batu saja berbahagia, apalagi saya yang memanggul buku PAT untuk dibawa ke ruang baca atau taman yang nyaman—plus menyeruput minuman kesukaan—agaknya akan menemukan bukan hanya kebahagiaan, melainkan mutiara-mutiara makna dan hikmah dari para penulis PAT yang terpelajar.”
Hidup ini absurd, kita tidak tahu apa sejatinya di balik apa yang kita lakukan, sebagaimana Sisyphus mendorong dan menggelindingkan batu itu juga absurd. Sekilas, apa yang dilakukannya kesia-siaan, suatu kerutinan yang hampa makna. Hanya manusia “gila” yang rela menerima hukuman atau kutukan. Tetapi, Sisyphus menikmatinya, dan ternyata ada hikmah perjuangan: sebuah kebahagiaan.
Saya bukan Sisyphus, tentu saja. Meski demikian, rasa-rasanya benar pula bahwa ada kemiripan dalam menjalani suatu kegiatan. Kalau Sisyphus mendorong dan menggelindingkan batu ke atas bukit dan turun kembali, saya akan membaca berulang-ulang buku PAT yang tebal itu. Saya baca satu-dua tulisan, lalu saya istirahat karena lelah mencerna isinya, dan akan membacanya kembali di waktu lain.
Saya mungkin absurd di mata orang lain. Bagi orang yang tidak suka literasi, khususnya tidak suka membaca, mereka mungkin akan membatin saya seperti manusia gila seperti Sisyphus. Untuk apa membaca buku setebal itu, kok seperti tidak ada pekerjaan lain saja. Bukankah masih banyak kegiatan yang bisa menghasilkan uang?
Menggeluti literasi bukanlah masalah uang. Literasi menjadi kebutuhan primer, agar tetap survive dalam hidup terkini yang disruptif—perubahan mendadak secara masif dan tak terduga. Jika saya tidak suka literasi, maka amblaslah saya ditelan gelombang zaman. Dan nyatanya, sebagaimana Sisyphus, saya menemukan kebahagiaan.
Ya, sebagaimana Sisyphus, saya akan menikmati satu per satu dari 46 artikel yang terhimpun dalam buku PAT ini. Mohon izin ya, saya akan menikmati buku PAT yang dieditori Prof. Novi Anoegrajekti, dkk., dan dibuka dengan puisi: “Membaca Pram” oleh Djoko Saryono dan “Bumi Manusia di Atap Tua Blora” oleh Tengsoe Tjahjono. {*}
*Much. Khoiri (nama pena Dr Drs Much. Koiri, MSi), dosen Kajian Sastra/Budaya dan Menulis Kreatif FBS Unesa, anggota Hiski Komisariat Unesa, founder Rumah Virus Literasi, editor, dan penulis 81 buku. Profil lengkap: https://muchkhoiri.com/2021/01/tentang-penulis/




