GRESIK (RadarJatim.id) — Cuaca ekstrem disertai gelombang laut tinggi kembali melumpuhkan aktivitas pelayaran dari dan menuju Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. Kondisi ini berdampak langsung terhadap ketersediaan bahan pangan dan memicu kenaikan harga kebutuhan pokok di pasar tradisional.
Sejak Jumat, 9 Januari 2026 hingga kini, seluruh layanan transportasi laut, baik kapal cepat maupun kapal feri, tidak bisa beroperasi alias lumpuh total Akibatnya, ratusan calon penumpang pun terpaksa tertahan, baik di Pelabuhan Gresik maupun di Pulau Bawean.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bawean, tinggi gelombang laut di perairan Bawean masih tergolong berbahaya bagi pelayaran. Kepala BMKG Bawean, Usman Kholid, menyebutkan, gelombang di jalur selatan Bawean yang menjadi lintasan kapal penumpang mencapai hingga 2,5 meter.
“Perairan Bawean bagian selatan, jalur kapal Express Bahari, Gili Iyang, hingga kapal LCT, tinggi gelombang masih berkisar 2,5 meter dan berpotensi berlangsung hingga 16 Januari 2026,” jelas Usman, Selasa (13/1/2026)
BMKG memprediksi potensi penurunan gelombang terjadi pada 17 Januari 2026. Namun, kepastian kondisi laut tetap bergantung pada dinamika atmosfer harian. Menguatnya Monsun Asia, angin kencang, serta kemunculan awan Cumulonimbus (CB) menjadi faktor utama tingginya gelombang laut di wilayah tersebut.
Akibat terhentinya pelayaran lebih dari sepekan, dampak ekonomi mulai dirasakan masyarakat Bawean. Hasil inspeksi mendadak Tim Kecamatan Sangkapura di Pasar Desa Kotakusuma pada Senin (12/1/2026) menunjukkan sejumlah bahan kebutuhan pokok mulai langka. Stok sayur-mayur menipis, sementara harga telur ayam naik dari Rp 32 ribu menjadi Rp 35 ribu per kilogram. Harga daging ayam bahkan melonjak dari Rp 50 ribu menjadi Rp 60 ribu per kilogram (naik 20 persen).
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua MUI Kecamatan Sangkapura, KH Masyhudi Washi, menyampaikan keprihatinannya terhadap dampak cuaca ekstrem yang semakin dirasakan masyarakat. Hal itu disampaikannya melalui sambungan telepon WhatsApp pada Rabu (14/1/2026).
“Cuaca ekstrem ini benar-benar berdampak. Transportasi laut tersendat lebih dari satu minggu, dan akibatnya ketersediaan bahan pangan terganggu. Di pasar, harga kebutuhan pokok sudah mulai naik dan ini sangat dirasakan masyarakat Bawean,” ujarnya.
Atas nama MUI Sangkapura, KH Masyhudi Washi berharap Pemerintah Kabupaten Gresik dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur segera turun tangan merespons kondisi tersebut.
“Kami berharap ada langkah cepat dari pemerintah, terutama pengiriman kapal berkapasitas besar agar stok kebutuhan pangan di pasar aman dan harga bisa kembali normal,” tegasnya.
Selain itu, MUI juga mengimbau masyarakat Bawean untuk tetap bersabar dan bertawakal menghadapi situasi ini.
“Kepada masyarakat, kami mengajak untuk bersabar dan tawakal. Ini ujian dari Allah SWT. Mari kita terus berdoa agar cuaca ekstrem segera berlalu dan kondisi kembali normal,” pungkasnya.
Penundaan pelayaran menuju Pulau Bawean diberlakukan secara resmi sejak 10 Januari 2026 berdasarkan Pengumuman Nomor AL.820/1/10/UPP.Bwn/2026 yang dikeluarkan Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Kelas III Bawean, menyusul peringatan cuaca buruk dari BMKG. BMKG juga mengimbau nelayan tradisional untuk menunda aktivitas melaut dan meminta seluruh pihak mengutamakan keselamatan hingga kondisi perairan kembali kondusif. (har)







