SURABAYA (RadarJatim.id) – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menggelar pembukaan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) pada Senin (1/9). Rencananya kegiatan ini dilaksanakan off line, tapi mengingat masih marak demonstrasi akhir-akhir ini, pimpinan Unusa memutuskan pelaksanaan PKKMB dilakukan secara on line atau daring (dalam jaringan).
“Mengingat kondisi di Surabaya khususnya dan Indonesia umumnya sedang tidak kondusif, sehingga keputusan ini diambil demi kenyamanan dan keamanan bersama,” kata Rektor Unusa, Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng.
Di Unusa, pelaksanaan PKKMB bukan sekadar mengenalkan kehidupan kampus, tapi dirancang juga untuk menanamkan nilai kebangsaan dan membentuk karakter, sejalan dengan tema yang diangkat, Empowering With VISION: Values Driven Inovation for A Sustainable Future. Diharapkan para mahasiswa baru Unusa mampu mengintegrasikan nilai-nilai kebajikan (values) dalam setiap inovasi yang diciptakan.
Lebih jauh, tema tersebut diarahkan untuk membentuk generasi muda yang visioner, memiliki integritas, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi keberlanjutan bangsa dan dunia.
Hal tersebut sejalan dengan yang disampaikan oleh Rektor Unusa pada sambutan pembukaan PPKMB. Ia menegaskan di Unusa mahasiswa baru akan ditempa menjadi manusia terbaik yang sebesar-besarnya dapat memberikan manfaat bagi sesama manusia. Kurikulum Unusa memungkinkan mahasiswa memiliki kompetensi menyeluruh. “Terkait pengetahuan, keterampilan, dan attitude atau tata krama,” bebernya.
Ada sekitar 4.600 mahasiswa baru Unusa, termasuk mahasiswa program pendidikan guru (PPG) dan sekitar 1.450 mahasiswa yang mengikuti kegiatan PKKMB. Rektor Unusa juga menyampaikan bahwa Unusa baru saja memperingati hari lahir yang ke-12. “Di usia yang ke-10 tahun, Unusa jadi salah satu dari 100 perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia yang terakreditasi Unggul, dari ribuan perguruan tinggi yang ada,” ungkapnya.
Pada 2024 Unusa juga berhasil mencapai peringkat 35 perguruan tinggi nasional versi Webometric. Serta penelitiaan dan pengabdian masyarakatnya berada klaster mandiri, yang mana merupakan klaster tertinggi penelitian. “Dan dari ribuan perguruan tinggi di Indonesia, tidak lebih dari 100 yang mencapai klaster mandiri tersebut,” tuturnya.
Dalam kesempatan ini, turut menghadirkan Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia (PSIK-Indonesia), Prof. Yudi Latif, MA., Ph.D. Dalam pemaparannya, Prof. Yudi Latif menjelaskan tentang kehidupan berbangsa, bernegara, jati diri bangsa, dan pembinaan kesadaran bela negara. Ia menekankan bahwa mahasiswa baru yang kini memulai perjalanan akademiknya perlu memahami peran strategis mereka sebagai calon pemimpin bangsa.
Yudi mencontohkan bahwa para pelopor bangsa, mulai dari Budi Utomo, Sumpah Pemuda, hingga pemikiran Soekarno tentang Pancasila, lahir dari para pemuda berusia belasan hingga 20 tahunan. (hms/rio)







