SIDOARJO (Radarjatim.id) Puluhan guru yang tergabung dalam YGB (Yayasan Guru Belajar) bersama dengan KGBN (Komunitas Guru Belajar Nusantara) Sidoarjo telah menggelar TPN (Temu Pendidikan Nusantara) ke IX 2022, pada (6/8/2022) di SMA Pembangunan Jaya 2 Gedangan Sidoarjo.
Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan potensi guru yang imbasnya bisa menciptakan suasana merdeka belajar yang sebenarnya. “Bukan memahami di segi administrasinya. Tentu diharapkan guru terus bergerak dan berdampak kepada murid-muridnya,” ungkap Agus Adiputro selaku koordinator acara.
Ia merasa sangat senang dan bangga, karena acaranya sangat luar biasa, di saat guru-guru yang lain sudah rehat diakhir pekan, tetapi peserta TPN masih tetap semangat belajar bersama-sama. “Semoga hasil belajar bersama-sama ini dapat berdampak baik kepada para siswa di sekolah masing-masing,” ungkap Agus Adiputro.

Menurutnya, kegiatan yang bertemakan ‘Kurikulum Yang Memberdayakan Konteks’ ini diikuti sekitar 84 guru dari berbagai daerah, diantaranya dari Surabaya, Bangkalan, Pamekasan, Pasuruan dan Sidoarjo sendiri.
“Prosesnya dilakukan secara hybrid learning, jadi ada yang Luring dan ada yang Daring. Termasuk juga ada Bazaar Marchandise hasil karya guru, dan diakhiri dengan refleksi bersama untuk meningkatkan kualitas kegiatan di TPN X tahun 2023,” pungkasnya.
Salah satu pemateri, Imawati, S.Pd, M.Pd menjelaskan bahwa peralihan masa belajar siswa dari belajar dari rumah menjadi PTM (Pembelajaran Tatap Muka) tidaklah mudah. Siswa ditantang harus bisa semangat belajar lagi. Bagaimana para guru, apa sudah punya amunisi khusus untuk menyikapinya ?
Apakah kita tetap memberi menu belajar itu-itu saja? Sedangkan sekarang sudah kurikulum merdeka? Siswa pun berbeda-beda seleranya.
Mau menu kita dilahap oleh siswa saat belajar. “Kita harus bisa menyajikan menu baru yang lebih lezat dan ‘maknyus’ adalah solusinya,” ungkap Imawati guru SD Al Falah Darrusalam 2 Waru Sidoarjo.

Ia katakan, dalam hal ini tugas para gurulah yang harus pintar menyuguhkan ‘makanan’ tersebut ke siswanya. Misal, dalam mengemas Literasi pun harus bisa dengan hal yang beda. “Saat menyajikan menu Literasi budaya dan Numerasi saya angkat dengan bermain tradisi udik-udikan. Dengan memanfaatkan recycle sampah tutup botol bekas, ” katanya.
Selanjutnya diberi tempelan stiker dan angka. Disebar, dilempar layaknya tradisi udik-udikan. Ternyata siswa pun sangat senang menikmatinya. “Tak terasa menyajikan menu baru literasi budaya yang dikemas seapik mungkin membuat siswa semakin lahap belajar dan semangat kembali dalam berlterasi, juga cinta lingkungan,” terang Imawati.(mad)







