Oleh MOH. HUSEN
Sore itu, dua orang penikmat kopi hitam sedang ngopi bareng di sebuah tempat yang rindang, Ada fasilitas free wifi lagi, hehe. Usai menjalankan aktivitas rutinnya, dua orang orang sahabat ini memang sering ngopi bareng.
Setelah ngobrol basa-basi dan nyruput kopi, mereka pun saling menundukkan muka. Biasalah. Media sosial selalu menyita perhatian mereka. Tegur sapa hanya 5 menit lantas tenggelamdalam pusaran medsos di handphone masing-masing.
Meskipun saling menunduk, bukan berarti mereka diam. Mereka saling ngobrol dan tertawa melihat warna-warni dunia medsos. Sekarang ini semua orang bisa berkomentar, podcast, nge-youtube, seperti orang-orang pintar, meski tanpa harus menjadi pintar.
“Anak kemarin sore kok bisa-bisanya ngomong seperti ini, hahahahaha .…”
“Ngomong apa, bro?”
“Ini, ada anak muda bikin podcast, ngomong seenaknya saja: hidup di larang pakai seragam?”
“Maksudnya pakai baju seragam?”
“Iya. Lihat nih, katanya kalau pakai baju seragam akan membuat pemikiran mudah diseragamkan dan mudah di-remote control. Kan lucu. Nanti kalau ada grup musik pakai seragam putih-putih bisa dianggap akan mengajak hadirin menjadi golput alias golongan putih semua, kan lucu, hahahahaha….”
“Tukang parkir yang berseragam saja, kalau ada coblosan, pilihan politik mereka beda-beda. Inilah yang aku namakan sebagai polusi medsos yang lucu, hehehehe .…”
“Wah, gaya juga istilahmu. Medsos aja pakai ada polusi, hahahahaha ….”
“Lho, iya. Polusi medsos itu bisa merusak pikiran, nurani dan perasaan. Ada polusi medsos yang lucu, ada yang bikin batuk dan wahing, sampai ada pula yang bikin sakit perut dan mencret segala.”
“Hahahahaha ….”
“Lihat nih, polusi yang beredar di medsos ku. Seseorang menulis, harus ada regulasi yang berbunyi: jika masa jabatan kepala desa habis, maka Kadesnya domisioner, perangkat desa juga domisioner. Lantas Pilkades serta rekrutmen ulang perangkatnya. Kalau kepala dusun bisa gantian, benih-benih kepala desa bisa magang dulu di situ.”
“Wah, kalau ini bukan polusi Bos, hahahaha…”
“Kalau gitu apa?”
“Ini namanya makar secara diam-diam, hahahahaha….”
“Hahahahaha…”
Mereka kalau bertemu memang bisa saling tertawa sembari ada saja pemantik taburan ide-ide segar, nakal, dan lucu-lucu dari dua penikmat kopi hitam ini. Nama mereka tak perlu diperjelas, supaya tak jadi polusi yang bikin sakit perut. (*)
Banyuwangi, 25 Mei 2022
*) Penulis adalah Jurnalis RadarJatim.id, tinggal di Rogojampi-Banyuwangi.







