KEDIRI (RadarJatim.id) — Pelaku usaha mikro di Kediri mulai mengembangkan inovasi minuman sehat berbahan dasar kedelai sebagai alternatif minuman tinggi protein bagi masyarakat.
Salah satunya dilakukan oleh Gatot Siswanto yang memproduksi minuman sari kedelai murni. Ia menilai, potensi pasar minuman berbahan kedelai di Kediri cukup besar, terlebih daerah ini telah lama dikenal dengan produk olahan kedelainya seperti tahu takwa.
Menurut Gatot, ide memproduksi sari kedelai muncul dari keinginannya menghadirkan minuman sehat bagi masyarakat yang saat ini banyak mengonsumsi minuman instan.
“Minuman dari kedelai ini tinggi protein dan sangat baik untuk tubuh. Kami ingin masyarakat mulai mengenal dan mencintai minuman sehat dari bahan lokal,” ujarnya, Jumat (13/3/2026).
Ia juga mengajak pelaku usaha mikro lainnya untuk bersama-sama mempromosikan produk lokal, sekaligus mendorong masyarakat agar lebih peduli terhadap pola konsumsi yang lebih sehat.
Gatot menjelaskan, sebelum berhasil menemukan komposisi yang tepat, ia dan timnya sempat melakukan berbagai percobaan selama hampir dua bulan. Dalam masa percobaan tersebut, sekitar 4 kilogram kedelai diolah setiap hari untuk mencari formula yang tepat. Tak jarang percobaan itu berakhir gagal sebelum akhirnya menemukan komposisi sari kedelai yang stabil dan layak diproduksi.
“Selama dua bulan kami terus mencoba. Kadang berhasil, kadang gagal. Alhamdulillah, akhirnya kami menemukan formula yang tepat sehingga produksi sekarang bisa lebih stabil,” katanya.
Saat ini usaha sari kedelai tersebut masih berskala kecil dengan dua orang karyawan. Dalam satu kali produksi, sekitar 6 kilogram kedelai dapat menghasilkan kurang lebih 60 liter minuman sari kedelai. Jika dikemas dalam botol ukuran 500 mililiter, jumlah tersebut dapat menghasilkan sekitar 120 botol.
Menurut Gatot, minuman yang diproduksinya dibuat dengan teknik penyaringan mikro, sehingga menghasilkan sari kedelai yang lebih lembut dan tanpa ampas.
“Rata-rata sari kedelai di pasaran masih ada ampasnya. Kalau produk kami benar-benar murni dan lebih halus,” jelasnya.
Selain itu, ia menggunakan air dengan kualitas tertentu agar minuman tetap terjaga kualitasnya. Dalam suhu ruang, minuman tersebut bisa bertahan hingga satu hari tanpa perubahan rasa, sedangkan jika disimpan dalam lemari pendingin dapat bertahan lebih lama.
Permintaan Meningkat Saat Ramadan
Permintaan sari kedelai mulai meningkat menjelang bulan suci Ramadan. Gatot bahkan mengaku telah menerima pesanan dalam kemasan kecil ukuran 200 mililiter yang dinilai cocok untuk anak-anak maupun menu berbuka puasa.
“Ramadan ini minuman sari kedelai sangat cocok untuk berbuka karena segar dan menyehatkan,” katanya.
Meski demikian, Gatot mengakui, bahwa saat ini usahanya masih menghadapi kendala dalam pengurusan legalitas produk minuman. Berbeda dengan produk makanan seperti tahu yang telah memiliki izin dasar, minuman kemasan membutuhkan proses perizinan yang lebih kompleks.
Ia berharap pemerintah daerah dapat membantu pelaku usaha kecil dalam proses pembinaan serta pengurusan izin produksi.
“Kami berharap ada pendampingan agar UMKM bisa berkembang. Kami tetap semangat karena yang kami produksi adalah minuman sehat untuk masyarakat,” ujarnya. (rul)




