BOJONEGORO (RadarJatim.id) — STIKES Muhammadiyah Bojonegoro berhasil menggulirkan program unggulan bertajuk TARI MODUS LETING yang dilaksanakan secara terintegrasi di tiga desa wilayah Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro. Ketiga desa itu, yakni Desa Karangsono, Jatiblimbing, dan Sumberagung.
Program ini merupakan bagian dari kebijakan institusi yang diimplementasikan melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) STIKES Muhammadiyah Bojonegoro tahun 2026 sebagai wujud pengabdian masyarakat berbasis inovasi dan keberlanjutan.
TARI MODUS LETING merupakan akronim dari Ternak Ayam Mandiri Modal Usaha Sampah Menghasilkan Lele Terintegrasi Gizi, sebuah konsep ekonomi sirkuler yang dirancang untuk menjawab persoalan lingkungan, ekonomi rumah tangga, serta pemenuhan gizi masyarakat desa secara simultan. Program ini berangkat dari gagasan, bahwa sampah rumah tangga, khususnya sampah organik, tidak semestinya dipandang sebagai beban, melainkan dapat diolah menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus manfaat kesehatan.
Ketua STIKES Muhammadiyah Bojonegoro, Dr H Ns Sudalhar, MKep, menyampaikan, bahwa program TARI MODUS LETING merupakan gagasan institusi sebagai respons terhadap persoalan lingkungan dan gizi masyarakat desa yang saling berkaitan. Menurutnya, pendekatan ekonomi sirkuler dipilih agar masyarakat tidak hanya menyelesaikan persoalan sampah, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi dan kesehatan secara langsung.
“Selama ini sampah sering dipandang sebagai beban. Melalui program ini, kami ingin mengubah paradigma tersebut. Sampah justru menjadi sumber daya bernilai, baik sebagai modal usaha, pakan ternak, pupuk, hingga pada akhirnya mendukung pemenuhan gizi keluarga,” jelas Sudalhar, Selasa (10/2/2026).
Ia menambahkan, pelaksanaan program di tiga desa tersebut sekaligus bertujuan menguji efektivitas model pada karakteristik masyarakat yang berbeda. Se;ain itu, prora itu sekaligus membuka peluang replikasi program di desa-desa lain.
Program tersebut dirancang dengan konsep sirkulasi pemanfaatan sampah rumah tangga yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Sampah organik dan sisa makanan rumah tangga masyarakat dimanfaatkan sebagai bahan baku budi daya maggot (larva Black Soldier Fly/BSF) yang memiliki kandungan protein tinggi. Maggot tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai pakan alternatif ternak ayam dan ikan lele, sehingga mampu menekan biaya pakan sekaligus menjaga kualitas gizi ternak.
Selanjutnya, kotoran ayam dan sisa media maggot diolah kembali menjadi pupuk organik yang dimanfaatkan untuk mendukung produksi sayuran rumah tangga. Dengan pola ini, terbentuk satu siklus usaha terpadu yang saling berkesinambungan antara pengelolaan sampah, peternakan, perikanan, dan pertanian skala rumah tangga.
Sementara itu, sampah anorganik seperti plastik, besi, dan kaleng dipilah dan dijual ke pengepul. Hasil penjualannya dimanfaatkan sebagai modal awal untuk pengadaan ayam mandiri serta sarana pendukung peternakan. Skema ini memungkinkan keluarga memulai usaha ternak tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Ayam dan lele yang dihasilkan menjadi sumber protein hewani penting bagi keluarga, khususnya bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia balita.
Pelaksanaan program ini juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kecamatan Dander. Camat Dander, Teguh Wibowo, SH., MH, menilai, bahwa program unggulan tersebut sejalan dengan arah pembangunan desa yang menitikberatkan pada pemberdayaan masyarakat serta pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
“Program ini sangat relevan dengan kebutuhan desa saat ini. Tidak hanya menyentuh aspek lingkungan, tetapi juga berdampak pada peningkatan ekonomi dan kesehatan masyarakat. Kami berharap inovasi seperti ini dapat terus dikembangkan dan diperluas,” ujarnya.
Respons positif juga datang dari masyarakat desa. Perwakilan warga Desa Karangsono sekaligus penerima manfaat program binaan TARI MODUS LETING, Isti’ah, menyampaikan, pendekatan yang dilakukan mahasiswa relatif mudah dipahami dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Konsepnya sederhana dan dekat dengan keseharian warga. Sampah yang biasanya hanya dibuang, sekarang bisa dimanfaatkan untuk ternak dan tanaman. Program ini membuka wawasan baru bagi kami,” ungkapnya.
Mahasiswa KKN STIKES Muhammadiyah Bojonegoro berperan sebagai pelaksana teknis sekaligus pendamping lapangan dalam program ini. Mulai dari edukasi pemilahan sampah, pengolahan maggot, pengelolaan ternak ayam dan lele, hingga pemanfaatan pupuk organik untuk tanaman sayuran, seluruh tahapan dilaksanakan secara partisipatif bersama masyarakat.
Melalui program unggulan TARI MODUS LETING, STIKES Muhammadiyah Bojonegoro berharap dapat menghadirkan model pengabdian masyarakat yang terintegrasi, berkelanjutan, dan berdampak nyata, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan desa berbasis potensi lokal. (red/rj2)







