Oleh Prof Abdul Chalik
Beberapa hari lagi Idulfitri tiba. Umat Muslim menyebutnya dengan bermacam istilah. Ada yang menyebut Hari Lebaran, Hari Raya Ketupat, Riyoyo atau Riyoyoan dalam istilah Jawa, dan ada pula menyebut Hari Kemenangan.
Semua istilah yang tersebut bermuara pada satu makna, yakni hari syukur atas selesainya rangkaian ibadah selama sebulan penuh pada Ramadan. Hari di mana Muslim merayakan dengan salat Ied dan bersilaturahmi dengan sanak keluarga. Tidak cukup di situ, perayaan biasanya disambut dengan kemeriahan memakai baju baru, hidangan makanan yang lezat, bahkan beberapa di antaranya menghias rumah dengan pernak-pernik. Itulah yang disebut dengan perayaan “kemenangan” dengan suka cita.
Cukup maklum ketika semua momen kemenangan dirayakan dengan suka cita. Sebab, pada saat itu emosi bercampur dengan prestasi atas usaha keras yang dilalui selama beberapa hari, minggu, bahkan bulan. Lihatlah para atlet sepak bola ketika merayakan kemenangan yang begitu ekspresif, atau pemain soft ball dan rugby ketika timnya leading atau merengkuh piala, atau qori’ dan qori’ah saat diumumkan sebagai juara. Sontak, tangan, muka, anggota badan lainnya menyatu dengan emosi bergerak spontan dengan penuh kegirangan dan keharuan, memeluk dan memberikan tos pada siapa pun di sekitarnya.
Ekspresi kemenangan tersebut berbanding lurus dengan usaha, kerja keras dan pertaruhan emosi yang cukup lama terpendam. Untuk mengangkat trofi juara liga sepak bola perlu waktu sepuluh bulan setelah bertarung dengan menguras tenaga, pikiran, emosi, serta biaya. Sama halnya juga dengan liga soft ball, rugby maupun Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Itulah mengapa hari kemenangan begitu istimewa, karena proses menuju pada panggung singgasana dilalui dengan tenaga, pikiran, cucuran keringat dan bahkan air mata.
Ada kenyataan lain dimana tidak semua bisa menjadi pemenang. Muncul peringkat dalam kejuaraan, bahkan ada yang terdegradasi dalam tradisi liga sepak bola. Yang berada di level teratas itulah pemegang trofi utama. Posisi runner up ke bawah juga mendapatkan trofi dengan kelas berbeda. Begitu pula gambaran dalam perayaan kemenangan Idulfitri.
Masing-masing punya kelas atau peringkat berbeda. Ada kalanya pemenang utama, runner up, harapan atau bisa jadi terdegradasi. Kita tidak tahu siapa pemenangnya, karena puasa bersifat sirri (tidak terlihat). Hanya Allah dan diri masing-masing yang dapat mengukur apakah pantas mendapatkan predikat tertinggi, menengah, terbawah atau terdegradasi.
Pemenang Sejati
Jika kemenangan merupakan hal yang niscaya dalam kompetisi, maka saatnya menjadi pemenang yang sejati (true winner). Pemenang sejati bukan hanya berhenti dengan perayaan atas kemenangannya, melainkan para juara yang berdampak pada diri dan lingkungannya. Pemenang sejati bukan hanya mampu berselebrasi dan tampil anggun di panggung kehormatan, melainkan sudah menjadi “teladan” baik di dalam maupun di luar lapangan.
Pemenang sejati adalah role model dalam menjaga keimanan sebagaimana dicontohkan cerita cinta kekokohan iman antara seorang Yusuf pada Zulaikha yang dikenal dengan cinta sejati (true love), sebagaimana dalam QS. Yusuf:23-24.
Pemenang sejati adalah tentang konsistensi antara ucapan dan tindakan sebagaimana contoh komitmen pemimpin Iran dalam memperjuangan Palestina yang dikenal dengan True Promise. Mereka mengorbankan nyawa dan bahkan pemimpin tertinggi Imam Khomaeni shahid untuk janji setia atas perjuangan al-Aqsa dan rakyat Palestina.
Idulfitri dengan makna kemenangan sejati yang dibutuhkan berupa keteladanan, kekokohan dan konsistensi, baik di dalam maupun di luar Ramadan. Konsistensi dalam manjaga tradisi atau kebiasaan positif selama berpuasa dipraktikkan dalam kehidupan nyata setelah puasa berlalu. Atau dengan menjadikan sebelas bulan sesesudahnya “setara” dalam memperlakukan diri, baik kepada Allah maupun sesama. Kekokohan dalam menjaga pikiran, lisan dan tindakan sama kuatnya dengan saat menjalankan puasa.
Yang tidak kalah penting adalah dengan menjadi teladanan atau role model bagi diri, keluarga, dan masyarakat. Kesalihan diri sebuah keniscayaan, karena sudah terbentuk selama sebulan penuh dengan amalan positif yang tidak terputus.
Kepekaan sosial juga sudah terbangun dengan kesediaan berbagi rejeki baik zakat, infak, maupun sadekah. Namun demikian, untuk menjadi pemenang sejati, kesalihan diri dan sosial tidaklah cukup. Maka, perlu disempurnakan dengan menjaga ruang publik dengan kesalihan yang sudah dimiliki. Ruang publik memerlukan intervensi dari pemenang sejati dengan kejujurannya, kedisiplinannya, kerja kerasnya, dengan pantang menyerah untuk menuju keadaban.
Itulah mengapa Al-Quran menyebut pentingnya seorang mukmin sejati (QS. Al-Anfal: 4). “Ulaika humul mu’minina haqqan” (Mereka itu tergolong orang mukmin sejati). Mukmin sejati, Muslim sejati dan pemenang sejati, itulah sesungguhnya makna kemenangan hakiki Idulfitri. Pemenang sejati adalah teladan dan konsisten di dalam maupun di luar lapangan. Wallahu’alam. {*}
*) Prof Dr Abdul Chalik, MAg, Guru Besar di UINSA Surabaya, Wakil Ketua Umum MUI Kabupaten Gresik, Jawa Timur.




