SURABAYA (RadarJatim.id) – Indonesia masih menghadapi kekurangan dokter spesialis dalam jumlah besar, baik dari sisi total kebutuhan nasional maupun pemerataan distribusi. Keterbatasan jumlah tenaga spesialis berdampak langsung pada antrean layanan, keterlambatan penanganan kasus kritis, serta ketimpangan akses layanan kesehatan antara kota besar dan daerah.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mempercepat pemenuhan dokter spesialis dengan membuka sekitar 156–160 program pendidikan dokter spesialis dan subspesialis sepanjang 2025–2026, sehingga total program pendidikan dokter spesialis nasional meningkat menjadi lebih dari 500 program.
Sejalan dengan kebijakan nasional tersebut, tiga Fakultas Kedokteran di Surabaya, di Kampus Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) Jl. Jemursari, bersama-sama meluncurkan pembukaan program pendidikan dokter spesialis (PPDS), Sabtu (21/2) siang.
Ketiga kampus tersebut masing-masing adalah Fakultas Kedokteran Unusa dengan dua PPDS, Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra Surabaya dengan dua PPDS, dan Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah Surabaya dengan lima PPDS. Total ada sembilan PPDS baru sebagai kontribusi nyata daerah dalam mempercepat ketersediaan dokter spesialis dan memperluas akses layanan kesehatan berkualitas bagi masyarakat.
Peluncuran bersama yang dipusatkan di Kampus B Unusa itu dihadiri oleh Dirjen Pendidikan Tinggi, Prof. Dr. Khairul Munadi, ST, M.Eng.; Walikota Surabaya, Eri Cahyadi; para Ketua Yayasan, Rektor, dan Dekan dari tiga perguruan tinggi tersebut; serta dekan dari Fakultas Kedokteran Pembina, yakni Unair dan UNS serta beberapa Dekan FK yang ada di Surabaya
Dalam sambutannya, Dirjen Dikti mengatakan, pembukaan ratusan program PPDS baru secara nasional ini merupakan bagian dari strategi percepatan pemenuhan dokter spesialis dan pemerataan layanan kesehatan. Dengan peningkatan kapasitas pendidikan hingga ribuan residen baru setiap tahun, pemerintah menargetkan pengurangan ketimpangan layanan spesialis di berbagai daerah Indonesia.
Data resmi dari Kemdiktisaintek pada tahun 2025 pemerintah menargetkan pembukaan sekitar 148 prodi PPDS baru di 57 fakultas kedokteran; dalam realisasinya mencapai sekitar 156–160 prodi baru dengan komposisi sekitar 126 sampai 128 prodi dokter spesialis dan 30 sampai 32 prodi subspesialis, sehingga total prodi PPDS nasional meningkat dari 366 prodi menjadi sekitar 526 prodi.
Dikatakan Khairul Munadi, berbagai kajian dan perencanaan kesehatan menunjukkan bahwa Indonesia masih membutuhkan puluhan ribu dokter spesialis tambahan agar layanan kesehatan dapat memenuhi standar rasio ideal dan menjangkau seluruh wilayah secara merata.
“Kebijakan yang dijalankan oleh Kementerian ini dapat meningkatkan jumlah program PPDS nasional dari sekitar 366 menjadi lebih dari 500 program, sekaligus memperluas akses pendidikan spesialis ke wilayah yang sebelumnya minim tenaga medis. Dengan kapasitas penerimaan sekitar 8.600 lebih residen baru per tahun, langkah ini menjadi strategi penting untuk mengatasi kekurangan puluhan ribu dokter spesialis, mengurangi ketimpangan distribusi layanan kesehatan, dan memastikan masyarakat di berbagai daerah memperoleh pelayanan medis yang cepat, tepat, dan berkualitas,” katanya.
Sementara peluncuran bersama PPDS ini, kata Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya—yang menaungi Unusa– merupakan langkah strategis dan bersejarah dalam memperkuat kapasitas layanan kesehatan nasional. Kolaborasi antara FK Unusa, Universitas Ciputra Surabaya, dan Universitas Hang Tuah Surabaya menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran sentral dalam menjawab kebutuhan strategis bangsa.
“Kita menyadari bahwa Indonesia masih menghadapi kekurangan dokter spesialis di berbagai bidang penting, mulai dari kesehatan ibu dan anak, bedah, penyakit jantung, hingga perawatan intensif. Melalui pembukaan sembilan program PPDS ini, kami berkomitmen untuk mempercepat pemenuhan tenaga dokter spesialis yang kompeten, beretika, dan siap mengabdi di seluruh wilayah Indonesia,” katanya.
Disampaikan Nuh, kolaborasi ini bukan sekadar penambahan program pendidikan, tetapi sebuah gerakan bersama untuk memperkuat sistem kesehatan nasional. Dengan dukungan rumah sakit pendidikan dan jejaring layanan kesehatan, program ini dirancang untuk menghasilkan dokter spesialis yang unggul secara klinis, adaptif terhadap perkembangan teknologi medis, serta memiliki kepedulian sosial terhadap kebutuhan masyarakat.
Berikut ini rincian prodi PPDS di tiga FK Surabaya.
FK Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya
- Spesialis Obstetri dan Ginekologi
- Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi
FK Universitas Ciputra Surabaya
- Spesialis Obstetri dan Ginekologi
- Spesialis Bedah
FK Universitas Hang Tuah Surabaya
- Spesialis Obstetri dan Ginekologi
- Spesialis Bedah
- Spesialis Ilmu Kesehatan Anak
- Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah
- Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (hms, rio)






