SIDOARJO (RadarJatim.id) — Upaya meningkatkan kualitas pendidikan di tingkat sekolah dasar dan madrasah, INOVASI (Inovasi untuk Sekolah Anak Indonesia) telah menggelar ‘Workshop Persiapan Pengembangan Materi untuk Peningkatan Kecakapan Dasar yang Berkelanjutan Berdasarkan Praktik Nyata di Sekolah/Madrasah’.
Kegiatan ini dilaksanakan pada (7/4/2026) di Hotel Aston Sidoarjo, adalah untuk membekali para kepala sekolah dan pengawas dengan materi pendampingan guru yang lebih praktis dan relevan. Juga berfokus pada pemetaan kebutuhan riil di lapangan, guna memastikan bahwa kebijakan pendidikan tidak hanya indah di atas kertas, tetapi juga mudah diimplementasikan.
Perwakilan dari INOVASI Jakarta Khoirul Anam selaku Education Leadership Specialist menjelaskan bahwa selama dua hari kegiatan ini, pihaknya mengundang kepala sekolah dan pengawas untuk memvalidasi materi yang telah disusun. Tujuannya adalah agar materi penguatan tersebut bersifat konkret, sederhana, dan terjangkau bagi sekolah.
“Kami ingin materi yang disiapkan bukan sekadar dokumen yang bagus, tapi sulit dilaksanakan. Fokus kita adalah pada kebutuhan nyata dan kondisi unik di masing-masing sekolah,” ujar Khoirul dalam sesi wawancara.
Menurutnya, ada tiga komponen utama peningkatan mutu
dalam kegiatan ini, terdapat tiga instrumen utama yang diperkenalkan dan diuji coba kepada para peserta, yaitu LMS (Learning Management System). Platform digital untuk meningkatkan kompetensi kepala sekolah secara mandiri.
Berikutnya kedua, Panduan Proses, yaitu sebuah modul agar peningkatan mutu terjadi secara berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan sekali jalan (hit and run). “Dan ketiganya adalah kerangka peningkatan mutu sekolah. Alat refleksinya yang mencakup empat domain utama, yaitu domain pembelajaran, domain pengajaran, domain kepemimpinan dan domain iklim sekolah,” jelas Pak Anam_sapaan akrabnya.
Lanjut Pak Anam, jadi sangat mengedepankan konteks lokal,
salah satu poin penting yang ditekankan dalam diskusi ini adalah keberagaman konteks antarwilayah. Pengalaman kepala sekolah di Nusa Tenggara Barat (NTB) tentu berbeda dengan di Jawa Barat atau Jawa Timur.
Oleh karena itu, masukan dari para praktisi sangat diperlukan untuk menyempurnakan strategi refleksi yang efektif.
“Kita tidak bisa membuat satu kebijakan yang dipukul rata untuk semua. Lokalitas memiliki peran penting dalam mengadaptasi kebijakan pusat, termasuk dalam strategi penguatan kemampuan kepala sekolah,” tegasnya.
Kegiatan ini juga mengajak para pendidik untuk mengubah sudut pandang dalam melihat peningkatan mutu. Seringkali, mutu sekolah dianggap sebagai beban administratif yang berat. Melalui INOVASI ini, diharapkan sekolah dapat memulai peningkatan mutu dari hal-hal sederhana yang sudah biasa dilakukan, seperti menajamkan substansi rapat sekolah agar lebih fokus pada mutu, bukan sekadar administrasi.
“Dengan adanya masukan langsung dari para kepala sekolah dan pengawas, diharapkan panduan yang dihasilkan nantinya dapat menginspirasi sekolah-sekolah di seluruh Indonesia untuk bertransformasi ke arah yang lebih baik,” harap Pak Anam.
Salah satu peserta, Kepala SD Negeri 2 Batunyala, Kec. Praya Tengah, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat Ni Ketut Mayoni, S.Pd SD M.Pd menjelaskan, fokus utama dari kegiatan ini adalah membahas item-item penting yang berkaitan dengan kebutuhan dan kemanfaatan bagi kepala sekolah dalam memimpin institusinya.
Ni Ketut Mayoni menjelaskan beberapa poin penting yang dipelajari selama workshop dua hari tersebut, di antaranya, identifikasi kondisi sekolah, yaitu kepala sekolah diajarkan cara mengidentifikasi kondisi riil, dan potensi yang dimiliki sekolah mereka.
Ada pembelajaran mandiri melalui LMS, adanya materi yang disediakan melalui Learning Management System (LMS) untuk mendukung belajar mandiri. Juga tentang solusi masalah, yaitu mencari solusi atas berbagai permasalahan yang ada di sekolah.
Terakhir tentang siklus perubahan, jadi pelatihan ini menekankan pada perubahan yang dilakukan secara bertahap melalui sebuah siklus yang terdiri dari identifikasi, refleksi, dan perencanaan.

“Jika hasil belum berkembang, proses akan kembali ke siklus awal hingga perubahan terwujud,” terang Ni Ketut Mayoni.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat, karena materi yang diberikan sangat sederhana namun memiliki dampak yang luar biasa bagi pengembangan sekolah,” pungkasnya.
Pesertanya selain Tim INOVASI, hadir pula perwakilan dari Dinas Pendidikan Bima, Pengawas Sekolah dari Lombok Tengah, Kepala Sekolah dan Pokjawas. Juga Perwakilan dari Dinas Pendidikan Jember, Pengawas, dari Dinas Pendidikan Lumajang, Pengawas dan Kepala Sekolah, dari Sumedang Pengawas dan Kepala Sekolah.
Di lokasi yang sama di ruang terpisah, juga Tim INOVASI juga melakukan Lokakarya Finalisasi LMS Modul Numerasi dan Pengembangan Assesment Diagnostic Tool. (mad)







