KEDIRI (RadarJatim.id) — Perayaan Natal yang digelar Komunitas Masyarakat Sumatera, khususnya suku Batak, di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, menjadi momentum memperkuat solidaritas dan kepedulian terhadap korban bencana di Sumatera. Kegiatan yang berlangsung di SMK Canda Bhirawa, Minggu (28/12/2025) tersebut tidak hanya diisi dengan ibadah dan kebersamaan, tetapi juga dirancang sebagai gerakan kemanusiaan.
Sekitar 250 peserta dari berbagai unsur komunitas, tokoh masyarakat, serta warga turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Pembina Yayasan Tulus Sehati Bersaudara sekaligus Ketua Perkumpulan Orang Sumatera di Pare, Pendiwan, ST, mengatakan, perayaan Natal kali ini secara khusus dikemas dengan misi sosial yang kuat.
“Kami ingin Natal tidak hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi juga membawa makna berbagi kasih dan panggilan kemanusiaan. Semua yang terkumpul hari ini kami persembahkan sepenuhnya untuk membantu saudara-saudara kami di Sumatera,” ujar Pendiwan.
Ia menjelaskan, penggalangan bantuan dilakukan secara gotong royong melalui sumbangan anggota komunitas dalam bentuk parcel, yang kemudian dilelang dan seluruh hasilnya disalurkan melalui BPBD agar tepat sasaran.
“Donasi kami kumpulkan secara internal agar lebih tertib dan terorganisir,” katanya.
Camat Pare M. Nizam Subekti mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai bentuk nyata kepedulian sosial dan penguatan toleransi di tengah masyarakat.
“Perayaan ini menunjukkan bahwa keberagaman di Pare mampu menjadi kekuatan untuk membangun solidaritas dan kepedulian. Pemerintah kecamatan mendukung penuh kegiatan-kegiatan sosial seperti ini,” ujarnya.
Sementara itu, Danramil 0809/11 Pare, Kapten Arm Bangun Adi, menilai, kegiatan tersebut tidak hanya berdampak bagi korban bencana, tetapi juga memperkuat persatuan dan ketahanan sosial masyarakat.
“Kegiatan ini sangat positif. Selain membantu saudara-saudara kita di Sumatera, juga mempererat persaudaraan serta memperkuat persatuan masyarakat,” kata Bangun Adi.
Pendiwan menambahkan, motivasi membantu korban bencana muncul karena banyak anggota komunitas yang masih memiliki ikatan emosional dengan wilayah terdampak.
“Kami mendengar langsung cerita kesulitan mereka, mulai dari tempat tinggal, pangan, kesehatan, hingga pendidikan. Kondisinya sangat memprihatinkan,” tuturnya.
Ia berharap bantuan yang terkumpul dapat memberi manfaat nyata bagi masyarakat terdampak.
“Walaupun nilainya mungkin tidak besar, kami berharap bisa menjadi penguat dan penghiburan bagi mereka bahwa saudara-saudara di Kediri turut peduli,” pungkas Pendiwan, putra asli kelahiran Sumatera ini. (rul)







