Catatan Pameran Seni Rupa Tunggal Samurai Jalu
Oleh Saiful Hadjar
Rumah dijadikan pameran seni lukis, patung, grafis dan berbagai jenis seni rupa merupakan hal biasa. Hal tersebut sama halnya dengan pameran seni rupa (seni lukis khususnya) yang sering diadakan di galeri, kantor atau plaza, mall dan sebagainya.
Tetapi, dalam hal ini lain pameran tidak sekadar pameran seperti yang sering kita lihat. Lebih dari itu, dengan mengadakan pameran melalui proses banyak pertimbangan memanifestasikan diri sebagai pelaku seni dalam pamerannya, tentunya banyak hal yang menarik dan jadi bahan pembicaraan.
Sudah sewajarnya setiap seniman mengadakan pameran tentu ada sesuatu yang dikejar, tidak lain adalah nilai, yaitu nilai estetika. Seperti yang dilakukan oleh pukis anak, Samurai Jalu yang sudah lama belajar di sanggar lukis DAUN, rumahnya dijadikan tempat pameran. Ini merupakan perburuan nilai yang tidak lagi menempatkan keindahan menjadi hal terpenting dalam estetika. Ia tidak menyentuh keindahan dalam arti dangkal atau terbatas, sehingga hanya menyangkut benda-benda yang diserap dengan penglihatan, yaitu berupa keindahan dari bentuk dan warna secara kasat mata.
Dalam konsepsi tentang nilai estetika (aesthetic value), keindahan dianggap salah satu jenis nilai. Untuk mengetahui lebih jelas, jenis-jenis nilai, seperti misal nilai moral, nilai ekonomi, nilai pendidikan, dan juga nilai pameran berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan secara komperhensif, disebut nilai estetika.
Ukurannya tidak selalu sama untuk masing-masing hal atau karya seni. Biasanya nilai melekat pada berbagai hal dengan aneka macam alasan, misalnya karena kemanfaatan, sifatnya langka, corak atau yang lainnya.
Sementara nilai estetika dalam perkembangan seni rupa kita, tidak hanya menunjukkan hal yang positif, juga meliputi nilai negatif. Dalam kecenderungan seni rupa dewasa ini, keindahan tidak lagi menjadi tujuan paling penting dari seni.
Sebagai seniman, menganggap lebih penting mengguncangkan publik ketimbang menyenangkan orang dengan karyanya. Dengan melalui keindahan maupun kejelekan, akan menumbuhkan guncangan perasaan atau kejutan publik. Oleh karena itu, keindahan dan kejelekan sebagai nilai estetika yang positif dan negatif, tidak jarang menjadi sarana penelaah atau kajian seni rupa kita.
Home Schooling
Tentu sangat menarik ketika Samurai Jalu menjadikan rumahnya sebagai ruang pameran. Pameran seni rupa (patung, lukis, grafis) di rumah sebenarnya mudah dilakukan. Namun, ketika hal ini dilakukan tidak sebatas rumah menjadi ruang pameran, tetapi lebih jauh menjadi sebuah karya seni rupa yang kompleks, inilah yang justru tidak mudah dilakukan oleh seorang seniman, terutama anak yang masih duduk di kelas VI Sekolah Dasar ini.
Dua rumah bersebelahan yang baru selesai dibangun difungsikan sebagai ruang pameran. Masing-masing rumah, tanahnya berukuran 7 x 24 m dan bangunannya 150 m2. Rumah tersebut berlantai dua. Lantai pertama setinggi 4 meter dan lantai dua 3,5 meter.
Ini merupakan sebuah kerja kreatif yang sangat besar –untuk ukuran seorang anak– tidak lepas dari peran aktif orang tuanya, Andy Rahman (berlatar arsitektur) dan guru sanggar seni lukis, Arik S. Wartono, sarjana Pendidikan Seni Rupa). Sebuah proses kerja kreatif pada anak (Samurai Jalu), secara tidak langsung mengenalkan proses kerja seni rupa yang berkelindan dengan berbagai aspek kehidupan manusia dan berbagai ilmu pengetahuan, sains dan berbagai jenis kesenian.
Pameran seni rupa tunggal Samurai Jalu kedua ini bertajuk “Mulai Dari Rumah” yang digelar pada 24 Januari 2025 hingga 8 Februari 2026, di Grand Royal Regency K5 O3A, Cluster Lavender, Wage, Taman-Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia.

Salah satu elemen seni rupa instalasi karya Samurai Jalu, berupa kain putih yang dicoreti tinta hitam digantung di beberapa titik dalam rumah.
Diawali dengan kegiatan melukis di rumah yang didampingi guru maupun orang tuanya, terjadi dialog berulang-ulang antara Samurai, orang tua, dan guru. Munculah gagasan dan keinginan memamerkan karya-karyanya sebanyak 30 lukisan yang dibuat tahun 2023 – 2025. Ini menjadi salah satu unsur seni rupa instalasi, yang menawarkan ruang interaksi dengan berbagai pihak, dan mencari segala kemungkinan yang lebih luas atau lebih banyak dan menarik sebagai karya yang bisa memberi inspirasi dan dinamis.
Menurut Arik S. Wartono, guru Sanggar Seni Lukis DAUN, pilihan rumah diinstal menjadi sebuah karya seni rupa merupakan tantangan baru untuk Samurai. Ini juga sebuah keberanian menerima kebebasan berekspresi dengan idiom baru. Dalam hal ini peran serta orang tua Samurai Jalu, yakni Andy Rahman sebagai fasilitator, menjadi kunci kebebasan proses kreatif.
Samurai Jalu, pelukis anak didikan Sanggar Lukis DAUN yang punya perjalan panjang dalam dunia seni lukis, telah banyak mengikuti event bergengsi dan mendapat penghargaan dari dalam maupun luar negeri, tidak hanya menampilkan lukisan, tetapi juga menghadirkan meja belajar, lemari dan berbagai mainan yang disenangi, melakukan coretan-gambar bargaya naif di dinding dan bagian rumah lainnya, juga menyertakan berbagai benda yang ada hubungannya dengan prosesnya kreatifnya. Selain itu, juga dihadirkan video tentang proses kreatifnya, menjadikan lebih hidup karya seni rupanya bernafas edukasi.
Seni rupa bertajuk “Mulai Dari Rumah” memberikan ruang interaksi pada pengunjung (penikmat), baik dari kalangan anak-anak, remaja maupun orang dewasa dan dari segmen mana pun. Pameran ini mengharapkan interaksi berperan serta terhadap penggarapan visual dan memberikan kontribusi pemikiran dalam gagasan menuju penyempurnaan karya.
Menginstal rumah menjadi karya seni rupa karya Samurai Jalu, dilihat dari fungsinya, bisa jadi sarana dan prasarana home schooling. Rumah adalah sarana dan seni rupa (instalasi) merupakan prasarana sekolah alternatif (home schooling), menempatkan anak sebagai subjek dengan pendidikan anak secara at home. Keduanya saling berkait, memberikan kesempatan bagi anak untuk berkembang sesuai dengan kebutuhan mereka, seperti yang dituturkan oleh Dr Seto Mulyadi, psikolog pendidikan Universitas Indonesia (UI).
Sarana dan prasarana dalam hal ini adalah dua konsep yang sering digunakan dalam konteks pendidikan, sejatinya adalah kebudayaan, sebuah proses menyempurnakan harkat dan martabat kemanusiaan pada anak membutuhkan kemauan, kesabaran sekaligus keberanian dan komitment dari berbagai pihak yang terkait untuk membangun insan peradaban seiring dengan tantangan zaman. {*}
*) Saiful Hadjar, Penggagas dan penggerak Kelompok Seni Rupa Bermain (KRSB), tinggal di Surabaya.






