Oleh Dina Marianah*
Perkembangan teknologi digital yang begitu cepat, perubahan iklim yang kian nyata, juga menguatnya isu keberagaman, serta perubahan dunia kerja di masa depan menghadirkan tantangan besar bagi dunia pendidikan. Sekolah Dasar, sebagai fondasi pendidikan formal, tidak lagi cukup hanya mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Anak-anak perlu dibekali karakter yang kuat agar mampu beradaptasi, berpikir kritis, dan tetap berpegang pada nilai-nilai moral di tengah perubahan zaman.
Di sinilah pentingnya kehadiran Kurikulum Integrasi Karakter. Kurikulum ini tidak memisahkan pendidikan karakter sebagai mata pelajaran tersendiri, tetapi justru mengintegrasikannya ke dalam seluruh aktivitas sekolah, mulai dari pembelajaran di kelas hingga kebiasaan sehari-hari.
Mengapa Pendidikan Karakter Perlu Diintegrasikan?
Selama ini, pendidikan karakter di sekolah sering hanya dihadirkan dalam bentuk slogan, tata tertib, atau kegiatan seremonial. Padahal, karakter tidak tumbuh dari hafalan nilai, melainkan dari pengalaman yang diulang secara tat asas (konsisten). Anak belajar jujur bukan karena diminta menghafal definisi kejujuran, tetapi karena ia melihat, mengalami, dan mempraktikkannya setiap hari.
Melalui Kurikulum Integrasi Karakter, nilai-nilai seperti religiusitas, disiplin, tanggung jawab, gotong royong, kemandirian, integritas, dan empati menjadi bagian dari denyut kehidupan sekolah. Nilai-nilai tersebut tidak hanya tertulis di dokumen kurikulum, tetapi hidup dalam keseharian peserta didik.
Hasil penelitian di salah satu Sekolah Dasar (SD) menunjukkan, bahwa pendidikan karakter telah dirancang secara eksplisit dalam kurikulum sekolah. Nilai karakter dipetakan ke dalam program semester, rencana pembelajaran, dan tema-tema pelajaran. Guru tidak bekerja berdasarkan asumsi pribadi, melainkan memiliki panduan yang jelas tentang karakter apa yang ingin dikembangkan melalui setiap kegiatan belajar.
Integrasi karakter nampak nyata dalam berbagai aktivitas sekolah. Kegiatan pembiasaan, seperti doa bersama, piket kelas, budaya senyum, salam, sapa, sopan, dan santun (5S), serta program Jumat Bersih menjadi ruang berlatih karakter bagi peserta didik (siswa). Anak-anak belajar disiplin melalui tanggung jawab piket, belajar peduli lingkungan lewat kegiatan kebersihan, dan belajar empati melalui aksi sosial.
Di dalam kelas, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada capaian akademik. Guru mengaitkan materi pelajaran dengan nilai-nilai karakter melalui cerita, diskusi, bermain peran, dan pembelajaran berbasis proyek. Saat anak bekerja dalam kelompok, mereka belajar bekerja sama dan menghargai perbedaan. Saat menyelesaikan proyek, mereka dilatih untuk bertanggung jawab dan mandiri.
Integrasi pendidikan karakter dalam kurikulum terbukti membawa dampak positif. Peserta didik menunjukkan sikap yang lebih disiplin, peduli terhadap lingkungan, mampu bekerja sama, serta lebih toleran dalam menyikapi perbedaan. Pembelajaran berbasis proyek juga mendorong anak menjadi lebih komunikatif, kreatif, dan adaptif. Ini keterampilan dan kompetsnsi penting untuk menghadapi tantangan abad ke-21 dan dunia kerja masa depan.
Lebih dari itu, anak-anak tidak hanya “tahu” tentang nilai kebaikan, tetapi mulai membiasakan diri untuk “menjadi” pribadi yang berkarakter.
Tantangan
Meski demikian, penerapan Kurikulum Integrasi Karakter bukan tanpa tantangan. Kesiapan guru menjadi faktor kunci. Tidak semua guru memiliki pemahaman yang sama tentang cara mengintegrasikan karakter ke dalam pembelajaran. Selain itu, penilaian karakter masih menjadi pekerjaan rumah karena membutuhkan konsistensi, ketelitian, dan refleksi berkelanjutan.
Tanpa dukungan kebijakan sekolah dan penguatan kompetensi guru, Kurikulum Integrasi Karakter berisiko hanya menjadi dokumen administratif, bukan praktik nyata.
Kurikulum Integrasi Karakter menawarkan pendekatan yang relevan untuk menjawab tantangan multidimensi pendidikan saat ini. Agar berjalan efektif dan berkelanjutan, sekolah perlu membangun komitmen bersama, memperkuat pelatihan guru, serta melibatkan orang tua sebagai mitra pendidikan karakter.
Dengan kurikulum yang hidup dalam praktik sehari-hari, Sekolah Dasar tidak hanya mencetak anak yang cerdas secara akademik, tetapi juga membentuk generasi yang berkarakter, peduli, dan siap menghadapi masa depan. {*}
*) Dina Marianah, SPd, Mahasiswa Magister Pendidikan Dasar, Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Kepala TK Gema Kids Terpadu Bungah Gresik, dan Ketua Perkumpulan Kelompok Bermain Muslimat NU 110 Al-Firdaus Sidorejo, Bungah, Gresik, Jawa Timur.







