Oleh Prof Dr Mohammad Kurjum, MAg*
Beberapa tahun terakhir, terdapat fenomena senyap di dunia akademik Indonesia: semakin banyak dosen yang tidak betah di kampusnya sendiri. Di sela-sela jam mengajar, mereka justru lebih sering mengisi waktunya dengan kegiatan di luar kampus, menjadi konsultan proyek, pembicara luar, bahkan asyik berbisnis.
Lebih-lebih dengan adanya tuntutan income generating yang tidak terstruktur. Fenomena ini bukan sekadar “mencari tambahan penghasilan”, melainkan sinyal adanya krisis kenyamanan dan makna dalam kehidupan akademik.
Kampus yang seharusnya menjadi rumah bagi intelektual, tempat berseminya gagasan dan lahirnya inovasi, kini kerap berubah menjadi ruang administratif yang kaku. Dosen dihadapkan pada tumpukan laporan, beban mengajar yang berlebihan, dan atmosfer kerja yang lebih birokratis ketimbang akademis. Banyak dari mereka merasa “tidak tumbuh” di institusi yang seharusnya menjadi ruang subur bagi ilmu pengetahuan.
Tak Betah di Kampus
Upaya banyak perguruan tinggi untuk mengejar status world class university sering berfokus pada infrastruktur megah, akreditasi internasional, dan publikasi bereputasi. Namun, faktor manusia, yakni dosen dan peneliti, justru sering terlupakan. Padahal, tanpa dosen yang merasa dihargai dan terlibat secara emosional, visi universitas kelas dunia hanya menjadi slogan kosong.
Menurut Locke (1976), kepuasan kerja (job satisfaction) adalah keadaan emosional positif yang muncul dari penilaian seseorang terhadap pekerjaannya. Ketika dosen merasa tidak memiliki ruang berkembang, tidak memiliki suara dalam kebijakan, atau tidak mendapat penghargaan yang layak, maka keterikatan psikologis (work engagement) pun menurun. Dosen menjadi sekadar pelaksana administratif, bukan penggerak intelektual.
Agar dosen betah di kampus, ada beberapa faktor kunci yang harus diperhatikan. Pertama, lingkungan kerja yang sehat dan inspiratif. Kampus seharusnya menjadi learning organization (Senge, 1990), bukan birokrasi kaku. Ruang dosen yang nyaman, perpustakaan digital dengan akses luas, dan laboratorium riset yang memadai adalah hal mendasar. Namun, yang terpenting adalah atmosfer intelektual yang mendorong dosen untuk terus belajar dan berdialog.
Kedua, kepemimpinan akademik yang visioner. Rektor dan dekan bukan hanya manajer administratif, tetapi academic leader yang mampu menumbuhkan semangat dan kolaborasi. Bryman (2007) menegaskan, kepemimpinan yang efektif di perguruan tinggi adalah yang partisipatif dan transparan, di mana dosen merasa suaranya didengar.
Ketiga, penghargaan dan kesejahteraan yang adil. Remunerasi layak memang penting. Namun, penghargaan nonfinansial, seperti penghormatan ilmiah, kesempatan studi lanjut, atau keikutsertaan dalam konferensi internasional, kerap lebih bermakna. Dosen ingin dihargai bukan hanya karena output-nya, tetapi karena dedikasinya.
Keempat, kesempatan berkembang. Karier akademik menuntut ruang untuk bereksperimen, meneliti, dan berkolaborasi. Di banyak negara maju, program sabbatical leave menjadi sarana penting untuk penyegaran akademik. Di Indonesia, kebijakan ini masih langka, padahal manfaatnya besar untuk produktivitas dan jejaring global.
Kelima, budaya akademik yang kuat. Kampus yang hidup secara intelektual ditandai oleh diskusi rutin, seminar terbuka, dan mentoring antar-dosen. Budaya seperti ini menciptakan sense of belonging, rasa memiliki yang membuat dosen merasa kampusnya adalah rumah kedua.
Dan terakhir, keseimbangan kerja dan kehidupan. Banyak dosen mengeluh kelelahan akibat beban administratif yang berlebihan. Padahal, keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi (work-life balance) sangat penting agar mereka tetap sehat secara mental dan kreatif secara intelektual.
Model 3P: People, Purpose, Prosperity
Model 3P (People, Purpose, Prosperity) menawarkan paradigma baru untuk membangun ekosistem akademik yang sehat dan manusiawi. Kampus yang baik tidak cukup hanya dengan infrastruktur dan akreditasi, tetapi harus menempatkan dosen sebagai inti kehidupan akademik.
People berarti dosen diperlakukan sebagai insan intelektual, bukan sekadar pegawai birokratis. Mereka dihargai karena gagasan, integritas, dan kontribusi ilmiahnya.
Purpose menegaskan, bahwa dosen perlu merasakan makna dalam pekerjaannya, bahwa mengajar, meneliti, dan membimbing mahasiswa adalah bagian dari pengabdian untuk mencerdaskan bangsa dan menyiapkan generasi masa depan. Sementara Prosperity menuntut adanya kesejahteraan dan penghargaan karier yang layak, transparan, dan berkeadilan, agar dosen dapat bekerja dengan tenang dan bersemangat.
Ketiga unsur tersebut saling menguatkan, menciptakan rasa memiliki, komitmen, dan kebahagiaan kerja. Model ini sejalan dengan Self-Determination Theory (Deci & Ryan, 2000) yang menekankan pentingnya otonomi, kompetensi, dan keterhubungan sosial sebagai fondasi motivasi intrinsik manusia. Jika 3P diterapkan dengan konsisten, kampus akan kembali menjadi ruang hidup dan subur bagi intelektualitas, tempat di mana dosen bukan hanya bekerja, tetapi juga menemukan makna dan kebahagiaan dalam profesinya..
Rekreasi Akademik
Salah satu inovasi yang mulai diadopsi beberapa kampus adalah konsep rekreasi akademik. Ini terkait hadirnya ruang santai namun produktif bagi dosen untuk berefleksi dan berinteraksi. Misalnya, academic coffee morning, writing retreat, book club, atau academic movie night.
Kegiatan semacam ini menciptakan ruang tanpa tekanan birokrasi, tetapi tetap bernuansa ilmiah. Di Eropa, praktik writing retreat terbukti meningkatkan produktivitas publikasi. Di Jepang, hanami academic picnic menjadi sarana membangun jejaring akademik dalam suasana alami.
Kegiatan ringan seperti ini penting, karena akan memulihkan gairah akademik, memperkuat jejaring sosial, dan menumbuhkan rasa kebersamaan antar-dosen. Kampus yang memberikan ruang untuk “bernafas” intelektual justru lebih produktif dalam jangka panjang.
Perguruan tinggi –sekali lagi– bukan hanya tempat bekerja, tetapi ajang menumbuhkan peradaban. Jika dosen tidak lagi merasa betah, maka kampus kehilangan jiwanya. Menjadi world class university bukan berarti mengejar peringkat semata, tetapi menciptakan ekosistem yang membuat dosen merasa dihargai, berdaya, dan terinspirasi.
Dosen yang betah akan melahirkan riset yang bermakna, pengajaran yang inspiratif, dan dedikasi yang tulus. Di tangan merekalah, masa depan ilmu pengetahuan Indonesia sebenarnya bertumpu.
Sudah saatnya kampus tidak hanya membangun gedung tinggi dengan berbagai fasilitasnya yang megah dan modern, tetapi juga membangun suasana hati, agar intelektual tidak lagi pergi mencari arti di luar kampusnya sendiri. {*}
*) Prof Dr Mohammad Kurjum, MAg, Guru Besar Ilmu Metodologi Pembelajaran PAI, UIN Sunan Ampel Surabaya.







