SIDOARJO (RadarJatim.id) – Di antara riuh kendaraan dan panasnya aspal jalanan, ada cerita yang jarang terdengar, air mata seorang ibu yang harus meninggalkan bayinya demi mencari nafkah.
Triyulianti, seorang pengemudi ojek online (ojol), menjalani hari-harinya dengan hati yang terbelah, antara tanggung jawab sebagai ibu dan tuntutan ekonomi keluarga.
“Setiap hari saya harus meninggalkan anak saya yang masih umur tiga bulan,” ujar Triyulianti dengan suara bergetar.
Bagi Triyulianti, pilihan menjadi ojol bukan sekadar pekerjaan, melainkan jalan bertahan hidup. Dengan kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan dan empat anak yang masih kecil, ia tak punya banyak opsi selain turun ke jalan.
Kisah serupa juga datang dari Novi, pengemudi taksi yang menyusuri jalanan kota sejak subuh hingga larut malam. Demi masa depan anak semata wayangnya, ia rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan keselamatan.
“Apa pun akan saya lakukan untuk anak saya,” tegas Novi.
Triyulianti dan Novi hanyalah dua dari jutaan perempuan Indonesia yang memanggul beban ekonomi keluarga. Mereka tak hanya menjadi ibu, tetapi juga tulang punggung keluarga, menopang penghasilan suami yang tak menentu, bahkan menghidupi orang tua dan saudara.
Di tengah kerasnya perjuangan itu, hadir PT Permodalan Nasional Madani (PNM) yang membuka jalan bagi perempuan prasejahtera untuk bangkit.
Melalui program unggulannya, PNM Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera), PNM tidak sekadar memberikan pinjaman modal, tetapi juga membangun kemandirian.
Program ini menawarkan pembiayaan tanpa agunan, pendampingan usaha secara rutin, serta pelatihan literasi keuangan dan kewirausahaan. Nasabah juga dibina dalam kelompok kecil dengan sistem tanggung renteng yang menumbuhkan solidaritas dan disiplin.
Direktur Utama PNM, Arief Mulyadi, menegaskan bahwa keberadaan PNM merupakan bagian dari mandat negara untuk memberdayakan masyarakat prasejahtera.
“Selama 26 tahun PNM diberikan mandat oleh negara untuk menciptakan dampak sosial dan ekonomi kepada masyarakat Indonesia, khususnya prasejahtera,” ujar Arief, Kamis (26/3).
Ia menyebut, PNM telah menjadi jalan baru bagi jutaan perempuan Indonesia untuk berdaya dan mandiri secara ekonomi.
Hal senada disampaikan EVP Pengembangan dan Jasa Manajemen PNM, Razaq Manan Ahmad. Menurutnya, perempuan memiliki peran kunci dalam pembangunan berkelanjutan.
“Stronger the women, stronger the nation. Perempuan merupakan motor penggerak utama dalam menciptakan kemajuan ekonomi dan sosial,” katanya.
Razaq menambahkan, program Mekaar tidak hanya memberikan akses modal, tetapi juga membekali perempuan dengan pengetahuan dan keterampilan agar mampu berkembang secara berkelanjutan.
“Kami bekali nasabah dengan pendampingan usaha dan pemberdayaan agar mereka mampu maju lebih terarah dan memberi dampak yang lebih besar bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar,” jelasnya.
Dalam implementasinya, sebagian besar pembiayaan PNM telah berbasis syariah, dengan skema tanpa bunga yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.
Hingga Februari 2026, PNM telah melayani 22,9 juta nasabah perempuan ultra mikro dan menjangkau lebih dari 60.250 desa/kelurahan di seluruh Indonesia.
Capaian tersebut menjadikan PNM sebagai salah satu lembaga pemberdayaan perempuan terbesar di dunia.
Di balik angka-angka itu, ada harapan yang terus tumbuh, harapan dari perempuan seperti Triyulianti dan Novi, yang tak pernah menyerah demi masa depan anak-anak mereka. (RJ/Red)







