SURABAYA (RadarJatim.id) Komisi D DPRD Kota Surabaya mendorong Pemerintah Kota Surabaya untuk mempercepat transformasi sektor pariwisata. Hal ini sebagai upaya mendongkrak ekonomi sekaligus memperkuat identitas kota.
Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, William Wirakusuma, ST,MSc mengatakan Kota Surabaya memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak kota lain, yakni perpaduan wisata sejarah, wisata sungai dan pantai, serta kekayaan kuliner khas yang autentik. Potensi tersebut dinilai belum dikelola secara maksimal dan terintegrasi.
“Surabaya bukan hanya kota transit. Kita punya sejarah kuat sebagai Kota Pahlawan, sungai, pantai, dan kuliner yang beragam. Semua ini harus dikemas dalam satu konsep wisata urban yang modern dan berkelanjutan,” ujar William Wirakusuma, Kamis (15/1/2026).
Wakil Ketua Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) DPRD Kota Surabaya ini menambahkan pengembangan pariwisata Surabaya tidak bisa lagi dilakukan secara konvensional. Digitalisasi, pengalaman wisata, serta penguatan ekonomi malam harus menjadi bagian dari strategi besar Pemkot.
Salah satu yang disorot adalah potensi Sungai Kalimas. Menurutnya, Kalimas bisa dikembangkan layaknya kanal wisata di kota-kota dunia. Dimana Kalimas bukan sekadar saluran air.
“Jika ditata dengan perahu wisata, pencahayaan artistik, dan pertunjukan seni, ini bisa menghidupkan ekonomi malam Surabaya,” terangnya.
Selain Kalimas, Pantai Kenjeran dan Taman Suroboyo juga dinilai memiliki peluang besar untuk menggerakkan ekonomi masyarakat pesisir jika dikelola lebih serius dan konsisten.
William juga menekankan pentingnya integrasi kawasan Surabaya Utara, mulai dari Kya-Kya, Jembatan Merah, Jalan Karet, hingga kawasan religi Ampel. Ia mendorong adanya jalur pedestrian yang nyaman serta insentif bagi pemilik bangunan cagar budaya agar dapat dimanfaatkan sebagai ruang kreatif tanpa menghilangkan nilai sejarahnya.Tak kalah penting, kampung-kampung tematik seperti Kampung Peneleh harus masuk dalam peta wisata kota.
“Wisatawan ingin melihat keaslian. Kampung-kampung perlu diberdayakan, warganya dilatih agar bisa menjadi pemandu wisata di lingkungannya sendiri,” tegas William.
Di sektor kuliner, William menyebut Surabaya memiliki kekuatan besar yang tersebar di seluruh wilayah kota.
“Rawon, tahu tek, lontong balap, semanggi, bebek goreng, sampai kawasan Tunjungan sebagai pusat kafe anak muda. Jika diangkat serius, sentra wisata kuliner di tiap kecamatan bisa menjadi daya tarik utama,” ujarnya.
Namun demikian, William mengingatkan bahwa pariwisata tidak akan berkembang tanpa dukungan transportasi publik yang memadai. Ia menilai layanan Suroboyo Bus dan Wira-Wiri masih perlu banyak pembenahan.
“Masih ada keluhan soal pramudi yang ugal-ugalan, armada yang sudah tua, monitor informasi mati, hingga sistem OBD yang tidak berfungsi. Ini tidak mendukung kenyamanan wisatawan. Surabaya harus menjadi kota yang tidak hanya nyaman untuk bekerja, tapi juga dirindukan untuk dikunjungi. Wisata maju, ekonomi warga ikut terangkat,” pungkasnya. (RJ1/RED)







