Oleh: Ahmad Suprayogi
Sudah menjadi kebiasaanku setiap pulang kampung halaman, baik mudik lebaran maupun hari biasa saat-saat bersilaturrahmi dengan orang tua dan saudara, setiap pagi hari selalu aku sempatkan untuk ‘Ndlamak’ alias jalan-jalan pagi hari tanpa alas kaki di tengah sawah.
Sungguh sangat luar biasa menariknya, menyenangkan dan menyegarkan, suasana pagi hari embun masih menutupi awan melupakan penatnya pekerjaan di tengah kota yang panas menyengat, ditambah lagi bernafas dengan knalpot kendaraan yang memadati jalan raya.
Lagi asyik menikmati embun pagi yang sudah mulai pudar terkena sinar matahari yang sudah mulai menarangi bumi. Dari kejauhan terlihat remang-remang ada sosok tua yang lagi berjalan dengan santainya. Setelah mendaket tiba-tiba ‘Lagi jalan-jalan to mas mad’ sapanya.
Aku tercengang, ternyata sosok Mbah Man yang aku kenal seorang pejalan kaki sekitar 40 tahun lalu, dan tidak pernah berjumpa sama sekali. Suparman atau yang akrab dipanggil Mbah Man kini usianya sudah 97 tahun namun tidak mengalami penuaan di panca indranya. Hanya sosok tubuh dan kulitnya yang terlihat mengami keriput penuaan.
Buktinya, Mbah Man kelahiran Tambaksari Surabaya 1 Januari 1927 ini tidak mengalami Demensia (penurunan fungsi koknitif otak, penurunan daya ingat) alias pikun , pandangan matanya masih jelas dan tidak berkacamata, ingatannya juga masih tajam.
Jauh sebelum aku hijrah ke Surabaya 1 Agustus 1987 lalu, Mbah Man ini sudah terbiasa bejalan kaki saat berangkat bekerja maupun pulang kerja, yang lokasinya sekitar 8 km dari rumahnya di Dusun Gilang, Kec. Gampengrejo, Kediri.
“Aku mlaku pas budhal lan mulih kerja sekitar 25 tahunan,” ungkap Mbah Man saat ngobrol tombo kangen, pada (25/3/2026) pagi di Pos Jaga warga Dusun Gilang.
Menariknya, Mbah Man ini tidak pernah mau diboceng kendaraan oleh siapa saja, baik itu teman, saudara maupun tetangga-tetangga yang kebetulan bertemu di jalan. Ia dengan santai dan penuh keikhlasan jalan kaki sendirian.
Kenapa Mbah tidak mau diboceng, celetukku ? Pernah sekali dibaceng teman, tiba-tiba ditabrak kendaraan lain, dengan reflek aku melompat dan alhamduillah aman tidak menjadi kurban. “Namun temanku yang membonceng justru mengalami cedera. Sejak kejadian itu aku tidak mau lagi dibonceng, dari pada menyusahkan orang,” kenangnya.
Ketika ditanya resep kesehatannya, dengan entheng Mbah Man mengungkapkan kalau tiap pagi hari sebelum beraktivitas minum air hangat satu gelas dicampur garam sedikit. “Dah itu saja resepnya,” ungkapnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa istrinya yang kini usianya sekitar 72 tahun, namun sudah mengalami pikun dan mulai ‘buyuten’ atau gemetaran.
Dengan usianya yang sudah hampir satu abad ini, Mbah Man setiap pagi juga masih beraktivitas berjalan kaki keliling desa, bahkan sampai ke desa-desa tetangga juga masih dilakoni dengan jalan kaki.
Sementara itu, menurut tokoh ‘Lelaku Ndlamak’ Mbah Prayit asal Sidoarjo mengungkapkan sejak menjalankan lelaku ndlamak (jalan tanpa alas kaki), akan meninggalkan ketergantungan obat apapun secara bertahap, dan juga kebiasaan ketergantungan terhadap pijat, ‘karok an’ maupun yang rutin lainnya.
Semua akan tergantikan dengan ‘Lelaku Ndlamak’ yang rutin sesuai dengan apa yang telah diajarkan. Termasuk lamanya waktu ndlamak (durasi) dan speed (kecepatan), namun jangan dipaksakan karena itu akan dengan sendirinya tanpa kita sadari (cepet-cepet dewe, banter-banter dewe) juga tanpa sadar waktunya bisa lebih lama.
Dan itu adalah sebuah isyarat bahwa proses regenerasi sel sudah mulai, dan sedang beraktivasi dalam tubuh kita, tanda yang lain adalah cepatnya panjang rambut kita dan juga kuku kita.
Perlu disadari bahwa energi bumi yang kita serap ini bukan hanya memperbaiki (merestorasi) organ tubuh kita yang kurang berfungsi saja. Tetapi juga menata hati kita, memperbaiki cara berpikir kita meng erosi pikiran-pikiran negatip kita, dan yang lebih ajaib, jiwa kita menjadi bangkit untuk lebih bersemangat, menjadi jiwa-jiwa yang diperbarui meninggalkan jiwa-jiwa lama yang menunggu tua, menuju sakit dan wassalam dunia.
Rubahlah cara berpikir yang menjebak seperti itu, karena beradaban itu ibarat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menuju jurang.
“Memang merubah konstruksi berpikir (mindset) tidaklah mudah .. itu bagi mereka yang sama sekali tidak menjalankan laku ndlamak, di rumus kita tua tidak harus renta, sepuh tidak harus rapuh, dan matinya nanti dalam keadaan sehat,” terang Mbah Prayik Ketua Komuintas Ndlamak.*
*) Praktisi Jurnalis asal Sidoarjo







