KEDIRI (RadarJatim) — Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) tingkat SMP di Kabupaten Kediri mulai berlangsung sejak Senin (6/4/2026). Di balik kelancaran teknis pelaksanaan, Dinas Pendidikan justru menyoroti persoalan mendasar yang kembali mencuat, yakni kemampuan literasi siswa dan pemerataan akses perangkat pendukung ujian berbasis digital.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Moh. Muhsin, mengungkapkan, secara umum, pelaksanaan TKA sesi awal ini berjalan lancar. Infrastruktur, seperti listrik dan jaringan internet terpantau stabil di sejumlah sekolah.
Namun, ia menegaskan, bahwa TKA bukan sekadar agenda evaluasi rutin, melainkan instrumen penting untuk memetakan kemampuan riil siswa, terutama dalam aspek literasi dan numerasi yang selama ini dinilai masih menjadi pekerjaan rumah.
“TKA ini untuk menghimpun data kemampuan anak. Dari situ nanti kita bisa melakukan evaluasi layanan pendidikan ke depan,” ujar Muhsin.
Ia juga menekankan, bahwa hasil TKA tidak menentukan kelulusan siswa. Keputusan kelulusan tetap berada di tangan satuan pendidikan melalui kepala sekolah dan dewan guru. Meski begitu, hasil tes berpotensi menjadi salah satu pertimbangan dalam seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya.
Di sisi lain, pelaksanaan TKA membuka fakta bahwa tidak semua sekolah memiliki kesiapan perangkat yang merata. Karena itu, Disdik memberikan fleksibilitas pengaturan jadwal hingga tiga sesi per hari selama periode 6–16 April 2026.
“Sekolah bisa menyesuaikan dengan jumlah perangkat. Tidak harus meminjam, bisa diatur pembagian sesi agar semua siswa tetap terlayani,” terangnya.
Sementara itu, Kepala SMP Negeri 3 Wates, Widyanti Nugraheni, mengungkapkan, bahwa tantangan terbesar dalam pelaksanaan TKA justru bukan pada aspek teknis, melainkan kemampuan membaca siswa. Menurut dia, model soal TKA yang menekankan literasi dan numerasi dengan bacaan panjang menjadi tantangan baru bagi siswa yang belum terbiasa membaca secara mendalam.
“Kerumitannya bukan di soal, tapi di kebiasaan membaca. Karena sekarang banyak soal dengan teks panjang, itu yang jadi tantangan,” ujarnya.
Meski demikian, ia menilai tingkat kesulitan soal secara umum lebih ringan dibandingkan model ujian nasional (UN) sebelumnya yang cenderung menuntut hafalan dan latihan intensif. Di sekolahnya, pelaksanaan TKA berlangsung selama empat hari dengan tiga sesi per hari.
Dari total siswa kelas IX, sebanyak 140 siswa mengikuti ujian. Namun, terdapat tiga siswa yang memilih tidak ikut dengan alasan pribadi, termasuk rencana melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren. Fenomena ini, menurut Widyanti, juga menunjukkan bahwa TKA belum sepenuhnya dipandang sebagai kebutuhan oleh semua pihak, mengingat sifatnya yang tidak wajib.
“Kami sudah mencoba persuasi, tapi karena tidak wajib, keputusan tetap di orang tua,” katanya.
Pelaksanaan TKA di Kabupaten Kediri pun menjadi cerminan tantangan pendidikan saat ini: di satu sisi transformasi menuju asesmen berbasis kompetensi terus berjalan, namun di sisi lain kesiapan literasi siswa dan pemerataan fasilitas masih menjadi isu yang perlu segera diatasi. (rul)







