SURABAYA (RadarJatim.id) — Kabar duka menyelimuti dunia pendidikan dan sastra Indonesia. Sastrawan Budi Darma meninggal dunia dalam perawatan di rumah sakit di Surabaya, Sabtu (21/8/2021) pagi, sekitar pukul 06.00 WIB.
Kabar duka ini menyebar dengan cepat di beberapa grup WA keluarga besar Unesa sejak Sabtu pagi. Di antaranya grup IKA Unesa Pusat, UNESA/Edu&Entrep Circle, juga sejumlah grup WA di tingkat fakultas dan jurusan/program studi.
“Pagi ini mendapatkan kabar dari Bu Diana Budi Darma. Bapak kita tercinta, Prof. Budi Darma, berpulang ke rahmatullah pada pukul 06.00. Rasa duka yang sangat mendalam. Semoga Allah memberikan tempat yang terbaik untuk beliau. Semoga almarhum husnul khotimah. Aamiin..,” tulis pesan duka di grup WA: UNESA/Edu&Entrep Circle.
Kontan, kabar duka itu dengan cepat menyebar dan susul-menyusul, termasuk ke beberapa grup jurnalis di Surabaya. Ucapan bela sungkawa pun praktis menyita ruang-ruang chat di sejumlah grup media sosial (medsos) itu.
Dalam sebulan terakhir, perkembangan kesehatan sastrawan berhati lembut, Prof Budi Darma, MA, PhD memang mendapat perhatian keluarga besar Unesa. Sebab, mantan rektor Unesa (ketika masih bernama IKIP Surabaya) ini lagi mendapat perawatan intensif di salah satu rumah sakit di Surabaya bersama beberapa anggota keluarganya.
Seminggu terakhir sempat ada informasi, bahwa perkembangan kesehatannya membaik. Namun, setelah beberapa hari tidak ada kabar, Sabtu (21/8/2021) pagi berita duka tentang meninggalnya sastrawan dengan segudang prestasi ini, datang dari keluarganya. Innalillahi wainna ilaihi roji’un.
Informasi yang dihimpun RadarJatim.id menyebutkan, pria kelalahiran Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937 ini akhir Juli lalu dirawat di salah satu rumah sakit di Surabaya karena terpapar Covid-19 bersama istri dan anggota keluarga lainnya.
Sosok Budi Darma bukan hanya dikenal sebagai sastrawan dengan prestasi mendunia, tapi juga pendidik yang ramah, rendah hati, dan mengayomi kepada anak didiknya. Ia menjadi Guru Besar Unesa (Universitas Negeri Surabaya) dan pernah menjadi rektor saat Unesa masih bernama IKIP Surabaya periode 1984-1988.
Wafatnya Budi Darma adalah kehilangan yang besar bagi dunia satra nasional juga sastra internasional. Novel pertamanya dan cukup fenomenal adalah Olenka, novel yang telah banyak mendapat perhatian dan telah mengantarkannya ke berbagai penghargaan tingkat internasional.
Kemudian disusul Rafilus, novel keduanya. Novel ini mulai ditulisnya ketika dia mendapat undangan untuk mengunjungi Inggris pada tahun 1985. Kumpulan cerita pendek (cerpen) Orang-Orang Bloomington ditulis pada saat dia berada di Bloomington, Amerika Serikat.
Dalam bukunya, Modern Indonesian Literatur jilid ke-2, Prof Dr A. Teeuw mengupas karya-karya Budi Darma dalam bab tersendiri. Sementara sebuah cerpen Budi Darma yang dimuat dalam majalah sastra Horison, Sang Anak, oleh Satyagaraha Hoerip dimasukkan ke dalam antologi Cerita Pendek Indonesia jilid ke-3, terbitan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1980.
Tulisannya juga pernah diterbitkan di beberapa majalah. Di antaranya, Horison (Jakarta), Basis (Yogyakarta), Gema (Yogyakarta), Indonesia (Jakarta), Roman (Jakarta), juga Gelora (Surabaya).
Selain itu, pria berpenampilan kalem dan sederhana ini pernah mengisi siaran sastra dan budaya di RRI (Semarang, Yogyakarta, Surabaya) dan TVRI (Surabaya).
Budi Darma juga dinyatakan sebagai warga Surabaya berprestasi di bidang kesastraan selama dua kali berturut-turut pada tahun 1987 dan 1988 oleh Walikota Surabaya semasa dijabat Purnomo Kasidi. Tahun 2004, dia mendapatkan penghargaan warga berprestasi seni oleh gubernur Jawa Timur.
Novelnya, Olenka (1983), mendapat Hadiah Pertama Sayembara Mengarang Roman DKJ 1980 dan sekaligus memperoleh Hadiah Sastra DKJ 1983. Tahun 1984 dia menerima Hadiah Sastra ASEAN.
Selain itu, penghargaan yang pernah diterimanya, di antaranya Penghargaan Sastra Dewan Kesenian Jakarta, SEA Write Award, dan Anugerah Seni Pemerintah RI.
Sebagai akademisi, ia kerap diundang untuk berceramah pada seminar-seminar, mengajar, menguji calon sarjana atau doktor sastra, baik dalam negeri maupun luar negeri. Ia juga sering diundang untuk melakukan penelitian, khususnya mengenai sastra Inggris atau Amerika.
Selain itu, ia tercatat sebagai Chief Editor Modern Literature of ASEAN terbitan COCI (Committee on Cultural Information) ASEAN, 2000. Buku ini membahas sastra di tujuh negara ASEAN, yakni Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam. (har/diolah dari berbagai sumber)







