SIDOARJO (RadarJatim.id) — Guru dari Jepang, Takeya Sachiko (Sachiko-sensei), pada (7/4/2026) kembali mengunjungi SMP PGRI 1 Buduran, karena setahun lalu pernah berkunjung ke sekolah ini. Kali ini berkunjung lagi dengan mengenakan seragam batik khas SMP PGRI 1 Buduran juga berlatih Karawitan.
Kehadiran Sachiko-sensei diterima oleh Kepala SMP PGRI 1 Buduran, Indrajayanti Ratnaningsih, S.Si, M.Pd; Wakil Kepala Sekolah, Dra. Hj. Eva Wahyuda, M.Pd; Staf Urusan Kurikulum, Dra. Lasmi; guru bahasa Jepang, Dedy Aristyanto, SS; dan Kaur Humas, Drs. Koesmoko.
Indrajayanti Ratnaningsih mengatakan, pihaknya menyambut baik atas kunjungan Takeya Sachiko di sekolahnya. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi-komunikasi, kemitraan, dan persaudaraan semakin terjalin dengan baik. “Semoga ke depannya bisa meningkatkan kerja sama yang lebih intensif untuk pembelajaran murid. Apalagi di sekolah terdapat pembelajaran bahasa asing, di antaranya Bahasa Jepang,” jelasnya.
Untuk kunjungan kali ini memang tidak dilakukan penyambutan secara khusus. Sachiko-sensie memasuki area sekolah dengan didampingi oleh guru bahasa Jepang, Dedy Aristyanto, SS. Selanjutnya, dengan didampingi Kaur Humas, Drs. Koesmoko berjalan-jalan keliling melihat kegiatan para murid. Di antarannya: latihan upacara bendera dan latihan karawitan.
Ketertarikan Sachiko-sensei berlanjut. Jika setahun yang lalu pernah ikut belajar menabuh Gamelan Karawitan dan berlatih Tari Remo, kini dia minta diajari bagaimana caranya menabuh Kendang. Sontak, guru karawitan, Maulana Arya Raditya segera mempersilakannya untuk ikut berlatih menabuh Kendang.
Dengan telaten Pak Arya-begitu panggilan akrabnya di sekolah, mengajari Sachiko-sensei berlatih memainkan kendang. Bahkan, ada dua jenis kendang yang dikenalkan sekaligus untuk berlatih, yaitu kendang Jawa Timuran dan kendang Jawa Tengahan.
Akhirnya guru dari Negeri Dewa Matahari itu pun bisa manabuh kendang, bahkan ikut larut dalam permainan karawitan bersama para murid KKSB.
Keakraban makin terasa ketika Koesmoko, guru Bahasa Jawa SMP PGRI 1 Buduran menyampaikan berbagai kesamaan Jepang dengan Indonesia. Di antaranya di Jawa Timur ada nama tempat: Japanan (mirip dengan Japan). Demikian juga nama-nama orang dan tempat yang menunjukkan kesamaan bunyi (homonim) dengan nama makanan dan barang, meskipun maknanya berbeda: Susi, Moko, Sumi, Tomo, dll.
Yang membuat Sachiko-sensei lebih tertarik, saat diberitahu bahwa di Jawa juga mengenal Dewa Matahari sebagaimana di Jepang. Jika bangsa Jepang yakin atau percaya bahwa ada Dewa Matahari, sedangkan dalam mitologi wayang purwa Jawa dikenal Sang Hyang Bathara Surya, seorang dewa yang bertugas mengendalilkan perjalanan matahari.
Takeya Sachiko dijamu dengan berbagai makanan tradisional Jawa, oleh Wakil Kepala SMP PGRI 1 Buduran, Dra. Hj. Eva Wahyuda, M.Pd yang juga guru Tata Boga ini, mengenalkan satu persatu makanan tradisional yang tersajikan.
Sachiko-sensei pun begitu senang untuk mencicipinya. Bahkan, sempat makan beberapa jenis makanan tersebut. Ketika dipersilakan untuk tambah lagi, dua menjawab,“Terima kasih, matur nuwun, kula sampun wareg,”katanya berbahasa campuran Indonesia-Jawa.(mad)







