BOJONEGORO (RadarJatim.id) — Ribuan umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah di kota Bojonegoro melaksanakan Sholat Idul Adha di depan Masjid At Taqwa Jl. Teuku Umar, Bojonegoro, Sabtu (9/7/2022) pagi.
Meski berbeda dengan pemerintah, antusias warga yang menunaikan sholat tersebut cukup tinggi.
Panitia pelaksana juga sangat menghargai perbedaan dan berupaya agar penyelenggaraan rangkaian kegiatan Idul Adha tahun berjalan nyaman dan kondusif. Karena itu, saat takbiran malam hari raya, hanya dilakukan di dalam masjid dengan sound system dalam. Sementara pelaksanaan sholatnya digelar di sepanjang jalan Teuku Umar.
Mulai pagi pukul 05.30 warga Muhammadiyah sudah mulai memadati sepanjang jalan Teuku Umar, Bojonegoro. Peserta ibadah tahunan ini makin menyemut ketika mendakati dimulainya sholat, yakni pukul 06.00 WIB.
Bertindak menjadi Imam pada Sholat Ied tersebut adalah Ustad H Syamsul Huda, MPdI, Mudir Boarding School (MBS) Al Amin (Pondok Pesantren MBS Al Amin) Bojonegoro. Sementara khutbah disampaikan Ustad Drs Nurcholis Huda, MSi, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, dengan tema “Memanusiakan Manusia”.
Menurutnya, Idul Adha dan ibadah haji di dalamnya banyak berkaitan dengan sejarah hidup Nabi Ibrahim AS. Dikatakan, Nabi Ibrahim adalah figur luar biasa dengan perjalanan hidup yang luar biasa pula. Bahkan kisah Ibrahim diabadikan oleh Allah dalam kitab suci Al Quran.
“Maka, ada banyak pelajaran penting dari peristiwa besar itu. Salah satuanya ialah semangat memanusiakan manusia,” ujar Nurcholis Huda
Perintah menyembelih hewan kurban pada setiap Idul Adha, lanjutnya, secara filosofis bisa dimaknai sebagai pesan menyembelih nafsu hewani. Dengan demikian, yang menonjol dalam diri manusia adalah sifat-sifat manusianya, bukan sifat kebinatangannya atau nafsu hewaninya.
Dijelaskan, sekurang-kurangnya ada tiga hal yang membedakan manusia dengan hewan. Pertama, manusia bisa ber[ikir, sementara hewan tidak. Kedua, manusia bisa tersenyum, hewan tidak. Ketiga, manusia punya rasa malu, sedangkan hewan tidak.
“Semakin tipis tiga unsur itu ada dalam diri manusia, semakin tipis pula sifat kemanusiaanya. Semakin tergerus salah satu unsurnya, semakin tergerus kemanusiaannya dan yang dominan adalah sifat hewaninya,” ujarnya.
Di sisi lain, Nabi Ibrahim adalah orang yang selalu berpikir sangat kritis. Perjalanan Nabi Ibrahim menunjukkan betapa dia sejak muda telah menjadi “pemberontak” terhadap kondisi yang tidak sejalan dengan tauhid yang ia yakini.
Mula-mula dia “memberontak” kepada ayahnya sendiri, Azar. Ibrahim protes. Ibrahim juga “memberontak” kepada masyarakatnya, bahkan menghancurkan semua berhala yang menjadi sesembahan mereka. Akal cerdasnya membiarkan satu berhala yang paling besar tetap utuh, bahkan Ibrahim mengalungkan kapak penghancur itu di leher berhala besar itu.
Ibrahim juga melawan penguasa, raja Namrud yang mengaku dirinya sebagai Tuhan. “Baik, Kalau tuan raja mengaku menyamai Tuhan, coba matahari yang terbit dari timur tuan ubah terbit dari barat,” kata Ibrahim tenang. Raja Namrud panik tak bisa menjawab pertanyaan Ibrahum. (QS Al Baqarah {2}: 258).
Selain itu, Ibrahim adalah seorang yang hanif, orang yang bersih dari kemusyrikan. Dia tidak pernah sedetik pun menyembah berhala. Maka, teladan yang bisa diambil ialah jangan pernah memberhalakan apa pun. Jangan menuhankan apa pun juga, selain Allah.
“Sekarang memang tidak ada orang menyembah berhala berupa patung. Tetapi, banyak orang mempertuhankan benda-benda lain. Benda-benda itu menjadi berhala modern. Manusia yang semula menjadi hamba Allah berubah menjadi hamba perut, hamba duit, hamba kursi (jabatan), hamba nafsu, dan hamba-hamba lainnya,” ungkapnya.
Jika ingin tetap menjadi manusia, lanjut Nurcholis, salah satu syaratnya adalah berpikir logis dan teratur. Selain itu, tidak gampang emosional atau mengikuti hawa nafsu.
Sebaliknya, ia menyarankan banyak tersenyum. Senyum merupakan karunia Allah yang luar biasa. Senyum membuat hidup terasa damai dan indah. Hebatnya lagi, hanya manusia yang dapat tesenyum. Tidak ada binatang yang bisa tersenyum.
“Sayang, senyum yang hanya milik manusia ini sering disia-siakan. Banyak orang lebih sering bermuka muram, cemberut, marah dan sinis. Padahal semua sikap negatif itu membuat wajah kita tampak jelek, mudah sakit, dan tampak tua. Sedangkan senyum membuat wajah lebih sehat, segar, dan indah dipandang,” katanya.
Selain itu, rasa malu juga perlu dimiliki dalam menjalani kehidupan ini. Orang akan bebas berbuat sesukanya kalau tidak lagi punya rasa malu, karena kelasnya turun menjadi binatang. Fisiknya masih berwujud manusia, tetapi sifat hewani lebih dominan dari pada sifat manusia.
“Maka setiap kali Idul Adha seharusnya nafsu binatang yang bersemayam di kalbu, kita sembelih sehingga perilaku manusia lebih menonjol. Sifat buas berubah santun. Bengis berubah ramah. Rakus berubah sosial. Tak punya malu menjadi punya malu. Dan pada akhirnya kita lebih mengenal jati diri kita sebagai manusia,” tandasnya. (zid)







