SURABAYA (Radarjatim.id) – SUN Energy mendukung upaya dekarbonasi Industri hijau. SUN Energy, pengembang PLTS terbesar di Indonesia, menghadirkan solusi energi surya dengan skema pembiayaan tanpa modal awal. Melalui pendekatan sewa atau Build-Own-Transfer (BOT), pelaku industri dapat mengadopsi PLTS tanpa mengeluarkan belanja modal, namun tetap memperoleh penghematan energi hingga 30 persen – 40 persen per tahun, bergantung pada kapasitas sistem dan profil konsumsi listrik harian.

Arif Khamzah Kabid Pemberdayaan Industri Disperindag Jatim, menuturkan, Visi pembangunan Nasional, Industri yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya, secara berkelanjutan.
“Visi pembangunan Nasional ini tertuang pada UU No. 3 Tahun 2014, tentang Industri. Sehingga mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Serta dapat memberi manfaat bagi masyarakat,” tuturnya saat Media Gathering Sun Energy, bersama Media dan stakeholder, Kamis (11/12/2025).
“34 persen emisi nasional bersumber dari aktivitas Industri. 36 persen emisi industri, berasal dari 9 sektor paling lahap energi (yaitu semen, besi dan baja, kimia, pupuk, pulp dan kertas, tekstil, kaca dan keramik, makanan dan minuman, dan otomotif),” ungkapnya.
Upaya Dekarbonasi Industri: Peningkatan Efisiensi Sumber Daya, Penurunan Emisi dan Pengendalian Limbah, Produk Hijau dan Bahan Baku Ramah Lingkungan, Akomodasi Standar Berkelanjutan, Pemanfaatan Energi Bersih (EBT), Penerapan Ekonomi Sirkular dan Green Jobs.
Oky Gunawan, Chief Sales Officer SUN Energy, menjelaskan, SUN Energy mendukung upaya dekarbonasi Industri hijau. Melangkah pada dua tujuan yaitu, industri sebagai motor ekonomi nasional dan industri sebagai kontributor kunci emisi GRK nasional.
“Kebutuhan energi sektor industri di Indonesia terus meningkat seiring ekspansi fasilitas produksi, otomasi manufaktur, dan digitalisasi proses operasional. Di tengah kenaikan permintaan tersebut, efisiensi energi menjadi faktor kunci. Untuk menjaga daya saing dan mengendalikan biaya operasional jangka panjang,” jelasnya.
Eko Hajar Prakoeswo, QA & Sustainability Manager PT Avia Avian Tbk, Sidoarjo, membagikan Roadmap Net Zero Emission yang dimiliki Avian, yaitu dengan target penurunan emisi Gas Rumah Kaca cakupan 1 dan 2. Net Zero Emission berhasil, menurunkan emisi GRK cakupan 1 dan 2, dengan potensi sebesar 28,45 persen dibanding tahun 2021.
“Kami mendukung SUN Energy, kami merasakan manfaatnya. Artinya di tahun 2025, kami berhasil efisiensi energy >25 persen. Target kami di tahun 2030, efisiensi energy serapan karbon >50 persen, dan di tahun 2050, efisiensi energy serapan karbon kami target kan >95 persen,” ujarnya.
Terakhir, Roni Herwanto, Manager PT Pakarti Riken Indonesia menambahkan, dengan yang dilakukan SUN Energy. “Kami mendukung upaya dekarbonasi Industri hijau. Alhamdulillah, secara hasil sesuai harapan. Secara teknologi, jenis panel, harga dan settingnya. Mudah, terjangkau dan bermanfaat,” pungkasnya.
SUN Energy adalah pengembang proyek tenaga surya terkemuka di Indonesia. Sejak tahun 2016, SUN Energy telah terlibat dalam pengembangan lebih dari 385 MW. (R9)







