SURABAYA (RadarJatim.id) – Arsitektur dan seni rupa tak semestinya berjalan dalam ego disiplin ilmu masing-masing, seakan berjalan sendiri-sendiri. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, arsitektur dan seni saling menyublim dalam banyak elaborasi.
Keduanya tak terpisahkan, berkelindan saling dukung satu sama lain. Diskusi ini menjadi upaya membuka cara pandang baru tentang seni dan arsitektur, ketika keduanya berusaha mencari irisan untuk berjalan beriringan sebagai praktik kehidupan maupun ilmu yang diharapkan memiliki manfaat luas untuk masyarakat. Yang tak kalah pentingnya, dunia perkembangan anak yang berkait dengan seni dan arsitektur juga akan dibahas. Bagaimana mestinya orang tua mendorong perkembangan anaknya dari sisi kreativitas, yang nantinya akan berdampak secara holistik dalam kehidupan sang anak.
Diskusi dengan tajuk “Relativitas Antara Seni dan Arsitektur” ini akan dibawakan oleh 3 narasumber dari berbagai latar belakang. Ketiganya Adalah: Hermawan Dasmanto (arsitek), Christine Wonoseputro (akademisi) dan Agus Koecink (seniman) pada Minggu (8/2/2026). Diskusi yang berlangsung di Grand Royal Regency K5 03A, Cluster Lavender, Wage, Taman, Sidoarjo, Jawa Timur, ini akan dipandu oleh Defry Ardianta, seorang akademisi sekaligus praktisi arsitektur dari Surabaya, yang menjadi sesi penutup dari rangkaian pameran tunggal Samurai Jalu: Mulai Dari Rumah.
Salah satu nara sumber diskusi, Hermawan Dasmanto mengungkapkan, bahwa seni dan arsitektur bertumbuh dari konteks sosial, budaya, dan ekosistem tertentu yang mempengaruhi bentuk kehadiran dan pemaknaannya. Dalam pemahaman modern, keduanya kerap dipisahkan melalui dikotomi antara seni sebagai ranah ekspresi dan arsitektur sebagai ranah fungsi.
Seni cenderung bersifat menyeruak dan menyebar, memancarkan makna serta mencari medium atau inang untuk disusupi dan ditafsirkan ulang. Sementara arsitektur bersifat merangkul dan mengintegrasikan, mengasimilasi berbagai elemen di sekitarnya seperti aktivitas, struktur, material, dan simbol ke dalam satu kesatuan ruang.
“Melalui pertemuan dua kecenderungan ini, seni dan arsitektur sesungguhnya tidak pernah sepenuhnya terpisah, melainkan saling membentuk pengalaman ruang manusia,” ujar Hermawan, Sabtu (7/2/2026) menyampaikan preview.
Narasumber lainnya, yakni Christine Wonoseputro berpendapat, bahwa tantangan zaman digital akan membuat banyak orang bertanya kembali apakah pendidikan seni dan dukungan dalam mengasah kapabilitas seni visual masih relevan bagi anak-anak ke depan?
Open House rumah Ambarteja, Larasrasa dan Pameran Tunggal Kedua Samurai Jalu, menurutnya, merupakan sebuah realita pembelajaran keluarga yang tertata apik dalam sebuah kemasan publik untuk menantang apakah masyarakat. Selain itu, ia juga masih memberikan ruang eksplorasi dan ekspresi bagi anak-anak dalam menyatakan jati diri kemanusiaannya yang terancam serbuan Artificial Intelligence (AI).
“Hal ini menitipkan sebuah pesan hakiki akan perwujudan ruang kehidupan yang akan menjadi titipan bagi para perupa matra dan spasi dalam menghadirkan karya-karya arsitektur terutama hunian dan ruang tumbuh kembang anak di masa depan,” katanya.

Sedangkan Agus Koecink berpandangan, bahwa berbicara tentang relativitas dalam seni dan arsitektur, sepertinya membahas pergeseran besar dari seni sebagai dekorasi menjadi seni sebagai fungsi dan persepsi. Keberadaannya, kata Agus, mengubah cara membangun gedung, tetapi sekaligus cara memandang ruang dan waktu.
Era Bauhaus, Sinkronisasi Seni dan Industri
Pada era ini, relativitas muncul dalam bentuk fleksibilitas fungsi. Seni tidak lagi bersifat absolut atau hanya untuk estetika kaum elit, melainkan relatif terhadap kebutuhan manusia modern. Artinya, ekspresi kebebasan, seperti karya Samurai Jalu bisa menjadi bagian dari arsitektur karya sang ayah.
Keindahan sebuah objek bersifat relatif terhadap seberapa baik objek tersebut berfungsi. Sementara ruang universal, konsep, bahwa ruang harus bisa beradaptasi dengan berbagai aktivitas manusia, bukan terjebak dalam satu fungsi kaku.
Pada dimensi waktu, arsitektur mulai mempertimbangkan bagaimana manusia bergerak melalui ruang. Sebuah gedung tidak dinilai dari satu sudut pandang (perspektif tunggal), melainkan dari pengalaman temporal saat orang berjalan di dalamnya. Dikatakan, dalam seni rupa, relativitas bisa dilihat dari komposisi.
Dtambahkan, dua tokoh besar Bauhaus, Wassily Kandinsky dan Paul Klee, membawa relativitas ke dalam teori warna dan bentuk. Dalam keseimbangan dinamis, tidak ada titik pusat yang absolut dalam lukisan. Keseimbangan dicapai melalui tegangan antarwarna dan garis yang saling berinteraksi.
Sementara ditinjau dari persepsi psikologis, makna sebuah warna atau bentuk bersifat relatif terhadap apa yang ada di sekitarnya. Lingkaran kuning, misalnya, akan terlihat berbeda jika diletakkan di atas latar belakang biru dibandingkan latar belakang putih.
“Sejak dalam perkembangannya, seni dan arsitektur berhenti mencari kebenaran tunggal atau gaya yang abadi. Sebaliknya, mereka mulai merayakan hubungan antara subjek (manusia), objek (karya), dan ruang-waktu. Keindahan menjadi sesuatu yang cair, bergantung pada fungsi, material, dan pengalaman personal pengamatnya,” pungkasnya. (har)







