KEDIRI (RadarJatim.id) – Jalan berlubang di Desa Sumbercangkring, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur yang selama ini dikeluhkan warga, akhirnya berujung maut. Suratmi (50), pedagang sayur, meninggal dunia setelah terjatuh saat melintas di ruas jalan rusak yang dikabarkan lama dibiarkan tanpa perbaikan menyeluruh.
Kecelakaan itu terjadi pada Jumat (13/12/2025) lalu, sekitar pukul 03.00 WIB. Dalam kondisi minim penerangan, korban mengendarai sepeda menuju pasar. Warga menyebut, peristiwa tersebut sebagai kecelakaan yang “tinggal menunggu waktu”.
“Jalannya sudah lama rusak. Kami cuma menunggu kapan ada yang jadi korban,” ujar Mbak Tum, warga setempat saat dikonfirmasi, Senin (15/12/2025).
Pagi hari setelah kejadian, warga mendapati penanda mencolok berdiri tepat di atas lubang jalan. Itu penanda yang menyerupai patok kuburan atau maesan itu terbuat dari bok kotak yang diberi kayu penyangga dan di tutup karung.
Di bagian wajah karung tertulis kalimat protes tajam, “Pajak telat di denda, jalan rusak diabaikan”, disertai simbol jari tengah teracung.
Bagi warga, penanda tersebut bukan sekadar ekspresi emosi, melainkan sindiran keras terhadap kebijakan pemerintah di bidang infrastruktur jalan. Mereka menilai, negara hanya bisa tegas menagih kewajiban pajak bagi warga, namun abai melindungi keselamatan warganya.
“Kalau urusan pajak, cepat. Tapi soal jalan rusak, kami disuruh sabar,” timpal seorang warga di samping Mbak Tum.
Peristiwa maut itu terjadi sekitar tiga hingga empat hari lalu. Hingga kini, keluarga korban masih menjalani rangkaian doa dan tahlilan, sementara keresahan warga terus menguat.
Tanpa menunggu respons pemerintah, warga kemudian menambal lubang jalan secara swadaya. Paving, pasir, dan semen digunakan untuk menutup lubang yang cukup dalam, setara satu hingga satu setengah paving.
Mohammad Adib, tetangga korban, mengatakan, penambalan tersebut dilakukan, karena warga khawatir korban jiwa akan kembali berjatuhan.
“Lubangnya ada dua titik, di pinggir dan hampir ke tengah. Kalau kendaraan besar lewat, itu sangat membahayakan pengendara lain yang tidak mengetahui adanya lubang,” ujar Adib.
Ia juga mengungkapkan kekecewaan terhadap kualitas perbaikan jalan sebelumnya yang dilakukan sekitar setahun lalu. Menurutnya, perbaikan tersebut cepat rusak dan menimbulkan masalah baru, berupa debu pasir yang masuk ke rumah warga.
“Ditambal pasir, debunya ke mana-mana. Jalannya rusak lagi. Sekarang malah ada korban,” kata Adib.
Bagi warga Sumbercangkring, tragedi ini menegaskan, bahwa jalan rusak bukan sekadar persoalan kenyamanan, melainkan ancaman keselamatan. Mereka berharap pemerintah daerah segera melakukan perbaikan permanen dan menghentikan pola pembiaran yang berulang. (rul)







