Oleh Much. Khoiri
Sekitar tiga dasa warna silam, menulis kreatif mencakup tulisan-tulisan bergenre sastra: prosa (cerpen, novelet, novel), puisi, dan drama. Ada pula yang menganggap esai sebagai tulisan kreatif, sebagaimana ditemukan dalam sastra atau seni budaya.
Dewasa ini, selain mencakup genre-genre sastra, dunia menulis kreatif telah berkembang pesat, menghadirkan genre utama keempat, yakni nonfiksi kreatif (creative nonfiction). Tiga genre utama sendiri—prosa, puisi, dan drama— mengalami perkembangan berkat eksperimen kreativitas penulis. Apa tah lagi genre keempatnya.
Dalam genre prosa, ada novel dan novela dengan berbagai aliran dan bentuk baru, dengan mode publikasi baru berbasis teknologi canggih. Dalam dunia cerpen saja, kini ada fiksi mini (flash fiction), cermin (cerita mini), dan pentigraf (cerpen tiga paragraf). Mungkin akan lahir pensagraf (cerpen satu paragraf)?
Dalam dunia puisi, kini berkembang genre-genre baru, seperti Puisi Esai ala Denny J.A., juga ada Puisi 2.0 ala Endang Kasupardi, Puisi Telelet ala Marjuki, serta genre-genre baru lainnya. Keberanian berkreasi yang berbeda akan terus melahirkan puisi-puisi bergenre baru.
Dalam dunia drama, secara konvensional ada drama tragedi, komedi, dan tragikomedi. Namun, kini drama berkembang, tidak hanya dipentaskan, melainkan juga difilmkan. Persepsi pembaca dipaksa menerima karya film sebagai drama bentuk audiovisual. Hanya kalangan profesional yang tahu, bahwa di balik kerja kreasi drama, ada dua profesi kreatif beririsan: playwriter (penulis lakon pementasan) dan screenwriter (penulis lakon televisi atau film).
Kini semaraklah genre keempat, nonfiksi kreatif (creative nonfiction), yakni penulisan kreatif yang berdasarkan fakta tetapi disajikan dengan teknik menulis kreatif, termasuk berbahasa sastrawi. Sejalan dengan Sonia B. Syvago (2017), tulisan nonfiksi kreatif itu meliputi biografi, otobiografi, narasi personal, esai reflektif, flash nonfiction, blog, testimoni, catatan perjalanan, dan jurnalisme sastrawi.
Dalam perspektif nonfiksi kreatif, hakikatnya biografi, otobiografi, narasi personal dan sejenisnya adalah fakta, tetapi disajikan dengan nuansa estetika (sastrawi). Diksi-diksinya indah dalam makna. Simbolisme, majas, dan gaya bahasa diterapkan secara variatif dan kreatif. Bahkan, ungkapan filosofis dan puitik menghiasi di dalamnya.
Catatan perjalanan Dahlan Iskan atau Gol A Gong adalah tulisan nonfiksi kreatif. Tulisan-tulisan mereka disajikan dalam kemasan sangat menarik (bahasa lincah komunikatif), mengalir, mendeskripsikan detil, sehingga pembaca seakan diajak mengikuti perjalanan. Memainkan emosi pembaca menjadi kekuatan tulisan.
Anda juga bisa mengikuti perjalanan Stephanie Elizondo Griest lewat buku The Best Women Travel Writing 2010, atau James O’Reilly dkk. lewat The Best Travel Writing 2010, atau buku Laporan Jurnalistik Kompas: Ekspedisi Jejak Peradaban NTT. Ketiga buku ini sedikit contoh yang mudah diikuti.
Ada pula jurnalisme sastrawi (literary journalism). Ia adalah fakta, dan itulah titik beratnya, namun penyampaiannya sastrawi (diksi sastra yang estetik). Fakta dinarasikan sebegitu rupa, sehingga pembaca –jika tidak waspada– akan menyimpulkan, bahwa karya yang dibacanya adalah karya fiksi, padahal itu karya jurnalistik.
Contoh buku jurnalistik sastrawi: buku Truman Capote: In Cold Blood (1965/2017), buku Tom Wolfe: The Electric Kool-Aid Acid Test (1968/2008), buku Joseph Mitchell: Up in the Old Habel and Other Stories (1992), atau buku Mark Newzil & Norman Sims: Canoes (A Natural History in North America) (2016). Semua itu bukan novel, melainkan karya jurnalistik sastrawi.
Sekian tahun silam, ada mahasiswa (bukan bimbingan saya) yang menulis proposal skripsi. Dia membahas suatu topik menarik dari buku yang dikiranya sebuah novel. Saat ujian, saya sampaikan, bahwa buku itu karya jurnalistik sastrawi. Saya tunjukkan siapa penulis buku itu, yakni seorang jurnalis dari sebuah media Amerika. Akhirnya, dia mengganti novel untuk skripsinya.
Di samping itu, ada genre baru bentukan dunia kerja, misalnya copywriting dan feature writing. Para pekerja periklanan memerlukan keterampilan copywriting. Sementara, feature writing diperlukan para jurnalis dalam peliputan mendalam atau pembuatan profil tokoh dan tempat bersejarah. Tak mustahil ke depan akan tumbuh genre baru lagi, semisal speechwriting, yakni penulisan teks pidato bagi orang lain.
Begitulah, aneka genre creative writing di atas telah menyebabkan tumbuhnya para penulis kreatif sejalan dengan profesi yang diminati. Mulai sekarang, kita akan menyaksikan perkembangan penulis kreatif yang disruptif. Bahkan, berkat teknologi canggih —termasuk AI— lapangan kerja baru akan bertumbuh dan menuntut keterampilan menulis kreatif tak terduga.
Pertanyaannya, apa signifikansinya semua itu bagi para penulis? Di satu sisi, penulis tertantang untuk menguasai lebih banyak genre tulisan kreatif. Di sisi lain, ini peluang bagi para penulis kreatif untuk menulis lebih banyak genre yang nge-trend dewasa ini. {*}
*) Much. Khoiri (nama pena Dr Drs Much. Koiri, MSi), dosen Kajian Sastra/Budaya dan Menulis Kreatif FBS Unesa, anggota Hiski Komisariat Unesa, Founder Rumah Virus Literasi, editor, dan penulis 81 buku. Profil lengkap: https://muchkhoiri.com/2021/01/tentang-penulis/







