SURABAYA (RadarJatim.id) – Jelang Pilwali Surabaya di tanggal 9 Desember nanti, Surabaya Survey Center (SSC) merilis hasil penelitian yang mereka lakukan. Salah satu temuan riset menarik, kalangan aparatur sipil negara atau PNS justru menunjukkan elektabilitasnya ke pasangan calon nomor urut 2 Machfud Arifin-Mujiaman.
Ikhsan Rosidi selaku peneliti senior SSC memaparkan hasil survey yang dilakukan dengan demografi menurut masing-masing sebaran latar belakang profesi responden.
“Untuk PNS, 39.3 persen Eri-Armuji dan 60.7 persen Machfud Arifin-Mujiaman. Untuk petani/nelayan/petambak, masing-masing 50 persen bagi Eri-Armuji maupun Machfud Arifin-Mujiaman. Untuk kalangan yang tidak bekerja, 45.3 persen Eri-Armuji dan 43.4 persen Machfud Arifin-Mujiaman serta 11.3 persen undecided voters,” ujar Ikhsan ketika melakukan pemaparan.
Menjelaskan fenomena ini Akademisi Universitas Islan Negeri Sunan Ampel (UINSA) bidang politik, Ahmad Zainul Hamdi yang juga menjadi narasumber menilai hal itu memang bisa terjadi. Bahkan, baginya hal ini bukan menjadi hal yang mengagetkan untuk dirinya.
Menurut dia, hal ini berpengaruh dari rekor gaya kepemimpinan Walikota inkamben Tri Rismaharini yang bekerja ngotot dan tidak mentolerir bawahan staf PNS anak buahnya yang bekerja lambat dan tidak sesuai diinginkannya.
Nah, bagi aparatur negara yang cenderung formalistik tentu hal ini sangat menjenuhkan dan terlalu memberatkan atau melelahkan bagi mereka. Apalagi selama ini, mereka sudah dua periode bekerja dalam ritme dan beban lebih di bawah Walikota Risma.
Hal ini mempengaruhi kecenderungan pada elektabilitas paslon yang di bawah referensi Risma. Maka, PNS lebih banyak mengarahkan pilihannya ke paslon MAJU.
“Ini juga menunjukkan sekalipun PNS itu di bawah kepemimpinan Risma. Yang mungkin saja dia sangat respek kepada Risma, itu tidak dengan sendirinya akan bisa dikonversi menjadi pilihan orang yang dipilih Risma,” imbuhnya.
Sementara itu, Ikhsan Rosidi mengungkapkan jika sebagian besar responden dari survey yang dilakukan memastikan diri tidak akan berubah pilihan. “Sebanyak 58.1 persen sudah memastikan pilihannya mantap. Sedangkan 41.9 persen lainnya masih mungkin akan berubah pilihan,” jelasnya.
Sebagai informasi, riset ini dilakukan SSC pada tanggal 19-24 November 2020 di 31 Kecamatan di Surabaya. Responden yang digunakan sebanyak 880 orang. Penelitian dilakukan dengan metode stratified multistage random sampling dengan margin of error lebih kurang 3.3 persen dan pada tingkat kepercayaan sebesar 95 persen. (Phaksy/Red)







