SIDOARJO (RadarJatim.id) — Melihat potensi AUM (Amal Usaha Muhammadiyah) di Wilayah Kabupaten Sidoarjo yang begitu besar, namun realitas yang terdaftar di KLL (Kantor Layanan Lazismu) PD Muhammadiyah Sidoarjo masih relatif kecil.
Akhirnya Tim Abdimas Umsida (Universitas Muhammadiyah Sidoarjo) turun membantu untuk melakukan pendampingan Fundraising/upaya penghimpunan dana, kepada Lazismu sebagai mitra melalui ‘Community Engagement dan Transparansi Donasi Berbasis Teknologi Digital dan Edukasi Digital’ pada (28/2/2026) di Aula Lt 3 Kantor PD Muhammadiyah Sidoarjo.
Dengan agenda, Membangun KLL untuk kesejahteraan umat. Penguatan tata kelola Kantor Layanan Lazismu. Konsolidasi Penghimpunan ZIS dan Program Kado Ramadan 1447 H.
Dihadiri langsung oleh Ketua Tim Abdimas Umsida Prof. Dr. Sriyono, MM dengan anggota Andry Rachmadany, S.Kom M.Kom, Arbiya Magfiroh Rohmi, SM dan Muhammad Yani, termasuk hadir pula Ketua Lazismu Sidoarjo Hifni Solikin, S.Ag M.Pd.
Prof Dr. Sriyono dalam paparannya menejaskan jumlah AUM Muhammadiyah sangat besar dan tersebar luas, namun yang terdaftar sebagai KLL Lazismu masih relatif kecil. Menurutnya potensi AUM di pendidikan sebanyak 39 jumlah KLL hanya 8, di Masjid dan Mushola sebanyak 197 jumlah KLL hanya 7.
“Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi kelembagaan yang dimiliki dengan optimalisasi penghimpunan ZIS yang terstruktur,” jelasnya pada (12/3/2026) siang.
Jadi, saat ini banyak AUM dan masjid masih menyalurkan dana ZIS secara mandiri dan terpisah-pisah. Pola yang parsial ini cenderung bersifat konsumtif dan berdampak jangka pendek.
”Dalam perspektif Lazismu dan ekonomi syariah, dana ZIS perlu dikelola secara terpusat dan terintegrasi agar dapat dikonsolidasikan menjadi kekuatan ekonomi umat yang produktif, berkelanjutan, serta mampu mentransformasikan mustahik menjadi muzakki,” terang Prof Sriyono.
Mangapa belum bisa maksimal ? Menurut Prof Sriyono, masih minimnya digitalisasi di tingkat AUM, yang menyebabkan pengelolaan ZIS masih manual dan tidak terintegrasi. Dampaknya, data tidak terpusat, transparansi kurang optimal, dan potensi fundraising digital belum berkembang maksimal.
“Bahkan, pengelolaan ZIS belum memiliki standar baku, sehingga berjalan tidak seragam dan kurang terkontrol. Itulah sebagian permasalahan yang terjadi di Lazismu,” tegasnya.

Akhirnya Tim Abdimas Umsida menawarkan solusinya, diantaranya Edukasi Publik. Penguatan Community Engagement. Transparansi dan Branding Fund Rising. “Pemanfaatan Teknologi Digital dengan membangun sistem informasi sederhana, misalnya website atau aplikasi berbasis mobile, serta mengoptimalkan media sosial untuk menjaring donatur muda,” para Prof Sriyono.
Lanjutnya, apa manfaat bagi AUM jika menjadi KLL, yakni sistem tata kelola ZIS terstandar, dukungan digitalisasi dan pelaporan, penguatan legalitas dan akuntabilitas, pendampingan program pemberdayaan, branding dan kepercayaan publik meningkat dan akses program produktif skala kabupaten bisa bejalan dengan baik.
“Dari situ akan terwujud jaminan transparansi sebagai komitmen Lazsimu, yakni ada laporan bulanan, dashboard digital, audit internal dan monitoring program,” pungkas Prof Sriyono.(mad)







