SURABAYA (RadarJatim.id) – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mengukuhkan Prof. Mohamad Yusak Anshori, Drs., M.M., CPM (Asia) sebagai Guru Besar bidang Ilmu Manajemen. Pengukuhan ini tidak hanya menjadi seremoni akademik, tetapi juga menandai lahirnya sebuah gagasan baru yang menarik perhatian: Softbrain Engineer.
Dalam orasi ilmiahnya di Auditorium Unusa, Sabtu (14/2) siang, Pria kelahiran Kediri, 13 Oktober 1967 ini mengajak publik melihat manajemen dari perspektif yang lebih dalam. Ia menilai, pendekatan manajemen konvensional yang selama ini cenderung mekanistik mulai menemui keterbatasan, terutama di tengah era disrupsi yang menuntut manusia bekerja dalam tekanan tinggi, kecepatan perubahan, serta kompleksitas pengambilan keputusan.
Menurutnya, organisasi modern tidak cukup hanya mengembangkan soft skills. Ia menawarkan konsep baru yang disebut softbrain skills, yaitu kemampuan yang berakar pada mekanisme neuropsikologis manusia.
“Perubahan perilaku tidak akan bertahan jika hanya menyentuh permukaan. Softbrain skills menembus hingga cara otak memproses emosi, berpikir, dan berinteraksi,” ungkap Prof. Yusak yang menjadi guru besar pertama di Program Studi Manajemen Unusa.
Suami dari Sadworo Ramadani ini menjelaskan, terdapat empat dimensi utama dalam softbrain skills, yaitu regulasi emosi, kelincahan kognitif, kecerdasan kolaboratif, dan resiliensi emosional. Keempat aspek ini diyakini menjadi fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia yang tangguh sekaligus adaptif terhadap perubahan.
Gagasan tersebut mendapat apresiasi dari Rektor Unusa, Prof. Dr. Ir. Triyogi Yuwono, DEA. Ia menilai konsep softbrain engineer sejalan dengan arah pengembangan kampus melalui strategi GREATS, yang mencakup Growth, Reputation, Empowerment, Advancement, Transformation, dan Sustainability.
Menurut Rektor, pendekatan manajemen berbasis neurosains menjadi langkah strategis dalam membangun organisasi yang tidak hanya produktif, tetapi juga humanistik. “Transformasi organisasi tidak cukup hanya mengandalkan sistem dan teknologi. Kita membutuhkan manusia yang memiliki ketahanan mental dan kecerdasan emosional yang kuat,” ujarnya.
Pengukuhan Prof. Yusak sekaligus menguatkan reputasi Unusa sebagai perguruan tinggi berakreditasi unggul yang terus melahirkan pemikiran inovatif. Sosok Prof. Yusak dikenal sebagai akademisi yang sangat produktif. Dalam setahun terakhir, ia berhasil menerbitkan lebih dari 30 buku manajemen, yang banyak menjembatani teori akademik dengan praktik kepemimpinan di dunia korporasi.
Ke depan, Unusa berharap konsep softbrain engineer dapat dikembangkan lebih luas, tidak hanya dalam dunia akademik, tetapi juga diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan dan kebijakan pengembangan sumber daya manusia nasional.
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, gagasan ini mengingatkan bahwa kemajuan organisasi sejatinya tetap bertumpu pada satu hal mendasar: kualitas manusia di dalamnya. (hms, rio)







