SURABAYA (RadarJatim.id) Perguruan Silat Nasional Ampuh Sehat Aman Damai (Persinas ASAD) Jawa Timur menggelar Musyawarah Provinsi (Musprov) VI di Gedung Sabilurrasyidin, Jalan Gayungan PTT No. 95, Surabaya, Sabtu (31/1/2026). Musprov VI PERSINAS ASAD Jawa Timur ini dilaksanakan sebagai ajang memperkuat konsolidasi organisasi dan menentukan arah pembinaan lima tahun ke depan.
Organisasi pencak silat Indonesia yang didirikan pada 30 April 1993 ini akan mengevaluasi laporan pertanggungjawaban pengurus sebelumnya, menyusun program kerja, serta memilih ketua dan kepengurusan masa bakti 2026–2031.
Ketua Pengurus Provinsi Persinas ASAD Jawa Timur, Prof. Dedid Cahya Happyanto, M.T menyampaikan bahwa Musprov ke-6 memiliki tiga tujuan utama, yakni mengevaluasi laporan pertanggungjawaban pengurus sebelumnya, menyusun program kerja, serta memilih ketua dan kepengurusan masa bakti 2026–2031.
Musprov VI mengusung tema Membangun Pesilat Jawa Timur yang Profesional, Berprestasi, Berbudaya, dan Berkarakter Luhur. Tema tersebut dinilai sejalan dengan semangat pembinaan jangka panjang di tubuh ASAD.
“Musprov ini menjadi forum tertinggi di tingkat provinsi untuk menentukan arah organisasi ke depan agar semakin profesional dan berprestasi,” kata Prof. Dedid Cahya Happyanto.

Kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus penguatan arah pembinaan pencak silat yang profesional, berprestasi, berbudaya, dan berkarakter luhur.
Pihaknya menyampaikan, rasa syukur atas terselenggaranya Musprov serta mengapresiasi kehadiran seluruh keluarga besar Persinas ASAD dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur.
“Persinas ASAD tidak hanya mengajarkan bela diri, tetapi membina generasi muda agar berprestasi, berakhlak, serta menjunjung tinggi persatuan dan perdamaian antar perguruan,” tegasnya.
Di Jawa Timur, dikatakan bahwa Persinas ASAD telah hadir di 38 kabupaten/kota dan aktif menjalin silaturahmi dengan berbagai perguruan pencak silat yang tergabung dalam IPSI.
Ketua Umum Pengurus Besar Persinas ASAD, Marsma TNI (Purn) H. Sukur M.Si (Han), menambahkan keberhasilan ASAD di Jawa Timur harus ditopang oleh tiga mesin utama yang berjalan serentak dan harmonis.
Yakni pertama, mesin organisasi yang modern, akuntabel, dan tertib administrasi. Kedua, mesin prestasi dengan pembinaan berbasis sport science untuk melahirkan pesilat-pesilat berprestasi. Ketiga, mesin seni bela diri tradisi sebagai akar nilai dan jati diri ASAD.
H Sukur juga menekankan tantangan besar menuju PON 2028, dimana Jatim harus menjadi lumbung prestasi dengan kepemimpinan yang mampu berlari lebih kencang, merangkul seluruh elemen, serta membangun ekosistem prestasi yang tangguh.
Wakil Ketua KONI Jawa Timur, Ir. Dedi Suhayadi, yang hadir dalam kesempatan itu menyampaikan Persinas ASAD sebagai salah satu perguruan pencak silat yang paling tertata di Jawa Timur ini bisa menjadi contoh bagi perguruan lain.
“Tinggal bagaimana mencetak prestasi sebanyak-banyaknya, karena pencak silat adalah harga diri bangsa,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum IPSI Jawa Timur, Ir. H. Bambang Haryo Soekartono (BHS) yang didaulat membuat Musporv ASAD Jatim mengatakan ASAD masuk tiga besar dalam pembinaan prestasi pesilat dan wasit juri.
“Banyak pesilat berprestasi lahir dari ASAD, salah satunya Amri Rusdana yang menembus level internasional. Kami berharap muncul pesilat-pesilat unggulan lainnya,” kata BHS, yang juga Kapoksi Komisi VII DPR RI ini. Bambang.
Pihaknya juga menekankan pentingnya deklarasi damai antarperguruan. Seluruh perguruan diharapkan menjaga persatuan dan kebersamaan sesuai nilai-nilai dalam tujuh janji pesilat.
“Jika ada konflik, itu hanya oknum. Secara umum, perguruan harus tetap guyub dan bersatu,” tegasnya.
Deklarasi Damai Antar Perguruan
Sebelum Musprov VI Persinas ASAD Jawa Timur dimulai, juga digelar deklarasi damai antar perguruan. Ada sembilan perguruan pencak silat menandatangani deklarasi damai masing-masing Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), Tapak Suci, Pagar Nusa, Cempaka Putih, Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia (IKSPI) Kera Sakti, Merpati Putih, Perisai Diri, Persinas ASAD, dan Pencak Silat Militer (PSM).
Deklarasi damai ini wujud komitmen bersama untuk menjaga persatuan dan kondusivitas pencak silat di Jawa Timur. “Semua perguruan harus guyub dan saling menghormati. Kita adalah satu persatuan,” ujar Bambang Haryo.
Ditegaskan bahwa tidak ada satu pun perguruan pencak silat yang mengajarkan kekerasan. Jika terjadi gesekan atau bentrokan antaroknum pesilat, hal tersebut dipastikan tidak mencerminkan ajaran perguruan.
“Semua perguruan mengajarkan kesantunan, budaya, disiplin, serta nilai kebangsaan. Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan NKRI menjadi bagian dari janji pesilat yang harus dijalankan,”
IPSI Jawa Timur berharap kedepan tidak ada lagi oknum yang mencederai nilai-nilai luhur pencak silat sebagai warisan budaya bangsa yang menjunjung tinggi persaudaraan dan persatuan. (RJ/RED)






