• Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Contact
Selasa, 20 Januari 2026
No Result
View All Result
e-paper
Radar Jatim
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
No Result
View All Result
Radar Jatim
No Result
View All Result
Home Feature

Titah Sang Ibu

by Radar Jatim
22 Desember 2020
in Feature, Sastra/Budaya
0
Titah Sang Ibu
537
VIEWS

Oleh ADRIONO

Arjuna berjalan tergopoh-gopoh mencari ibunya, Dewi Kunti. Di sampingnya melangkah wanita jelita dari Negeri Panchala, Drupadi. Sementara di belakangnya, empat saudara kandung Arjuna mengiringinya. Ada Yudistira, Bima, juga si kembar Nakula-Sadewa.

Arjuna ingin segera menyampaikan kabar bahagia. Sebab di masa pengasingan dia justru memperoleh keberuntungan besar. Baru saja memenangkan sayembara memanah dari Raja Drupada, dan dia telah memboyong hadiah yang kini berada di sampingnya. Putri raja yang konon terlahir dari sekuntum teratai yang merekah.

Tapi, sang ibu rupanya tengah berdoa di tempat pemujaan. Langkah pandawa lima pun terhenti di altar dan menunggu sesaat. Didorong niat kuat untuk berbagi bahagia, Arjuna tak sabar, lalu mendekat dan berkata dari arah punggung ibunya. “Ibu, saya baru saja mendapatkan hadiah.”

Kunti yang belum tuntas berdoa lantas menjawab tanpa mengubah posisi duduknya. “Arjuna, bukankah sudah kukatakan berulang kali. Setiap kalian mendapat hadiah, apa pun itu, bagi rata dengan saudara-saudaramu.”

Kontan yang mendengar ucapan itu terhenyak. Termasuk Drupadi, tentunya. Suasana hening, membuat Kunti merasa perlu menoleh ke belakang. Oh Gusti, ada yang tidak beres rupanya, batinnya.

Saat sadar telah terjadi kesalahpahaman, Kunti buru-buru meralat ucapannya dengan buraian air mata. Tetapi, kata yang terlontar telah menjadi sumpah yang tak terbatalkan oleh sesal. Kekeliruan, bahkan ketidaksengajaan, juga suratan nasib. Apalagi bagi  para ksatria Pandawa itu: ucapan ibu merupakan titah yang pantang dibantah.

Lalu enam orang muda di hadapan Kunti itu memilih menaati garis takdirnya. Meski akibat keputusan itu putra-putra Pandu tersebut harus menerima cemoohan dan bullyan dari masyarakat, terutama Kurawa musuhnya. Pernikahan poliandri tidaklah lazim, bahkan dianggap penyimpangan. 

Begitulah. Epos klasik Mahabarata telah lama mengabarkan betapa seorang ibu tidak boleh gegabah dalam bertindak maupun bertutur kata. Sebab ucap yang terlontar dapat menjadi surga atau neraka bagi anak-anaknya, bahkan pada perkataan yang tidak tersengaja sekalipun.

Banyak riwayat dan legenda yang juga menggambarkan hal itu. Bukankah kemurkaan ibu bisa menjelma menjadi kutukan? Ketika si anak durhaka tidak sudi mengakuinya ibu kandungnya yang miskin, sang ibu membentak keras: “Jadilah engkau batu… !” Seketika itu pula jasad Si Malin Kundang membatu dalam posisi bersimpuh.

Ungkapan “sorga berada di bawah telapak kaki ibu” memang benar adanya. Tetapi, sebaiknya jangan ditafsiri sebagai hak prerogratif yang ada di dalam ganggaman setiap ibunda. Bukan pula sebentuk previlese yang gampang dimanfaatkan untuk pembenar tindak semena-semena, untuk memaksakan kehendak, serta emoh disalahkan. Lebih bijak justru dimaknai sebagai peringatan, bahwa keberadaan ibu menjadi asal-muasal dari segala bahagia dan celaka buah hatinya.

Dalam sebuah kesempatan, seorang ibu dari seorang tokoh nasional pernah bercerita kepada saya, bahwa di saat karier anaknya cemerlang, dirinya tidak ikut melambung bangga, tetapi justru memilih laku prihatin dengan memperbanyak munajat. Sebab, sebagaimana pohon, kian tinggi menjulang kian keras pula terpaan anginnya. Semakin sukses orang semakin banyak pula musuh dan godaannya.  

“Semakin naik posisi anak saya, semakin saya perbanyak al-Fatihah saya buatnya. Begitu juga kepada anak saya yang lain, yang tidak beruntung hidupnya, juga saya perbanyak doa untuknya,” katanya.

Ya, sejatinya ibu adalah bumi yang setia menjaga dan menyangga putra-putrinya sepanjang masa. Ikhlas menerima aneka rupa kelakuan anak-anaknya dengan lapang dada. Bahkan perilaku jahat pun ditangisinya. Seperti Gandari, ibunda dari 100 Kurawa, yang merembes air matanya setiap kali mendengar kabar duka dari palagan pertempuran Kurusetra. Satu demi satu putranya tewas di tangan Pandawa.

Maka, ketika tinggal Duryudana, satu-satunya putranya yang tengah bersabung nyawa  di perang saudara wangsa Bharata, Gandari menunduk pilu di ruang pemujaan. Ibu yang sudah memilih menutupi matanya dari gemerlap dunia itu memanjatkan doa pamungkas:

“Wahai Penguasa Jagad. Andai ada amal kebajikan yang pernah hamba lakukan semasa hidup di dunia ini Engkau beri ganjaran pahala, maka kumohon berikanlah semua ganjaran itu untuk keselamatan putra sulungku Duryudana.”

Akhirnya, dengan segala takdzim dan penuh ketundukan, eloklah kiranya kalau pada kesempatan ini kita lambungkan hormat dan bakti kita kepada sang ibu. Selamat Hari Ibu. (*)

Tags: adrionohari ibusang ibutitah

Related Posts

Menjembatani Sunyi: Reinterpretasi Hari Ibu di Tengah Kebisingan Gen Z

Menjembatani Sunyi: Reinterpretasi Hari Ibu di Tengah Kebisingan Gen Z

by Radar Jatim
22 Desember 2025
0

Oleh Abdul Rokhim Ashari* Di...

Peringati Hari Ibu ke-97, Polres Gresik Tegaskan Kesetaraan Gender Fondasi Indonesia Emas 2045

Peringati Hari Ibu ke-97, Polres Gresik Tegaskan Kesetaraan Gender Fondasi Indonesia Emas 2045

by Radar Jatim
22 Desember 2025
0

GRESIK (RadarJatim.id) – Kepolisian Resor (Polres)...

KB-TK Al Falah Darussalam Pererat Ibu dan Anak Melalui Peringatan Hari Ibu

KB-TK Al Falah Darussalam Pererat Ibu dan Anak Melalui Peringatan Hari Ibu

by Radar Jatim
14 Desember 2025
0

SIDOARJO (RadarJatim.id) -- Proses pembagian...

Load More
Next Post
Ditunjuk Menjadi Mensos, Risma Pamit

Ditunjuk Menjadi Mensos, Risma Pamit

Radar Jatim Video Update

Berita Populer

  • Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Soft Launching KM Dharma Kencana V, Fasilitas Mewah Berkapasitas 1.400 Penumpang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ribuan Warga Doakan Keluarga Besar SMK Antartika 2 Sidoarjo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Analisis Semantik Puisi ‘Aku Ingin’ Karya Sapardi Djoko Damono

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kampus yang Tak Lagi Dihuni Intelek: Mengapa Dosen Mencari Eksistensi Diri di Luar Kampus?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Radar Jatim adalah media online Jatim yang memberikan informasi peristiwa dan berita Jawa Timur dan Surabaya terkini dan terbaru.

Kategori

  • Artikel dan Opini
  • Ekonomi Bisnis
  • Ekosistem Lingkungan
  • Esai/Kolom
  • Feature
  • Finance
  • HAM
  • Hukum dan Kriminal
  • Infrastruktur
  • Kamtibmas
  • Kemenkumham
  • Kesehatan
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Lain-lain
  • Layanan Publik
  • Lifestyle
  • Literasi
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Ormas
  • Otomotif
  • Pariwisata
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pertanian
  • pinggiran
  • Politik
  • Religi
  • Sastra/Budaya
  • Sosial
  • Tekno
  • TNI
  • TNI-Polri
  • video
  • Wisata

Kami Juga Hadir Disini

© 2020 radarjatim.id
Susunan Redaksi ∣ Pedoman Media Siber ∣ Karir

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum dan Kriminal
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Tekno
  • Ekonomi Bisnis
  • Artikel dan Opini

© 2020radarjatim.id

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In