GRESIK (RadarJatim.id) — Menghadirkan Ramadan sebagai momentum kebangkitan spiritual, MUI Gresik, Jawa Timur menggelar Majelis Istigotsah dan Sholawat bersama warga binaan di Pesantren At-Taubah Rutan Kelas IIB Gresik, Rabu (4/3/2026).
Kegiatan ini menjadi ikhtiar MUI Gresik untuk membangkitkan semangat, optimisme, serta tekad memperbaiki diri para warga binaan agar mampu meraih kemuliaan Ramadan. Semangat itu dipompakan kepada warga binaan, meski mereka tengah berada di penjara.
Wakil Ketua Umum MUI Kabupaten Gresik, Prof Dr Abdul Chalik, MAg menyampaikan, bahwa seluruh warga binaan adalah santri Pesantren At-Taubah.
“Panjenengan semua adalah santri. Santri itu orang yang mencari ilmu, dan pencari ilmu dijamin surga oleh Allah, insya Allah jannatun na’im,” ujarnya memberikan penguatan mental.
Tidak hanya itu, Prof Chalik juga menjelaskan makna filosofis kata ‘santri’, sebagaimana dhawuh Kiai As’ad Syamsul Arifin.
“Huruf ‘sin’ dalam kata ‘santri’ bermakna satirul ‘anil ‘uyub, menjadi penutup dan benteng dari perbuatan buruk. Huruf ‘nun’ bermakna naibul ‘anil ulama, wakil para ulama yang menyampaikan pesan kebaikan dan mencegah kemungkaran, dan huruf ‘ta’ bermakna tarkul ma’siat, meninggalkan segala bentuk kemaksiatan,” ujar Prof Chalik.
Disampaikan, agar para warga binaan yang kini menjalani proses hukum tidak pesimistis. Ia menyebut, banyak ulama dan tokoh besar pernah merasakan penjara, di antaranya Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad bin Hanbal, Muhammad Rasyid Ridha, Muhammad Abduh, Hasan al-Banna, hingga Buya Hamka.
“Namun kondisi tersebut tidak menghalangi mereka untuk tetap mulia di hadapan Allah. Maka manfaatkan waktu di sini untuk refleksi dan mendekatkan diri kepada Allah,” pesannya.
Kepala Rutan Gresik, Eko Widiatmoko, SH, MH, menyampaikan apresiasi kepada MUI Kabupaten Gresik yang terus memberikan perhatian dalam pembinaan keagamaan warga binaan.
“Kepada para warga binaan, kami berharap semoga bisa terus lebih baik setiap harinya, dan ketika ‘lulus’ (selesai menjalani masa hukuman, Red) menjadi manusia yang lebih baik. Apalagi Idulfitri besok ada remisi, jadi jangan sampai melanggar, agar remisinya tidak batal,” kata Kepala Rutan, yang disambut gemuruh tepuk tangan dari warga binaan.
Sementara itu, Ketua Baznas Kabupaten Gresik, Muhamad Mujib, MPdI. menyampaikan terima kasih atas konsistensi MUI Gresik dalam membina para santri At-Taubah. Ia menyampaikan, bahwa Baznas akan terus mendukung kegiatan pembinaan keagamaan di Rutan.
“Sekecil apa pun niat baik kita, semoga membawa kebaikan. Yakinlah manusia hidup untuk meraih kebahagiaan dunia dan kebahagiaan abadi di akhirat,” tuturnya.
Istigotsah dan salawat dipimpin oleh KH Syaiful Munir, Dewan Pertimbangan MUI Kabupaten Gresik. Para santri yang merupakan warga binaan mengikuti rangkaian istigotsah (doa bersama) dan salawat bil qiyam dengan khusyuk.
Dalam nasihatnya, Kiai Syaiful Munir mengingatkan, bahwa Allah Maha Baik dan senantiasa memberikan kemudahan kepada hamba-Nya.
“Allah itu mudah, yang sulit itu hablumminannas. Mudah-mudahan kita semua mendapat ampunan Allah dan juga ampunan manusia,” ujarnya.
Tidak lupa, Kiai Syaiful Munir juga mengajak seluruh santri untuk tidak lupa mendoakan kedua orang tua, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.
“Jangan lupa mendoakan orang tua kita, yang masih hidup semoga panjang umur, yang sudah meninggal semoga diampuni Allah dan min ahlil jannah,” dhawuh Kiai Syaiful Munir.
Turut hadir dalam acara tersebut, Sekretaris Umum MUI Kabupaten Gresik Makmun, MAg, Bendahara Umum Khoirul Anwar, SH, MH, Ketua Bidang Dakwah, Penelitian dan Pengembangan Masyarakat Drs Nur Fakih, para ustadz pengajar Pesantren At-Taubah, serta mitra dakwah MUI Gresik dari perwakilan Nurul Hayat Gresik.
Melalui istigotsah dan salawat ini, MUI Kabupaten Gresik berharap Ramadan benar-benar menjadi bulan pengampunan, pembinaan, dan kebangkitan spiritual bagi seluruh warga binaan. Dengan demikian, kelak kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik dan bermartabat. (har)







