BANYUWANGI, – Kabupaten Banyuwangi di Jawa Timur merupakan salah satu daerah yang menggambarkan potret wajah kebhinekaan di Tanah Air.
Masyarakat dari berbagai latar belakang suku hidup berdampingan di wilayah yang punya julukan The Sunrise of Java dengan damai dan saling menghormati.
Suku Osing memang penduduk asli Banyuwangi. Tetapi penduduk kabupaten yang memiliki luas 5.782,50 kilometer persegi dan terluas di Jawa Timur ini juga ada Suku Jawa, Madura, Bali, Mandar, serta Arab. Warga keturunan Tionghoa juga ada sini.
Keberagaman suku dan agama adalah kekuatan utama Kabupaten Banyuwangi. Harmoni antar warga yang berbeda suku, budaya dan keyakinan menjadi kunci kemajuan daerah.
Sejumlah organisasi kepemudaan lintas agama, seperti Pemuda Ansor, Pemuda Muhammadiyah, Pemuda Katolik, Pemuda Hindu, Pemuda LDII, Pemuda Konghucu, serta Pemuda GKJW bersatu merajut kebersamaan.
Ketua DPRD Banyuwangi I Made Cahyana Negara berharap kerukunan dan persatuan antar suku dan agama tetap terjaga demi kedamaian Banyuwangi.
“Saya berharap ke depannya bisa semakin solid, dan saya sangat mengapresiasi,” papar I Made Cahyana Negara.
Banyuwangi terus berkembang pesat karena semua elemen masyarakatnya kompak, menyatu, dan saling menghargai perbedaan. Bahkan kini telah bertransformasi menjadi Kota Wisata.
“Masing – masing suku punya tradisi dan budaya yang unik. Tradisi Suku Osing banyak dijual sebagai festival untuk memikat wisatawan berkunjung,” ulas Ketua DPRD Banyuwangi dari Fraksi PDIP.
Warga keturunan Arab pun tak mau ketinggalan mengenalkan kuliner khas Timur Tengah dalam ajang Arabian Street Food.
Begitupun dengan warga keturunan Tionghoa yang mengenalkan budaya dan kuliner khas mereka lewat ragam Festival Pecinan.
Suku-suku yang lain pun tak mau ketinggalan. Mereka sama-sama punya peran dalam menumbuhkan perkembangan Banyuwangi sebagai destinasi wisata baru yang bikin kangen.***







