KEDIRI (RadarJatim.id) — Rumah Chukil Kayu, adalah rumah milik seorang pemuda berusia 42 tahun di Kelurahan Pare, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Di tempat itu, pemuda ini berhasil menyulap sebuah limbah kayu jati sebagai bahan dasar pembuatan seni lukisan ukir kayu.
Nanang Sigit Purnomo namanya. Pria asal Pare ini telah menggeluti karya seni ukir selama 4 tahun lamanya, di saat negeri ini dilanda pandemi ganas Covid-19.
“Saya terjun mulai tahun 2020, di pertengahan pandemi Sovid-19,” katanya, Kamis (13/2/2025).
Di rumah ini, seluruh dinding rumahnya terhiasi oleh gambar berbagai macam ukuran, yang seluruhnya terbuat dari limbah kayu jati. Dari pembuatnya, papan kayu sebelumnya telah diukir menyerupai sketsa gambar yang akan ditampilkan dalam sebuah pigora, terbuat dari susunan potong kayu. Setelah jadi, pigora yang telah disatukan dengan ukiran gambar itu diberi warna dengan cara dibakar menggunakan kompor gas las.
Menurutnya, ide menggunakan bahan dasar dari limbah kayu jati ini didapatkan dari hasil pengalamannya bersama sang ayah yang juga hobi memanfaatkan bahan bekas, dan diolah menjadi barang yang lebih bernilai.
“Waktu itu, kami berdua tengah berjalan-jalan dan melihat ada setumpuk kayu jati tua bekas perobohan rumah. Ayah yang sangat kreatif pun membawa pulang untuk dijadikan sesuatu yang berguna,” kenangnya.
Selama 4 tahun ini, Nanang mengaku telah menciptakan ratusan karya seni ukir berbahan limbah kayu jati tua. Bahkan saat ini, ia telah meraup puluhan, hingga ratusan juta rupiah atas proses kreatif yang ia lakukan. Uniknya, meskipun Nanang adalah seorang pemeluk agama Kristiani, namun dirinya lebih cenderung demen mengukir wajah-wajah tokoh besar Islam.
Itu dibuktikan dengan ukiran pertama yang ia buat, dengan menggambar tampilan wajah almarhum sang maha guru KH Hasyim Asy’ari, seorang ulama besar bergelar pahlawan nasional dan merupakan pendiri sekaligus Rais Akbar (pimpinan tertinggi pertama) Nahdlatul Ulama (NU).
“Ya berbeda rasanya kalau waktu mengukir tokoh-tokoh Islam, lebih tenang, nyaman dan gimana gitu loh rasanya. Intinya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata,” ujarnya.
Ada juga ukiran dari tokoh-tokoh Islam lainnya, seperti Cak Nun (budayawan Emha Ainun Nadjib, Red), KH Abdurrahman Wahid, Syaikh Kholil Bangkalan, dan masih banyak lagi. Meski begitu, ia tetap profesional mengedepankan toleransi agama dan tak lupa dengan agama yang saat ini dianutnya.
Bukan hanya di tokoh Islam, rupanya belum lama ini, Nanang juga mendapatkan pesanan dari Texas untuk mengukir wajah Jim Bob Moffett, salah satu pendiri dan bos besar Freeport McMoran yang meninggal dunia akibat penyakit komplikasi dan terpapar virus Corona. Kini pesanan itu masih dalam proses pengerjaan.
“Kalau ini jadi ya nanti akan segera dikirim, ini masih menunggu konfirmasi lebih lanjut dari orang luar negeri,” ungkapnya.
Meski telah banyak melahirkan karya seni, Nanang mengaku tetap masih perlu belajar banyak. Itu dilakukan, karena menurutnya masih banyak kekurangan, terutama pada keberanian yang ia rasakan selama memproses lukisan dari limbah kayu jati.
Ia sempat menolak pesanan dari seorang pelanggan untuk dibuatkan gambaran ukiran Nyi Roro Kidul, sosok supranatural dalam cerita rakyat Indonesia yang dipercaya sebagai penguasa Laut Selatan atau Ratu Pantai Selatan.
“Jujur, saya tidak mampu, meskipun dibayar banyak saya tetap tidak mau. Keberanian saya masih terbatas untuk sekarang,” bebernya.
Hingga saat ini, bakat dan kemampuannya itu secara perlahan mulai dikenalkan kepada anak-anaknya, agar tak terputuskan hanya padanya. (rul)







